Kepala Diskominfo Kaltim Muhammad Faisal. (foto: Lisa)
DETAKKaltim.Com, SAMARINDA: Pekan Raya Kalimantan Timur (PRK) 2026 yang digelar selama tiga hari, 9–11 Januari, resmi berakhir. Namun gaungnya menyisakan satu catatan penting, yakni skala perhelatan tahun ini tampak menyusut dibanding tahun-tahun sebelumnya, seiring kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah daerah.
Penurunan itu terlihat sejak ketika melangkahkan kaki ke area pameran. Susunan tenant yang biasanya memutar panjang kini hanya dapat dikelilingi sekitar tiga kali. Deretan stan instansi pemerintah provinsi berada di satu jalur utama, sementara tenant kuliner ditempatkan dua deret di bagian belakang. Tata letak yang lebih ringkas ini membuat atmosfer pekan raya terasa lebih sederhana, bahkan cenderung singkat untuk dijelajahi.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kalimantan Timur Muhammad Faisal tidak menampik adanya penurunan skala PRK tahun ini. Ia menyebut efisiensi anggaran menjadi faktor utama yang memengaruhi penyelenggaraan.
“Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tentu ada penurunan dari sisi materi. Ini tidak bisa dipungkiri karena adanya efisiensi,” ujar Faisal ketika ditemui pewarta media DETAKKaltim.Com di halaman GOR Kadrie Oening Samarinda, Minggu (11/1/2026) sore.
Baca Juga:
- Posbakum PN Lhokseumawe Kerja Sama LBH Bhakti Keadilan
- PH Likuidator PT KTE Mohon Dakwaan JPU Dinyatakan NO
- Sambut Kedatangan Presiden, Danrem 091/ASN Pimpin Apel Gelar Pasukan Pengamanan
Meski demikian, ia menilai penyederhanaan tersebut tidak serta-merta menghilangkan makna utama Pekan Raya Kaltim sebagai ruang pertemuan antara pemerintah dan masyarakat.
Respon publik, kata Muhammad Faisal, selama tiga hari pelaksanaan masih tergolong positif, terutama pada jam-jam sore hingga malam hari.
“Secara kebersamaan, interaksi dengan masyarakat tetap terasa. Di jam sore ke malam, pengunjung masih datang, masih berbaur,” katanya.
Faisal juga menekankan bahwa PRK tidak semata-mata soal kemegahan atau banyaknya tenant, melainkan fungsi sosialisasi program pemerintah yang bisa diakses langsung oleh warga. Sejumlah perangkat daerah, termasuk Diskominfo Kaltim, memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan layanan dan program unggulan kepada masyarakat.
“Ini bagian dari upaya mendekatkan program ke publik. Masyarakat bisa datang, bertanya, bahkan mendaftar langsung. Itu esensi yang tetap kita jaga,” jelasnya.
Berakhirnya Pekan Raya Kaltim 2026 sekaligus menandai pergeseran pendekatan pemerintah daerah, dalam menggelar agenda besar.
Jika sebelumnya PRK identik dengan skala besar dan kemeriahan visual, tahun ini justru menjadi refleksi keterbatasan fiskal sekaligus ujian efektivitas, sejauh mana acara publik tetap relevan meski dilaksanakan secara sederhana.
PRK 2026 menjadi gambaran nyata bahwa perayaan daerah kini tak lagi sekadar soal kemegahan, melainkan bagaimana fungsi komunikasi, sosialisasi, dan kebersamaan tetap berjalan, meski dengan ruang yang lebih sempit dan putaran yang lebih singkat. (DETAKKaltim.Com)
Penulis: Lisa
Editor: Lukman
