Maratua Tak Miliki Dermaga Barang, Warga Mengaku Kerap Diusir

Sutomo : Pentingnya Dermaga Barang

Reses di Kepulauan Maratua, Sutomo terima aspirasi warga. Mulai keluhan kondisi Pulau Kakaban yang krisis listrik, sampah, dermaga barang, hingga abrasi Pulau.

DETAKKaltim.Com, MARATUA : Menyusuri pesisir Kabupaten Berau untuk menyerap aspirasi masyarakat di daerah Kepulauan Kalimantan Timur bagian utara tersebut, menjadi tujuan reses Sutomo Jabir masa sidang III DPRD Kaltim yang digelar pada akhir November 2022 lalu.

Reses di Pulau Maratua,  Sutomo Jabir anggota DPRD Kaltim  bersama warga setempat. (foto : dok. Sutomo).
Reses di Pulau Maratua, Sutomo Jabir anggota DPRD Kaltim bersama warga setempat. (foto : dok. Sutomo).

Sutomo Jabir, anggota Komisi 3 Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim asal Daerah Pemilihan (Dapil) VI meliputi Kabupaten Berau, Kutai Timur, dan Kota Bontang.

Kepulauan Maratua, seperti yang diceritakan Sutomo melaui telepon selulernya belum lama ini, menjadi destinasi Kedua dari reses di Kecamatan yang memiliki Danau air tawar dengan habitat Ubur-Ubur, yang biasanya hidup di air laut. Namun di Pulau Kakaban Ubur-Ubur tersebut hidup di air tawar, sehingga langka di dunia.

Namun sayangnya, keunikan Pulau Kakaban yang terletak di Desa Payung-Payung tersebut, dikelola secara pribadi.

Baca Juga :

Hal ini seperti yang dikeluhkan oleh warga setempat kepada Sutomo, yang meminta agar objek wisata Pulau Kakaban dikelola oleh BUMK (Badan Usaha Milik Kampung) saja, mengingat selama ini Pulau Kakaban dikelola secara pribadi.

“Sedangkan di Desa Teluk Harapan, warga berharap penyediaan alat penangkap ikan bagi nelayan kecil,“ terang Sutomo mengurai aspirasi masyarakat setempat.

Sama seperti daerah di pinggir pantai, daerah Maratua juga rawan akan abrasi atau pengikisan daratan oleh karena gelombang air laut.

“Warga meminta pemecah gelombang atau penangkal abrasi, karena ini ancaman sumber mata air. Walau dulu sempat ada proyek sejenis, namun ditolak karena tidak sesuai dengan kelestarian pantai akibat model dan bentuknya yang salah,“ ungkap Sutomo.

Warga juga, menurut Sutomo, meminta dump truck sampah bagi sampah plastik dan sampah kiriman sehingga perlu pengembangan rumah sampah.

“Tempat sampah sudah ada, begitu juga alat daur ulang sampah, mengingat lahan kepulauan Maratua sangat terbatas, sehingga perlu alat pengolah sampah,“ tuturnya.

Masih  di Desa Payung-Payung, kata politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kaltim ini, warga minta pembangunan Masjid yang menjadi Masjid satu-satunya di tempat tersebut.

“Kemudian ada juga permohonan Radio komunikasi untuk wisata bagi pengemudi Speedboat, dan operator wisata yang bertujuan untuk keselamatan wisata,” ungkap Sutomo.

Sedangkan di Desa Bohe Silian, lanjutnya, usulan perbaikan Jalan Kampung 2,5 Km yang mana sering diusulkan tapi selalu ditolak.

Begitu juga renovasi SMA 9 Berau, kondisinya menurut Sutomo, sangat memprihatinkan. Termasuk keluhan nasib guru honorer di Kepulauan tersebut.

Lanjut Sutomo menyampaikan, lebih prihatin lagi di Desa Teluk Alul  yang tak berlistrik, warga menyampaikan aspirasi agar PLN bisa masuk di kawasan tersebut. Mengingat akses internet dan Telepon untuk mendukung belajar daring, amat dibutuhkan.

 “Pentingnya Dermaga barang untuk Kepulauan juga dikeluhkan oleh warga, mengingat selama ini warga menumpang Dermaga sehingga sering diusir,“ ucapnya prihatin.

Terkait budidaya Ikan Kerapu, warga berharap diikutsertakan agar tidak hanya menjadi penonton.

“Budidaya Perikanan, baik untuk Ikan Kerapu, Udang Lobster dan lain-lain. Warga harap diikutsertakan, agar tidak hanya menjadi penonton.“ pungkas Sutomo Jabir. (DETAKKaltim.Com)

Penulis : @my

Editor   : Lukman

Leave A Reply

Your email address will not be published.