SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KELIMA BELAS : SENJA HARI DI PENEKI (Episode-2)

SIKAP keras dari La Maddukkelleng yang dianggap gemar berperang mendapat penentangan dari kalangan Arung Enneng, dewan syuro kerajaan. Mereka menyebutkan tidaklah bijaksana kerajaan dikelola dengan peperangan. Masih ada cara lain seperti diplomasi dan musyawarah kekeluargaan.

La Pallawa Gau juga berada di belakang Arung Ennengnge. Ia bahkan mengirim surat ke La Maddukkelleng yang berisi peringatan bahwa rakyat Wajo sudah capek berperang (_Cauni atammu mammusu, sudah tak mampu lagi hambamu berperang). Mendapatkan penolakan ini membuat La Maddukkelleng gusar dan mengambil sikap melawan keputusan adat. Ia tetap memerintahkan penyerangan ke perbatasan Belawa.

Hanya satu hari penyerangan, pasukan Sidenreng kocar kacir di perbatasan berlarian mundur. Melalui tangannya sendiri, La Maddukkelleng menancapkan patok perbatasan yang disengketakan di garis terluar Mojong. Namun ia tidak meneruskan pengejaran. Ia hanya melampiaskan kemarahan dan kejengkelannya sebagai raja yang merasa tidak dipatuhi. Setelahnya ia langsung menyuruh mundur pasukan menuju Peneki.

CERITA SEBELUMNYA :

Berhari-hari Baginda La Maddukkelleng di istana Peneki. Istrinya tetap di sampingnya selama itu. Pernah satu waktu La Maddukkelleng berbicara ke sang istri untuk kembali ke Paser. Ia sangat kecewa dengan keputusan Arung Enneng yang tidak mendukung kebijakannya menegakkan perang sebagai cara untuk menegaskan kedaulatan dan mempersatukan negeri-negeri untuk mengusir Belanda dari Makassar. Namun ratu yang keibuan itu memiliki pandangan lain.

“Kakanda kini adalah raja negeri ini. Engkaulah pemerdeka dan suluh yang diharapkan tetap memberi terang bagi Wajo. Jangan engkau padamkan dengan meninggalkannya. Bukankah pergi dari perang adalah pantang bagi lelaki Bugis? Tetaplah di sini dan ambillah keputusan terbaik untuk semua orang. Aku istrimu dan pasukan yang menemanimu sejak dari Paser akan selalu setia sampai mati di sampingmu.”

La Maddukkelleng tidak menjawab. Hanya membalas genggaman tangan istrinya dengan isyarat yang erat. Ia sebenarnya memiliki dua lagi istri yang tinggal di istana Sengkang, tapi ia merasa Ratu Paser ini adalah permaisuri bagi hatinya yang paling dalam. Ratu ini betul-betul telah mengambil posisi Hindun Jamilah, cinta pertamanya yang hilang di Selat Makassar.

Ah, di mana gerangan dikau, adinda? La Maddukkelleng setiap mengingat istrinya itu selalu tercenung lama. Sejak hilangnya di laut, tak pernah ada berita yang didengarnya. Tim pencari yang dibentuk khusus untuk itu pun tak pernah memberi kabar. Puluhan tahun telah berlalu namun ia masih sering mengenangkan istrinya itu. Ia beruntung memiliki Andin Anjang, perempuan yang tak kalah istimewanya dari Paser.

CERITA SEBELUMNYA :

Posisinya sebagai suami dari tiga wanita adalah tradisi raja-raja yang harus memiliki banyak keturunan. Saat ini, sungguh ia merasa berada dalam dilema yang sulit. Menduduki Sidenreng akan membuat perpecahan di kalangan elit kerajaan terutama dengan Pilla Pallawa Gau. Ia tentu juga akan dituding melawan adat. Padahal kemerdekaan tertinggi bagi orang Wajo adalah menjunjung tinggi adat, maradeka to WajoE, ade’na napopuang.

Maka ia cukup puas telah melancarkan serangan sebagai penegak kewibawaannya, namun tidak meneruskannya dalam bentuk pendudukan adalah pertanda hormatnya pada adat. Ia telah melakukan tugas yang seharusnya dilakukan sebagai raja yang memiliki kuasa dan daulat penuh. Jika tidak, ia akan menjadi raja yang tak didengarkan, panglima tanpa pasukan, pemimpin tanpa rakyat.

Itu jelas akan sangat menyinggung sisi kekesatriaannya sebagai lelaki petarung yang tak pernah kalah di hampir semua peperangan yang dilakoninya. Menimbang langkah-langkah kontroversinya ini, ia lalu berpikir untuk membayarnya dengan keputusan besar. Tak ada jalan lain, ia memutuskan untuk berhenti sebagai Arung Matoa, ini jalan paling baik dari semua pilihan.

Berbekal keputusan itu, ia bulat kembali ke Tosora. Di depan Arung Enneng yang terdiri dari masing-masing dua perwakilan dari tiga Ranreng (Bettengpola, Tua dan Talotenreng), La Maddukkelleng, Petta Pammaradekaengngi Wajo itu meletakkan jabatan sebagai Arung Matoa. Ia tidak berpidato panjang. Ia hanya berkata singkat dan tegas.

“Saya diangkat sebagai Arung Matoa di tengah amuk peperangan, maka kini saya meletakkannya juga di masa peperangan..” (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.