SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KELIMA BELAS : SENJA HARI DI PENEKI (Episode-1)

DALAM masa amuk perang yang terus berlangsung, Aji Imbut tinggal di istana Peneki di bawah asuhan kakek dan neneknya, Andin Anjang Ratu Paser. Sejauh itu La Maddukkelleng mulai memberi dasar-dasar pukulan dan juga kuda-kuda permulaan untuk cucunya. Di sela kesibukannya oleh konflik dan perang yang tiada henti, ia kerap membawa cucunya itu ikut serta inspeksi pasukan jauh sampai perbatasan-perbatasan.

Kehadiran bocah kecil itu menjadi hiburan di tengah beban pikir yang bertumpuk. Sebulan lebih setelahnya, Aung Labih, La Barru dan seorang nahkoda Samarenda bernama La Tojeng kembali dari misi Kutai. Ia berhasil membawa serta Aji Dayang, anak perempuan Aji Muhammad Idris. Peneki bersuka cita menyambutnya.

“Tabe Pueng, mohon ampunkan hamba, kami hanya berhasil membawa puteri Sultan. Ibundanya, Aji Puteri Agung diambil istri oleh Aji Kado yang kini telah dilantik menjadi Sultan Kutai Kartanegara menggantikan Petta Ladarise Matinroe ri Kawanne. Mohon ampun sekali lagi atas kegagalan kami.”La Barru pimpinan misi itu memberi laporan dengan berlutut di depan La Maddukkelleng.

CERITA SEBELUMNYA :

La Maddukkelleng menarik napas panjang lalu berkata, “Itu sudah garisan takdir Dewata SeuwwaE. Kelak akan ada takdir baru yang akan kita jalankan dengan peran berbeda. Dua cucuku ini telah di sini, tempat kakek neneknya dari garis Ibunya. Pun mereka bisa berdekatan dengan ayahnya yang dikuburkan di Tana Ugi ini.

Begitulah pekerjaan takdir. Dan kita, harus berani menjalankannya sepenuh tanggungjawab.”Pertemuan itu selesai lalu berganti peluk cium dan tangisan haru dari Ratu Andin Anjang kepada cucunya yang baru datang dari Kutai. Seorang puteri cantik yang sehat, adik dari Aji Imbut yang lebih dulu berada di Peneki.

Dalam masa itu, secara politik Wajo disegani sebagai kekuatan paling solid di Sulawesi Selatan. Kemampuannya memenangkan perang dengan Belanda menjadi bukti betapa pasukan yang dikomandoi La Maddukkelleng tangguh di semua medan. Persenjataan dan armada perang mereka juga ratusan jumlahnya. Wajo telah menjadi negeri yang merdeka dari Bone dan Belanda. Bahkan bisa disebut Wajo adalah pemimpin Tellumpoccoe kini.

Maka, meski tak mendapat restu Arung Enneng dan persetujuan Pallawa Gau, La Maddukkelleng melancarkan perang sporadis sebagai penghukuman ke beberapa kerajaan-kerajaan sekitar. Gerakan ini efektif menegakkan wibawa Wajo dalam rangka stabilitas dan ketertiban kawasan negeri-negeri bawahan. Namun seiring itu pula situasi penggembosan internal yang mengancam Wajo akhirnya tercium juga oleh musuh-musuh kerajaan.

Beberapa waktu kemudian satu dua kerajaan bawahan (negeri Palili) mulai memperlihatkan pembangkangan dan keengganan mengirim persembahan sebbukati (upeti) kepada kerajaan. Tak ada pilihan lain bagi Arung Matoa kecuali mengirim pasukan sebagai peringatan. Beberapa yang melawan diperangi dan dilumpuhkan. Sebagian lagi diganti rajanya dengan raja yang lebih kooperatif. Hal itu terus berlangsung selama hampir satu dekade pemerintahan La Maddukkeleng.

CERITA SEBELUMNYA :

Konflik dengan Sidenreng juga tak pernah menemukan titik terang. Bentrokan kecil sering terjadi di perbatasan Belawa. Menghadapi semua itu, naluri perang La Maddukkelleng semakin termantik. Ia lalu mempersiapkan pasukan besar untuk penyerangan ke Sidenreng dan beberapa daerah yang ditengarai sebagai pendukung Belanda di Makassar. Paradigma perang La Maddukkelleng selalu menempatkan VOC Belanda sebagai musuh dan juga alasan utama. Ia tak pernah bergeser dari visinya bahwa Tana Ugi harus bersih dari kehadiran orang asing.

Itu menjadi alasan kegusarannya yang tak pernah berhenti melihat beberapa kerajaan tetap dalam kerjasamanya dengan Belanda. Apa lagi La Banna To Assa, panglima paling diandalkannya sudah sembuh dari luka-lukanya yang panjang. Lelaki perkasa itu datang dari hutan Labuaja dengan rambut yang telah memutih. Pengobatan luka dalam yang dideritanya berdampak pada berubahnya secara drastis rambut di kepala. Ia lalu berunding dengan orang-orang kepercayaannya untuk mempersiapkan perang besar.

Namun ketika niatnya itu kembali disampaikan kepada dewan adat (Arung Ennenng), Lima dari enam pemangku syuro itu menolak. Mereka menganggap perang bukan jalan yang baik untuk saat ini. Apa lagi ekonomi rakyat Wajo morat marit. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.