Es Serut Slush Puppie bertahan di tengah gempuran produk minuman modern. (foto: Lisa)
DETAKKaltim.Com, SAMARINDA: Ketika deretan minuman kekinian silih berganti merebut perhatian konsumen, sebuah lapak es serut klasik di kawasan Mesra Indah Samarinda memilih bertahan dengan caranya sendiri. Tanpa kemasan modern atau strategi viral, Es Serut Slush Puppie tetap menyala sebagai jejak selera lama yang belum sepenuhnya ditinggalkan.
Di balik lapak sederhana itu, Puji Raharjo menjalani rutinitas yang telah ia tekuni hampir dua dekade. Ia mulai berjualan sejak 2007, meski menurut penuturannya, usaha Es Serut tersebut sudah ada jauh sebelum ia ikut bergabung.
“Waktu saya mulai jualan itu 2007. Tapi lapak ini sebenarnya sudah ada sebelum itu,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (31/1/2026).
Bagi Puji, perubahan paling terasa bukan pada tempat berjualan, melainkan pada wajah pasar itu sendiri. Di akhir 2000-an hingga awal 2010-an, Es Serut menjadi salah satu minuman favorit masyarakat. Lapaknya pernah mengalami masa ramai, ketika pilihan minuman masih terbatas dan tren belum berganti secepat sekarang.
“Dulu bisa dibilang ramai sekali. Sekarang memang sudah jauh berkurang karena tren sudah berubah. Minuman kami kan minuman klasik,” katanya.
Perubahan selera konsumen itu berdampak langsung pada pendapatan. Puji mengungkapkan, pada masa terbaiknya omzet bulanan bisa berada di kisaran Rp16 juta hingga Rp20 juta. Angka tersebut kini sulit dicapai.
“Sekarang kalau bisa dapat Rp12 juta sampai Rp13 juta per bulan itu sudah lumayan,” ungkapnya.
Baca Juga:
- Ditjen Badilag Mahkamah Agung Bekali Peserta Pelatihan Hakim Ekonomi Syariah
- 2025-2026, Program Gratispol Rudy-Seno Dinikmati 21.903 Mahasiswa Baru
- “Pagar Makan Tanaman”, 2 Wanita Curi Puluhan Karung Bawang Milik Keluarga
Menurut Puji, penurunan mulai terasa sejak sekitar 2016, seiring melemahnya kondisi ekonomi dan semakin masifnya produk minuman modern. Pandemi Covid-19 sempat menjadi pukulan tambahan, meski di beberapa momen tertentu justru menghadirkan lonjakan penjualan sementara.
Namun di tengah tekanan itu, pilihan Puji tetap sama: bertahan. Keputusan tersebut, katanya, tidak semata-mata soal hitung-hitungan bisnis.
“Kita jalani saja. Dari bos juga bilang, sambil ibadah. Jadi ya tetap dijalani,” tuturnya.
Kesetiaan pada konsep lama juga tercermin dari produk yang dijual. Es serut Slush Puppie tetap mempertahankan racikan klasik: Es Serut beku dengan sirup, menggunakan gula asli tanpa pemanis buatan. Prinsip itu, menurut Puji, menjadi salah satu alasan mengapa masih ada pelanggan yang setia datang.
“Kalau pakai pemanis buatan, enggak tahan. Orang bisa batuk. Kita dari dulu pakai gula asli,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, penjualan harian berkisar sekitar 30 gelas per hari, sangat bergantung pada cuaca. Saat hujan, jumlah pembeli bisa turun drastis. Sebaliknya, pada momen tertentu seperti libur sekolah atau meningkatnya aktivitas pengunjung, penjualan bisa ikut terangkat.
Hargapun mengalami penyesuaian seiring waktu. Dari Rp2.000–Rp3.000 per gelas di awal 2000-an, kini es serut dijual seharga Rp10.000. Meski demikian, Puji mengaku berhati-hati untuk menaikkan harga lebih tinggi.
“Kalau dinaikkan lagi, yang repot itu saya sendiri. Kasihan pelanggan lama,” ujarnya.
Lapak Es Serut ini juga punya sejarah berpindah-pindah lokasi. Sebelum menetap di Mesra Indah sejak 2009, usaha tersebut sempat membuka cabang di beberapa titik, termasuk di pusat perbelanjaan seperti Lembuswana. Namun biaya sewa yang tinggi membuat cabang-cabang tersebut akhirnya ditutup.
Menariknya, aktivitas Pasar Pagi di sekitar kawasan Mesra Indah belakangan justru memberi efek tambahan. Menurut Puji, arus pengunjung meningkat dan membuka peluang transaksi, meski tidak serta-merta mengubah karakter konsumennya.
“Pengaruhnya pasti ada. Pengunjung jadi lebih banyak, harapan juga ikut ada,” katanya.
Bagi Puji, Es Serut Slush Puppie bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Di tengah perubahan zaman dan persaingan yang kian ketat, ia memilih bertahan dengan pasar yang tidak besar, tetapi setia.
“Kami ini produk klasik. Peminatnya memang tidak banyak, tapi selalu ada.” pungkasnya. (DETAKKaltim.Com)
Penulis: Lisa
Editor: Lukman
