Otto Geo Diwara Purba. (foto: Exclusive/ist)
- Penulis: Otto Geo Diwara Purba
- Ketua Forum Komunikasi Pensiunan Pekerja Pertamina Bersatu
DARI 2 Sumber berbeda dalam menghasilkan bahan bakar yakni : FOSIL dan NABATI, ada efek yang terjadi :
- RON ( / cetane number / MON ( sama tapi tenaga berbeda )
RON (Research Octane Number) digunakan untuk mengukur ketahanan bahan bakar terhadap knocking atau detonasi, pada mesin yang beroperasi pada kondisi beban ringan dan kecepatan rendah.
MON (Motor Octane Number) digunakan untuk mengukur ketahanan bahan bakar terhadap knocking atau detonasi pada mesin yang beroperasi pada kondisi beban tinggi dan kecepatan tinggi.
- Ikatan kimia antara bahan bakar fosil vs nabati berbeda, yakni ikatan C-H fosil nir oksigen untuk nabati ikatan C-H ada terkait ikatan -COO- (ada oksigen ) yang membuat efek :Efek oksigen pada ikatan C-H pada bahan bakar dapat dihitung dengan menggunakan konsep energi ikatan. Energi ikatan adalah energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan kimia antara atom-atom.
Ikatan C-H pada bahan bakar memiliki energi ikatan sekitar 413 kJ/mol. Ketika oksigen (O2) bereaksi dengan bahan bakar, oksigen dapat memutuskan ikatan C-H dan membentuk ikatan C-O dan H-O.
Energi ikatan C-O adalah sekitar 358 kJ/mol, sedangkan energi ikatan H-O adalah sekitar 463 kJ/mol. Oleh karena itu, energi total yang diperlukan untuk memutuskan ikatan C-H dan membentuk ikatan C-O dan H-O adalah:
ΔE = E(C-O) + E(H-O) – E(C-H)
= 358 kJ/mol + 463 kJ/mol – 413 kJ/mol
= 408 kJ/mol
Artinya, oksigen dapat mengurangi energi ikatan C-H sebesar 408 kJ/mol, sehingga energi yang tersedia untuk menghasilkan tenaga engine berkurang.
Selain itu, oksigen juga dapat mempengaruhi proses pembakaran bahan bakar. Oksigen dapat bereaksi dengan radikal-radikal yang terbentuk selama proses pembakaran, sehingga mengurangi konsentrasi radikal-radikal tersebut.
Radikal-radikal ini diperlukan untuk mempercepat proses pembakaran, sehingga pengurangan konsentrasi radikal-radikal tersebut dapat mengurangi kecepatan pembakaran dan tenaga engine.
Efek oksigen pada ikatan C-H pada bahan bakar dapat mengurangi tenaga engine dengan dua cara:
- Mengurangi energi ikatan C-H, sehingga energi yang tersedia untuk menghasilkan tenaga engine berkurang.
- Mengurangi konsentrasi radikal-radikal yang diperlukan untuk mempercepat proses pembakaran, sehingga kecepatan pembakaran dan tenaga engine berkurang.
Saat ini heboh tentang BOBIBOS yang exposenya sudah mendiskreditkan produk Pertamina, dengan RON 98 yang methode pemeriksaan tidak sama dan literasi menyesatkan terjadi.
- Ada pembenaran dengan uji/test dengan measurement portable dianggap sudah benar padahal SALAH.
Kolaborasi oke oke saja… tahapan kan banyak…bukan hanya begitu saja is oke… Contoh destilasi dari pembakaran plastik bekas bisa juga, oil bekas bisa juga, dari kacang-kacangan bisa (extraksi ), umbi-umbian permentasi jadi bahan bakar tetapi apakah layak.
Jangab terkecoh dengan RON 98. Apa uji dengan CFR engine (coordinating fuel research Engine) engine tenaga kurang, jadi jangan menyamakan dan perlu diketahui alat test Ron/Mon /octane portable hanya Rp200 Juta paling mahal dengan ketelitian tidak akurat – CFR engine harga 300.000 – 500.000 USD, jadi sangat berbeda.
RON (Research Octane Number) yang tinggi dapat memberikan beberapa keuntungan bagi mesin, namun tidak selalu ada korelasi linier antara RON dan tenaga mesin, terutama jika bahan bakar tersebut berasal dari sumber NABATI.
Bahan bakar fosil, seperti bensin dan diesel, telah digunakan selama beberapa dekade dan telah menjadi standar untuk desain mesin. Oleh karena itu, mesin-mesin modern telah dirancang untuk bekerja optimal dengan bahan bakar fosil, sehingga RON tinggi pada bahan bakar fosil dapat memberikan keuntungan yang signifikan dalam hal tenaga dan efisiensi.
Lalu Bahan bakar Nabati, seperti etanol dan biodiesel, bobibos memiliki sifat kimia dan fisik yang berbeda dengan bahan bakar fosil. Oleh karena itu, RON tinggi pada bahan bakar nabati tidak selalu berarti bahwa bahan bakar tersebut dapat memberikan tenaga yang sama dengan bahan bakar fosil.
Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini adalah:
- Sifat kimia: Bahan bakar nabati memiliki struktur kimia yang berbeda dengan bahan bakar fosil, sehingga dapat mempengaruhi proses pembakaran dan tenaga mesin.
- Energi densitas: Bahan bakar nabati memiliki energi densitas yang lebih rendah dari pada bahan bakar fosil, sehingga dapat mengurangi tenaga mesin.
- Desain mesin: Mesin-mesin modern telah dirancang untuk bekerja optimal dengan bahan bakar fosil, sehingga bahan bakar nabati mungkin tidak dapat memberikan kinerja yang sama.
Oleh karena itu, pengembangan bahan bakar nabati harus mempertimbangkan sifat kimia dan fisik yang unik dari bahan bakar tersebut, serta desain mesin yang sesuai untuk mengoptimalkan kinerja bahan bakar nabati.
Ikatan rantai kimia antara fosil dan nabati sangat beda : fosil C – H nir oksigen ( O ) dan nabati : lemah ada – COO – / Daun seperti Bobibos ada Oksigen – lebih sedikit (Untuk Octan/Mon ) – efek ada / terikut oksigen ada efek :
a.Penurunan tenaga/walau octane tinggi
- Ruang bakar lebih panas
- Lebih boros
- Meskipun keduanya memiliki angka RON yang sama, yaitu 98, namun ada beberapa perbedaan antara RON 98 nabati dan RON 98 fosil.
RON 98 fosil biasanya memiliki keunggulan dalam hal:
- Energi densitas: Bahan bakar fosil memiliki energi densitas yang lebih tinggi, sehingga dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar.
- Stabilitas: Bahan bakar fosil memiliki stabilitas yang lebih baik, sehingga dapat disimpan lebih lama tanpa mengalami perubahan sifat kimia.
- Kompatibilitas: Bahan bakar fosil kompatibel dengan mesin yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar fosil, sehingga tidak memerlukan modifikasi mesin.
Namun, RON 98 nabati memiliki keunggulan dalam hal:
- Ramah lingkungan: Bahan bakar nabati memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah, sehingga lebih ramah lingkungan.
- Sumber daya yang dapat diperbarui: Bahan bakar nabati dapat diproduksi dari sumber daya yang dapat diperbarui, seperti tanaman dan limbah organik.
- Ketergantungan pada minyak bumi yang lebih rendah: Bahan bakar nabati dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, sehingga dapat meningkatkan keamanan energi.
Untuk diketahui bahwa Bahan bakar Nabati (BBN) seperti Etanol dan Biodiesel cenderung memiliki angka MON (Motor Octane Number) yang lebih rendah, dibandingkan dengan bahan bakar fosil (BBF) seperti bensin dan diesel.
MON adalah ukuran ketahanan bahan bakar terhadap knocking atau detonasi pada mesin yang beroperasi pada kondisi beban tinggi, dan kecepatan tinggi. Angka MON yang lebih rendah menunjukkan bahwa bahan bakar lebih rentan terhadap knocking atau detonasi.
BBN memiliki struktur molekul yang berbeda dengan Bahan Bakar Fosil, sehingga memiliki sifat kimia dan fisik yang berbeda pula. Bahan Bakar Nabati cenderung memiliki rantai karbon yang lebih pendek dan memiliki gugus fungsi yang lebih polar, sehingga lebih rentan terhadap knocking atau detonasi.
Sebagai contoh, etanol memiliki MON sekitar 78-80, sedangkan bensin memiliki MON sekitar 82-88. Biodiesel memiliki MON sekitar 50-60, sedangkan diesel memiliki MON sekitar 70-80.
Oleh karena itu, BBN memerlukan penyesuaian dan modifikasi mesin yang sesuai untuk mengoptimalkan kinerja dan efisiensi, serta mengurangi risiko knocking atau detonasi.
Rakyat dan konsumen pemakai BBM harus mendapat pencerahan dan jangan fitnah dan caci maki bila literasi masih sangat kurang. (DETAKKaltim.Com)
Editor: Lukman
