SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KELIMA BELAS : SENJA HARI DI PENEKI (Episode-3)

TAK ada yang bersuara, tak ada kalimat sanggahan meski semua yang hadir sangat terkejut dan menyesalkannya. Tapi kata-kata seorang La Maddukkelleng adalah hukum yang takkan bisa lagi digugat.

Waktu itu tahun 1754. Artinya, dia terhitung memerintah selama 18 tahun sejak 1736. Sebuah pemerintahan yang dilalui dengan banyak sekali peperangan. Semua karena satu sentimen visi, bahwa orang asing, Belanda VOC, adalah biang kerok dari banyaknya pertentangan di tanah Ugi khususnya di Tellumpoccoe; maka itu harus diperangi.

Namun situasi politik dan silang sengkalut kepentingan kerajaan-kerajaan kawasan Bugis Makassar membuat La Maddukkelleng tak mampu memenangkannya secara mutlak. Betul bahwa ia telah memenangkan perang di Tosora dan berhasil menghalau pasukan Belanda dan aliansinya, tapi ia tak pernah mampu menghilangkan pengaruhnya yang terlanjur menguat di Bone, Soppeng dan beberapa daerah lain.

Wajo akan terus menjadi oposan politik yang akan merepotkannya dalam stabilitas ekonomi kerajaan. Wajo terus akan berada dalam konflik tak berkesudahan. Dan La Maddukkelleng adalah raja yang tak mengenal kompromi jika sudah menyangkut prinsip kebenaran yang diyakininya, tak mungkin menjalin perdamaian dengan Belanda dan antek-anteknya.

CERITA SEBELUMNYA :

Maka, inilah jalan tengah dari perbedaan pandangan atas Sidenreng dan visi politiknya. La Maddukkelleng sangat menjunjung persatuan dan kesatuan Wajo. Beberapa kali dalam pidato-pidatonya ia menyerukan pentingnya persatuan (assedding) dalam spirit yassiwajori (kesatuan utuh kewajoan), assiajingeng (kekerabatan) dan assumpunglolongeng (kekeluargaan).

Tapi ia juga dikenal sebagai pemimpin yang teguh dan tegas. Setiap kata-katanya adalah perbuatannya. Taro ada taro gau (satunya kata dan perbuatan) adalah prinsip hidupnya. Maka, betul ia tidak menuntaskan perang yang telah dimenangkannya ke Sidenreng tapi itu harus dibayar dengan meletakkan jabatan. Ia juga tak pernah mau menemui Pallawa Gau setelah itu sebagai bentuk hukuman seorang raja ke panglima yang dianggapnya tidak patuh.

La Maddukkelleng lalu kembali ke Peneki. Kecuali Cambang Balolo dan beberapa pasukan yang telah diintegrasikan ke pasukan kerajaan, sebagian besar pasukan dari Paser dan Kutai ikut hijrah ke Peneki. Mereka juga memboyong keluarga. Jadilah Peneki, negeri kecil di bawah Wajo, tempat kelahirannya menjadi basis baru La Maddukkelleng.

Ia menjadi Arung di dua negeri bawahan Wajo, Sengkang dan Peneki. Sengkang diwarisi dari Ibundanya, We Tenri Angka, sementara Peneki dari ayahandanya, La Mataesso To Addetia. Ia mengorganisir ulang orang-orangnya. Pasukan-pasukannya disuruh membuka lahan pertanian maupun perkebunan. Seperti yang dilakukannya saat di Kandilo Paser, pengikutnya yang terdiri dari orang-orang Kutai dan Paser kemudian diupayakan berkawin mawin dengan orang-orang setempat.

CERITA SEBELUMNYA :

Bangsawan laki-lakinya yang menikah dengan wanita-wanita Peneki maupun Tosora diberi gelar Baso dan perempuannya bergelar Besse. Beberapa senjata berat dari Paser juga dibawa ke Peneki sebagai alat pertahanan. Puengta La Maddukkelleng lebih banyak di dalam istana sebagai Raja Peneki bersama istri dan beberapa orang anaknya. Dia juga makin serius mendidik cucunya Aji Imbut yang kini telah berubah menjadi seorang pemuda remaja lima belas tahun, usia anak lelaki yang sudah siap melanglang buana untuk ukuran waktu itu.

Aji Imbut mewarisi karakter pemberani dan petualang dari kakeknya. Ia juga memperlihatkan bakat yang baik untuk menerima ilmu-ilmu silat Sulapa yang dimilikinya. Dalam usia lima belas tahun, ia sudah hampir mencapai penguasaan sempurna dalam tingkatan Sulapa Enneng.

Demikianlah, La Maddukkelleng kini kembali menjadi Arung Peneki. Meski wilayahnya hanyalah negeri kecil di bawah Wajo, tapi karena rajanya adalah La Maddukkelleng, mantan Arung Matoa Wajo, maka wibawanya setara dengan Wajo. Ia juga tetap pada prinsipnya bahwa selama Bone masih berada di bawah pengaruh Belanda, maka ia tak pernah berhenti pada posisi sebagai penentang.

Baik secara berperang maupun secara politik. Pada saat itu, Raja / Mangkau Bone dipegang oleh La Temmassonge yang bergelar Sultan Abdul Razak Jalaluddin, menggantikan saudaranya, Batari Toja Daeng Talaga yang meninggal dunia. Sikap politik La Maddukkeleng ini kerap menciptakan konflik dengan Bone khususnya di perbatasan. La Maddukkelleng pada setiap kesempatan selalu menyerukan Tellumpoccoe untuk memerangi Belanda yang memusatkan pengaruhnya di Makassar. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.