Kadispar Kutim Minta Lestarikan Budaya Bengen Lepek Majeu

Nurullah: Harus Rutin Dilaksanakan

0 790

DETAKKaltim.Com, SANGATTA: Tradisi gotong royong benar-benar menjadi ciri khas masyarakat Suku Dayak Kenyah yang menetap di Dusun Budaya Rindang Benua, Km 10 Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Desa yang didominasi oleh Suku Dayak Kenyah ini, memiliki banyak perayaan yang jarang ditemui di daerah lain. Tidak hanya perayaan U’o Ajau yang kurang lebih mirip dengan perayaan Mecaq Undat, yang artinya perayaan panen, di Dusun ini juga selalu mengajak masyarakat lintas etnis yang tergabung dalam Lembaga Adat Besar Kutai untuk melakukan ritual Alak Tau.

Alak Tau yang berasal dari bahasa Suku Dayak Kenyah memiliki arti penentuan hari baik, untuk seluruh masyarakat agar tanaman padi dan tanaman lainya jadi subur serta terhindar dari segala macam hama.

Malah, baru saja Desa ini kembali menggelar perayaan pesta budaya Bengen Lepek Majeu atau pesta panen, yang dihadiri Pemerintah Kutim pada 27 Mei 2023 lalu.

Kepala Dinas Pariwisata Kutim Nurullah menyampaikan, segala macam upacara adat harus dilestarikan. Terlebih biasanya, setiap suku memiliki upacara yang berbeda-beda.

“Mereka selalu melaksanakan upacara yang menjadi peninggalan nenek moyang. Maka itu harus rutin dilaksanakan, supaya terjaga kelestariannya,” jelas Nurullah, Sabtu (27/5/2023).

Biasanya, upacara kerap dipimpin oleh kepala adat untuk melakukan prosesi ritual. Dari mulutnya,  sesekali terdengar membacakan mantra ritual.

“Ritual Alak Tau biasanya digelar agar tanaman padi subur dan jauh dari hama,” tutur Nurullah.

Tidak hanya membacakan mantra itu, biasanya kepala adatpun sembari menancapkan sebatang kayu yang telah runcing ke dalam tanah, tujuannya untuk membuat lubang bibit tanaman. Biasanya, hasil panen ini nantinya akan disimpan di lumbung adat untuk keperluan sosial dan ibadah masyarakat Dayak Rindang Benua.

“Ya hasilnya akan digunakan oleh seluruh masyarakat di situ,” ungkapnya.

Nurullah berharap agar masyarakat adat tetap menjaga kelestarian budaya, agar tidak hilang dimasa depan. Bahkan acara adat ini tetap menjadi identitas bagi suku masing-masing. (DETAKKaltim.Com)

Penulis: HB/Adv.Diskominfo Kutim

Editor: Lukman

(Visited 68 times, 1 visits today)
Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!