SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEEMPAT BELAS : GUGURNYA PETTA LA DARISE’ (Episode-6)

SEMENTARA itu telah datang utusan dari Kutai Kartanegara mengabarkan situasi Pemarangan pasca meninggalnya Sultan Muhammad Idris. Telah terjadi pergolakan di dalam istana. Aji Kado, saudara se-ayah dengan Aji Sultan Muhammad Idris yang sedianya hanya menjabat sebagai dewan perwalian mengangkat diri sebagai Sultan pengganti Aji Muhammad Idris dengan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

Hal yang mengagetkan adalah kehadiran La Sigajang To Passarai di Keraton Pemarangan sebagai tamu kehormatan. Dugaan La Maddukkelleng perihal kematian Aji Muhammad Idris karena persekongkolan jahat dengan To Passarai terjawab. La Barru dan Aung Labih lalu menyerahkan seorang bocah lelaki ke hadapan La Maddukkelleng.

“Ini putera Baginda Sultan Aji Muhammad Idris yang berhasil kami selamatkan. Oleh permaisuri Aji Puteri Agung dia diberi nama Aji Imbut. Badai angin topan yang terjadi menjelang kelahirannya berhenti seketika bersamaan tangisan pertamanya. Beberapa pasukan kami terbunuh oleh orang-orang To Passarai demi melarikannya. Mohon ampun Pueng, kami tak berhasil membawa serta Ibundanya. Kabarnya Tuan Puteri ditawan di istana oleh Aji Kado bersama anaknya yang lain, Aji Dayang.” La Barru menghaturkan sembah dan laporan.

CERITA SEBELUMNYA :

La Maddukkelleng memandangi bocah kecil itu yang pada saat bersamaan juga memandang ke arahnya. Ia melihat mata Ibunya di sana. Cucunya ini lebih mirip Andin Anjang istrinya. Matanya jernih, rambutnya lebat dan bentuk fisiknya terlihat baik untuk seorang pamencak.

“Baiklah. Saya sudah menduga To Passarai ada di balik kematian Aji Muhammad Idris. Cucuku ini tinggalkan di Peneki, saya ingin mendidiknya langsung agar kelak, lewat tangannya dia bisa memberi pelajaran kepada penjahat La Sigajang To Passarai beserta La Melleng. Kalian kembali lagi ke Pemarangan segera. Bawa ke sini cucuku yang lain beserta ibunya, apa pun caranya!” La Maddukkelleng lalu memanggil bocah kecil itu. Didudukkan di pangkuannya lalu meneruskan kalimatnya.

“Cucuku ini adalah pewaris sah tahta kerajaan Kutai. Dia memiliki trah mulia Kutai Kartanegara, tuah Paser dan darah to Ugi yang mengalir di tubuhnya. Kalian orang-orang Kutai, Paser, dan Samarinda jadilah joa (pengawal) baginya. Tetaplah kalian di sini tinggal di sekitar istana Peneki sampai garis takdir mengembalikannya ke Kutai.”

La Barru, Aung Labih dan beberapa pasukan inti Paser dan Kutai yang ada di tempat itu serempak membungkukkan badan dan memberi hormat, “Iyye, Puengku!”

(BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.