Gelar Bimtek, Anggota DPR RI Hadirkan Pelaku Usaha Wisata dan Ekraft

Hetifah : Harus Dilakukan dengan Cepat

0 336
DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Pada hari Kamis, tanggal 22 Oktober 2020, telah diadakan acara “Bimbingan Teknis Pengenalan dan Promosi Wisata Minat Khusus Dengan Penerapan Protokol CHSE (Cleanlines, Health, Safety, and Environmental Sustainability) pada Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” di Hotel Mercure, Kota Samarinda.

Acara ini mengundang berbagai pelaku sektor wisata dan ekonomi kreatif di Kota Samarinda. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Komisi X DPR-RI dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Pandemi Covid-19 memukul keras sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Sektor ini merupakan sektor paling terdampak, padahal 80 persen dari sektor ini terdiri dari UMKM. Dengan adanya tatanan normal baru, diharapkan sektor ini dapat segera mempersiapkan diri untuk bangkit. Salah satu hal penting yang harus diterapkan dan dipromosikan oleh para pelaku wisata adalah protokol CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability).

Dengan memperhatikan aspek kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keberlanjutan lingkungan, maka sektor pariwisata dapat meminimalisir risiko serta membangun kembali rasa kepercayaan masyarakat untuk kembali berpergian. Untuk menarik minat wisatawan, penerapan protokol CHSE juga penting sebagai bagian dari promosi wisata. Acara Bimtek ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa para pelaku usaha siap mengimplementasikan protokol CHSE.

Acara mengundang pengambil kebijakan di level pusat maupun daerah untuk berdialog bersama dengan para pelaku sektor wisata dan ekonomi kreatif. Pembicara pertama adalah Hetifah Sjaifudian sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR-RI. Pembicara kedua adalah Sri Wahyuni, Kepala Dinas Provinsi Kalimantan Timur. Pembicara ketiga adalah Masrullah, Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Samarinda. Hadir pula Fehmiu Oktavino, Analis Kebijakan Ahli Muda, sebagai perwakilan dari Kemenparkeraf dan Praktisi Pariwisata Tendi Nuralam.

Para pembicara memberikan informasi terkait tantangan-tantangan dunia pariwisata, serta langkah-langkah dan program yang sudah dikembangkan demi memulihkan sektor ini.

Hetifah menyampaikan bahwa meskipun anggaran Kemenparekraf dipotong untuk penanganan Covid-19, sekarang pariwisata menjadi prioritas sektor untuk pemulihan ekonomi nasional. Terkait tantangan yang dihadapi saat ini, Hetifah berkata “Kita tidak bisa diam merenung, tugas kami dan pemerintah adalah mencari strategi-strategi jitu.” Program-program bantuan sosial sampai dengan dana hibah telah dan akan dilakukan. Fokus saat ini adalah mempersiapkan destinasi.

Dalam waktu dekat 3,3 Triliun dana hibah multi tahun juga akan digelontorkan untuk pemulihan pariwisata di seluruh Indonesia. Hetifah juga menekankan pentingnya partisipasi pelaku industri dalam berbagai macam proses kebijakan.

“Kebijakan dan tindakan harus dilakukan dengan cepat. Bila pelaksanaan belum sempurna, maka kita bisa memperbaiki bila ada masukan dari pihak-pihak lain,” ujarnya.

Karena itu Hetifah juga memimpin Panja Pemulihan Pariwisata di DPR-RI yang mengumpulkan aspirasi dari berbagai pihak, untuk disampaikan sebagai rekomendasi kepada pemerintah.

Hetifah juga meminta seluruh peserta untuk terus optimis. Meskipun saat ini kita kehilangan pemasukan wisata dari turis asing, ada potensi puluhan milyar dollar yang biasa dikeluarkan pleh wisatawan Indonesia di luar negeri.

“Ini bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan wisata dalam negeri,” imbuhnya.

Sri Wahyuni melengkapi dengan menyampaikan program-program yang juga dilakukan oleh pemerintah provinsi Kaltim, untuk membantu sektor pariwisata. Selain memberikan Bansos dan melakukan survei persepsi, Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim juga melakukan inovasi untuk menawarkan pariwisata secara digital.

Masrullah mewakili Pemerintah Kota Samarinda menambahkan pandangannya, terkait isu dari sudut pandang Kota Samarinda. Memang perlu disayangkan pembatalan berbagai acara pariwisata serta menurunnya wisatawan dari lokal, tetapi ada tren positif yang juga ditemukan. Dalam beberapa bulan, ada tren penciptaan spot-spot wisata lokal baru di Samarinda yang menjadi trending di media sosial. Hal ini tentunya juga membantu ekonomi lokal.

Baca juga : “Jual” Pulau Maratua Lewat Maratua Jazz & Dive Fiesta, Ini Harapan Kementerian Pariwisata

Acara ini dilanjutkan dengan kegiatan pembelajaran interaktif yang dipimpin oleh Tendi Nuralam, yang merupakan trainer professional dan juga pelaku dunia pariwisata yang berasal dari Kalimantan Timur. Kemenparekraf sudah menyusun protokol dan panduan CHSE untuk Pemda dan pengelola destinasi wisata. Aktivitas ini memastikan pemahaman yang baik dari peserta terkait protokol dan pemahaman CHSE sehingga siap untuk mengimplementasi.

Para peserta menyampaikan bahwa acara Bimtek ini telah lama dinantikan. Para pelaku wisata dan ekonomi kreatif yang berpartisipasi merasa lebih percaya diri dalam menjalankan kembali kegiatan wisaranya. Kehadiran para peserta juga menunjukkan kesiapan untuk saling berkolaborasi. Para peserta sangat bersemangat dalam menyampaikan aspirasi dan masukan. Acara ini semakin mengokohkan sinergi antar pihak di sektor pariwisata di Kota Samarinda dan Provinsi Kaltim. (DK.Com)

Penulis : Zk

Editor  : Lukman

(Visited 7 times, 1 visits today)
Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!