Mahasiswa Se-Indonesia Bergerak, Sorot Kejahatan Demokrasi dan Konstitusi

Reski: Kesadaran Kami Sebagai Mahasiswa Indonesia

0 79

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA: Sejumlah Mahasiswa di Samarinda yang mengatasnamakan diri sebagai Himpunan Mahasiswa Indonesia menggelar aksi bagi-bagi selebaran, yang menyoroti pelanggaran HAM Prabowo dan buruknya politik dinasti.

“Hari ini, Kamis 11 Januari 2024. Serentak pada Pukul 11:00 WIB, 899 Kampus di 35 Provinsi dengan melibatkan tidak kurang dari 14.000 Mahasiswa, sedang bergerak melakukan aksi-aksi informasi dengan membagikan 4 juta selebaran di depan Kampus masing-masing, untuk menyadarkan rakyat akan pelanggaran HAM Prabowo dan buruknya politik dinasti,” jelas Koordinator Aksi Reski Dhemas dalam rilisnya yang diterima DETAKKaltim.Com, Kamis (11/1/2024) Pukul 19:07 Wita.

Menurutnya, kondisi HAM sepanjang periode Jokowi Widodo menjadi cukup suram karena kebebasan sipil menyusut, budaya kekerasan impunitas terutama Papua-Papua Barat, dan keputusan dalam membentuk tim penyelesaian kasus HAM pelanggaran HAM masa lalu, hingga pengesahan KUHP yang bukan hanya membuktikan negara tidak serius melindungi HAM di dalam negeri, tapi juga mencoreng wajah Indonesia di mata dunia dalam bidang pemajuan dan penghormatan HAM.

“Komnas HAM melaporkan, ada 3.091 pengaduan dari masyarakat terkait dugaan pelanggaran HAM pada 2022. Jumlah itu meningkat 13,26% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 2.729 pengaduan,” jelas Reski.

Dari data- data tersebut, lanjutnya, dapat diartikan bahwa setiap tahunnya pelanggaran HAM terus meningkat. Perlu adanya keselerasan penegak hukum dan ketegasan setiap instansi pemerintah, untuk tegas terhadap penuntasan pelanggaran HAM di Indonesia, bagi pelanggaran HAM ringan ataupun pelanggaran HAM berat.

Selain itu, masih kata Reski, keinginan Presiden Jokowi Widodo untuk membangun dinasti politik sangat kuat. Hal ini didasari dengan diawali pelanggaran Putusan MK, yang memberikan tiket emas melalui Anwar Usman sang paman kepada Gibran Rakabuming Raka. Yang kemudian sangat mengkhianati sistem dari pada demokrasi di Indonesia, dan mengkhianati amanat reformasi Indonesia.

“Hal ini selaras dengan ambisi Prabowo yang kemudian masih berkeinginan kuat untuk menjadi Presiden Republik Indonesia, ambisi si pelanggar HAM ini akan menjadi pengkhianatan terhadap sistem demokrasi dan reformasi di Indonesia,” tegas Reski.

Baca Juga:

Kedua ambisi ini, lanjutnya, tentu dapat dinilai oleh rakyat Indonesia. Bahwa semua hal ini menjadikan cacat terhadap moral, cacat terhadap hukum, dan cacat terhadap politik di Indonesia.

“Kesadaran kami sebagai Mahasiswa Indonesia untuk menyatukan gerakan perlawanan terhadap semua bentuk pengkhianatan terhadap rakyat, kolaborasi pelanggar HAM dan anak haram konstitusi ini membuat kami geram dan muak, sehingga tekad kami untuk melawan tidak akan pernah padam dan semakin berlipat ganda,” tegas  Reski Dhemas.

 

Menurutnya, semua upaya membunuh demokrasi, menghapus sejarah, ketamakan pada kekuasaan pasti akan berbuah perlawanan panjang.

“Baiknya Presiden Jokowi kembali membuka sejarah, bahwa perlawanan tak pernah berhenti. Walau hasil Pemilu 1997 Soeharto dilantik, akan tetapi pada bulan Mei 1998 atau 71 hari kemudian ia ditumbangkan oleh Gerakan Mahasiswa,” kata Reski.

Aksi-aksi dari Mahasiswa akan terus berjalan, lanjutnya, dengan gerakan moral yang akan semakin solid dan terorganisir. Sejalan dengan buruknya proses demokrasi dan ambisi Presiden Jokowi membangun politik dinasti, serta mencegah penghapusan sejarah pelanggaran HAM di Indonesia yang dilakukan Prabowo. (DETAKKaltim.Com)

Sumber: Rilis

Editor:  Lukman

(Visited 71 times, 1 visits today)
Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!