Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (foto: Exclusive)
• Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.
• Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
PERANAHKAH anda menemukan tetangga? Sebelum akhirnya bertambah banyak dengan anggota dari luar, dengan pernikahan atau usaha perdagangan maupun lainnya, menjadikan lingkungan sesak. Kehidupan aman dan damai di sana anda membina harapan dan cita-cita di masa dengan yang baik, atau sekedar melanjutkan. Namun saat itu datang, seperti “negara api menyerang”, meluluhlantakkan segalanya sampai keinginan nyaris tidak tersisa.
Berbagai pendekatan diusahakan, sampai-sampai untung bisa “pulang”, meski memang tidak seiring keadaan, tetap disyukuri sebagai anugerah tiada tara dari Tuhan. Mereka bahkan seperti mengerahkan segala kekuatan untuk balik menyerang! Ketika balasan ditimpakan, datang anggota keluarga lain bahkan dengan variasi usaha, perkataan dan tindakan.
Setiap harinya, “negara” itu beraktivitas tidak sebagaimana masyarakat umumnya berada di tengah-tengah desa. Mereka membuat gaduh dengan kehadiran orang-orang yang berkunjung dan bermain gaplek, serta bercerita panjang lebar ke sana kemari tentang berbagai hal yang sumbernya entah berantah dan tujuan atau maksud pembicaraan yang tidak jelas. Mungkin dianggap mereka kawanan ikan, mereka melakukannya di lingkungan sini terus-menerus seolah memancing namun emosi.
Pernah secara sadar penarasi meladeni atau tidak sekadar mengabaikan begitu saja, lantaran sikap satu di antara mereka memancing tersebut cukup mengambil perhatian. Mendatangi serta menegur mereka dan bercengkrama, namun tidak berhasil. Entah lantaran apa percisnya, penarasi bahkan melakukan berbagai langkah mulai dari berbelanja sampai nongkrong di sana tetap saja nihil.
Secara ekonomi mereka lebih terbuka secara sosial otomatis lebih mudah diterima lantaran sikap terbuka dan saling menguntungkan satu sama lain untuk kepentingan bersama, tidak peduli ada masyarakat lain yang dikorbankan sampai pada peran/pengaruh politik. Moralitas dan kepekaan dalam adat yang ada di masyarakat selama ini, sementara tidak dipedulikan bahkan kelembutan khas religiusitas tidak mengapa dibagikan.
Semangat mengisi kehidupan. Gerak yang mereka sebut hidup sebenarnya mengarah kepada kerusakan, mulai dari adat, moral sampai struktur sosial. Tidak hanya berhenti di sana, berkaca pada akibat perbuatan mereka selama ini, kerusakan sampai pada fisik seperti bangunan yang dilestarikan sebagai warisan desa bahkan membuat huru-hara. Terdengar gila, namun kenyataannya terjadi secara nyata. Meski demikian, hal ini terjadi dan terus berlangsung dan kian berdiri teguh.
Tidak menyadari hal tersebut selain sebagian sedikit yang merasa terampas kesempatan dan haknya. Adalah mereka yang merupakan pribumi yang bergerak dan memperjuangkannya. Penarasi jadi teringat perjuangan masyarakat di Palestina dan masyarakat lemah di sana. Berawal dari membuka diri, kemudian tersingkirkan baik secara ekonomi sosial sampai pada politik. Bahkan dunia internasional kini perlahan dan pasti mengakui kedaulatan adanya dua negara di sana, atau “two state” sebagai solusi.
Sakit? Bukan lagi! Pahit? Jelas terasa bagi akar rumput yang senantiasa berjuang dalam berbagai keterbatasan dan kelemahan. Menjadi dua negara bahkan tidak seimbang dari sisi kemajuan dan penguasaan sumber daya alam. Kegigihan mental pendatang mengikis kehidupan bangsa yang telah lebih dulu ada. Berharap pada agama dan menjiwainya sebenarnya bukan nestapa, namun menjadi berdaulat dalam membela hak bangsa adalah suatu pemahan yang mutlak dibutuhkan. (*)
