Tharuna Qalis Mula.
- Penulis: Tharuna Qalis Mula, S.Pd
- Mahasiswa Program Studi S2/Magister PPKn FKIP UNS
SEIRING dengan perkembangan zaman yang semakin pesat, Pancasila merupakan falsafah hidup yang tidak akan luncur dilekang zaman, dengan adanya perkembangan teknologi yang maju dan media sosial yang semakin massif di tengah masyarakat, hal ini yang membuat kita sebagai Bangsa Indonesia harus bisa beradaptasi dengan nilai-nilai yang saat ini berkembang yang sesuai dengan Pancasila.
Dengan adanya distrupsi yang sangat besar di generasi saat ini, menjadi tantangan dalam mengembangkan Pancasila sebagai Pedoman Hidup yang mengglobal, terutama dengan adanya gangguan dari berbagai ideologi yang ada di seluruh dunia, khususnya adanya Ideologi Liberalisme, Komunisme dan Fasisme yang saat ini marak terjadi di berbagai belahan dunia. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia menghadapi berbagai tantangan dan dinamika di era kontemporer, yang menyebabkan diskursus mengenai relevansi dan kedudukannya menjadi relevan. Beberapa faktor utama yang memengaruhi pandangan terhadap Pancasila saat ini meliputi:
Globalisasi dan Pengaruh Ideologi Asing dimana arus informasi global yang cepat memudahkan masuknya berbagai ideologi, seperti liberalisme, kapitalisme, fundamentalisme agama, dan komunisme (dalam bentuk baru), yang terkadang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terkikisnya nilai-nilai lokal dan nasionalisme.
Perubahan Sosial dan Generasi Muda dengan adanya generasi milenial dan Gen Z memiliki cara pandang yang berbeda terhadap nilai-nilai tradisional dan nasionalisme. Mereka lebih terbuka terhadap isu-isu global dan seringkali mempertanyakan relevansi konsep-konsep lama dalam kehidupan modern, menuntut pendekatan yang lebih kontekstual dalam pendidikan Pancasila.
Masalah Internal Bangsa yaitu isu-isu seperti korupsi, ketimpangan ekonomi, intoleransi, dan polarisasi politik dapat menggerus kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas Pancasila dalam mewujudkan keadilan sosial dan persatuan. Pelaksanaan nilai-nilai Pancasila dalam praktik bernegara seringkali dianggap belum optimal.
Interpretasi yang beragam dengan Pancasila adalah ideologi terbuka yang dapat diinterpretasikan secara beragam. Perbedaan penafsiran ini, terutama dalam konteks politik dan agama, terkadang menjadi sumber perdebatan dan konflik.
Meskipun demikian, Pancasila tetap menjadi konsensus dasar bernegara yang diakui dan tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan berfungsi sebagai pemersatu bangsa yang majemuk. Upaya untuk membumikan kembali nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan dan penguatan institusi terus dilakukan, seperti yang dicanangkan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Pancasila tetap relevan dikarenakan beberapa hal terkait yaitu Pertama, Pancasila sebagai Pedoman dalam Memahami Perbedaan, Generasi muda saat ini berinteraksi langsung dengan berbagai ide dan nilai dari seluruh dunia melalui internet. Pancasila berfungsi sebagai pedoman dan dasar nilai yang membantu mereka memahami dan menyikapi keragaman pandangan serta pengaruh global, mendorong pemikiran kritis dan penerimaan terhadap perbedaan, sambil tetap memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
Kedua, Menjawab Kebutuhan akan Identitas dan Persatuan, ditengah masyarakat Indonesia yang sangat majemuk, Pancasila menawarkan satu landasan bersama yang melampaui perbedaan suku, agama, dan budaya. Bagi generasi muda, Pancasila menyediakan identitas kolektif sebagai bangsa Indonesia dan menjadi perekat persatuan di tengah potensi polarisasi yang sering muncul, terutama di ranah media sosial. Ketiga, Nilai Universal yang Kontekstual, Nilai-nilai dasar Pancasila bersifat universal dan tetap relevan yaitu
- Ketuhanan: Menjawab kebutuhan spiritual di tengah krisis moral.
- Kemanusiaan: Relevan dengan isu HAM, kesetaraan, dan keadilan global.
- Persatuan: Penting untuk menjaga keutuhan bangsa.
- Kerakyatan: Mendorong partisipasi demokrasi dan suara anak muda.
- Keadilan Sosial: Relevan dengan isu ketimpangan ekonomi dan akses yang adil terhadap peluang.
Tantangan Implementasi, Bukan Relevansi Ideologi
Masalah yang sering muncul bukanlah ketidakrelevanan ideologinya, melainkan tantangan dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Generasi muda sering mengkritik praktik korupsi atau intoleransi yang bertentangan dengan Pancasila. Kritik ini justru menunjukkan bahwa mereka masih menggunakan Pancasila, sebagai standar nilai untuk menilai kondisi negara.
Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial yang sangat cepat, sering muncul anggapan bahwa ideologi Pancasila mulai kehilangan relevansinya, khususnya di kalangan generasi muda. Namun, pandangan tersebut sesungguhnya kurang tepat. Persoalan utama yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini bukanlah pada relevansi Pancasila, melainkan pada tantangan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari generasi muda.
Secara substansial, nilai-nilai Pancasila tetap relevan bahkan semakin dibutuhkan. Prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa selaras dengan kebutuhan generasi muda akan nilai spiritual di tengah krisis moral dan identitas. Nilai Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, serta Keadilan Sosial juga sejalan dengan isu-isu kontemporer seperti hak asasi manusia, toleransi, partisipasi politik, keadilan sosial, dan kesetaraan. Dalam konteks ini, Pancasila tidak bertentangan dengan modernitas, melainkan bersifat adaptif dan universal. Ia mampu menjadi landasan etis dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk budaya digital, pluralisme, dan global citizenship. Tantangan utama terletak pada bagaimana nilai-nilai Pancasila diimplementasikan, bukan diperdebatkan relevansinya. Generasi muda hidup dalam ekosistem digital yang sarat informasi instan, budaya populer global, serta pengaruh media sosial. Kondisi ini seringkali membuat nilai Pancasila dipersepsikan sebagai konsep normatif, abstrak, dan jauh dari realitas kehidupan mereka.
Selain itu, implementasi Pancasila sering terjebak pada pendekatan kognitif dan simbolik, seperti hafalan sila, upacara formal, atau slogan semata, tanpa diiringi pembiasaan sikap dan keteladanan nyata. Akibatnya, generasi muda memahami Pancasila secara teoritis, tetapi kesulitan menerjemahkannya dalam tindakan konkret, seperti sikap toleran, musyawarah, kejujuran, dan kepedulian sosial. Pendidikan memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan implementasi ini. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan perlu diarahkan pada pengalaman belajar kontekstual, yang mengaitkan nilai Pancasila dengan realitas kehidupan generasi muda, seperti interaksi di media sosial, partisipasi komunitas, dan isu-isu kebangsaan aktual. Selain sekolah, keluarga, masyarakat, dan figur publik juga memegang peranan penting. Keteladanan yang inkonsisten, praktik ketidakadilan, serta lemahnya penegakan nilai moral di ruang publik dapat melemahkan internalisasi Pancasila pada generasi muda.
Kesimpulan
Pancasila tetap relevan, namun pendekatannya harus disesuaikan. Generasi muda membutuhkan cara yang lebih modern, interaktif, dan kontekstual—bukan sekadar indoktrinasi—agar nilai-nilai Pancasila dapat benar-benar dihayati dan diimplementasikan dalam tindakan nyata sehari-hari, baik di dunia nyata maupun digital. (*)
