Patung Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno di kawasan RTH Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, Kaltim. (foto: Lisa)
DETAKKaltim.Com, KUTAI KARTANEGARA: Peresmian patung Presiden Pertama Republik Indonesia Ir Soekarno di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, bukan sekadar seremoni simbolik. Di balik peristiwa itu, keluarga Bung Karno mengingatkan monumen ini harus hidup sebagai ruang kesadaran sejarah, bukan berhenti sebagai ornamen kota.
Djarot Saiful Hidayat, perwakilan keluarga Bung Karno menegaskan, patung tersebut harus menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami sejarah bangsa.
“Ini bukan sekadar patung untuk dipandang. Ia harus mengajak orang berpikir, belajar, dan memahami perjuangan Bung Karno,” ujar Djarot usai peresmian, Selasa (27/1/2026).
Ia mengingatkan bahwa Bung Karno bukan hanya tokoh nasional, tetapi figur dunia. Patung Bung Karno berdiri di berbagai negara seperti Aljazair, Jepang, Meksiko, dan Rusia. Nama Soekarno diabadikan dalam taman-taman publik dunia, bahkan di Arab Saudi terdapat pohon yang dikenal sebagai Pohon Sukarno dan hingga kini masih tumbuh subur.
“Setiap 17 Agustus, suara Bung Karno selalu dikumandangkan lewat teks proklamasi. Tapi kalau setelah itu kita lupa sejarahnya, maka makna kemerdekaan juga ikut memudar,” katanya.
Tidak berhenti pada simbol, Djarot juga mengungkapkan rencana agar kawasan patung Bung Karno tidak menjadi ruang mati. Ia menyebut, akan ada inisiatif kegiatan publik bertajuk Sukarno Night di lokasi tersebut.
“Tempat ini jangan hanya ramai saat peresmian. Harus ada ruang hidupnya. Kita dorong nanti ada Sukarno Night, ruang diskusi, ruang ekspresi, ruang budaya, supaya anak-anak muda datang bukan hanya foto-foto, tapi belajar,” ungkapnya.
Patung Bung Karno di Sanga-Sanga disebut sebagai patung Bung Karno tertinggi di luar Pulau Jawa, hanya terpaut sekitar 10 sentimeter dari patung di Bandara Soekarno-Hatta. Namun, bagi Djarot, ukuran bukanlah substansi.
“Yang penting bukan seberapa tinggi patungnya, tapi seberapa dalam maknanya bagi masyarakat,” tegasnya.
Baca Juga:
- Jembatan Mahulu Ditabrak Tongkang, Wakil Ketua DPRD Kaltim Sorot Dampak Ekonomi
- Korban Meninggal Kecelakaan Kapal Dharma Kartika IX Bertambah
- Perkara Tanah PM Noor, Saksi Mantan Camat Diprotes JPU
Di sisi lain, mantan Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah mengungkapkan bahwa pembangunan patung tersebut tidak terjadi secara instan. Prosesnya memakan waktu hampir dua tahun, termasuk memperjuangkan alih fungsi kawasan yang sebelumnya merupakan aset Pertamina agar bisa menjadi ruang terbuka hijau.
“Kami perjuangkan lama agar kawasan ini bisa jadi RTH. Kami juga berkoordinasi dengan keluarga Bung Karno supaya patung ini tidak kehilangan makna,” kata Edi.
Namun ia juga mengakui, patung hanyalah satu langkah awal. Sanga-Sanga memang sudah ditetapkan sebagai zona juang, tetapi status itu menurutnya belum sepenuhnya tercermin dalam arah kebijakan pembangunan daerah.
“Sanga-Sanga disebut zona juang, tapi masih banyak pekerjaan rumah. Kalau benar ingin jadi kota juang, tidak cukup hanya dengan patung. Harus ada keberlanjutan kebijakan, penguatan sejarah lokal, dan pengembangan Kawasan.” tandasnya.
Peresmian Patung Bung Karno ini juga dihadiri Wakil Ketua DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis, dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan. (DETAKKaltim.Com)
Penulis: Lisa
Editor: Lukman
