SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEEMPAT BELAS : GUGURNYA PETTA LA DARISE’ (Episode-5)

MAKA, Petta La Maddukkelleng menyampaikan niatnya menyerang kerajaan Sidenreng untuk memberi hukuman, dengan alasan kerajaan Sidenreng telah bersekutu dengan VOC dan melanggar kesepakatan. Namun kebijakan penyerangan itu tidak disepakati La Pallawagau Pilla Wajo yang merupakan salah satu panglima Kerajaan.

Tidak ada bukti Sidenreng berkhianat.  Lagi pula, dan ini mungkin alasan paling subyektif bahwa La Wawo Addatuang Sidenreng adalah ipar dari La Pallawa Gau Pilla Wajo. Perbedaan pandangan terjadi. Inilah konflik internal awal yang terjadi dalam tubuh kerajaan Wajo. Pandangan Pilla Wajo itu, oleh La Maddukkelleng, dinilai sebagai bentuk persekutuan dengan VOC.

Ia meminta pandangan Arung Ennengnge untuk memberhentikan Pilla Wajo sebagai panglima, tapi mekanisme itu tidak dikenal dalam keadaan normal. La Maddukkelleng sebagai Arung Matoa hanya bisa membangun pasukan baru. Perang baru usai, rekrutmen butuh waktu, itu pun tidak memungkinkan.

Maka ia mengumpulkan orang-orang kepercayaannya termasuk elit-elit pasukan inti Paser dan Kutai. Ia menemukan fakta bahwa perang panjang yang melelahkan telah memerosotkan stamina dan semangat perang pasukannya. Terasa sekali efek ketakhadiran panglima paling diandalkannya, La Banna To Assa yang kini sedang memulihkan diri di hutan Labuaja.

La Maddukkelleng, Sang Pembebas itu terpukul dan juga geram. Ia menyampaikan ke Arung Enneng sebagai dewan syuro kerajaan untuk mendukung misi penyerangan ke Sidenreng. Namun para ranreng itu memberi nasehat untuk bertemu dengan La Pallawa Gau Petta Pillae dan mengajaknya bersama.

CERITA SEBELUMNYA :

Bagaimana pun secara usia, Pallawa Gau lebih tua, walaupun La Maddukkelleng adalah Arung Matoa. Tapi La Maddukkelleng tak berkenan menemui Pallawa Gau, ia bahkan menyebut kalau panglima itu telah membangkang dan mendukung Sidenreng yang pro VOC.

Situasi istana menjadi tegang. La Maddukkelleng sementara waktu tak mau ditemui. Bahkan permohonan Pallawa Gau untuk menghadap ditolaknya. Ia yang dikatakan penolong, pembebas Wajo, pahlawan yang berhasil mengalahkan Bone dan berani menyerang VOC, tak ditaati perintahnya untuk menyerang Sidenreng yang diyakininya sebagai antek Belanda.

Padahal ia adalah Raja Wajo, Arung Matoa yang memiliki kekuasaan untuk menyatakan perang atau perdamaian dengan siapa pun. Bukankah ia adalah rujukan semua orang kemana pun telunjuknya diarahkan? Apakah karena saya dianggap orang luar yang datang dari Paser? Apakah saya hanya dibutuhkan saat perang saja? Bertumpuk pertanyaan-pertanyaan silih berganti memenuhi benak kesatria pejuang yang kini telah menjadi Arung Matoa itu.

Ia mengurung diri selama tiga hari. Hanya ditemani istrinya, Andin Anjang Ratu Paser. Hingga akhirnya ia keluar namun tetap tanpa komentar. Ia yang menjadi pemantik kemerdekaan itu lalu meninggalkan Istana Tosora menuju Peneki demi menenangkan diri. Ia mengajak istri dan anaknya serta pasukan khusus Inti Paser dan Kutai untuk menemaninya. Panglima Cambang Balolo diperintahkan untuk waspada dan tetap bersiaga di Ibukota Tosora. Kendali pemerintahan sementara dipindahkan ke Peneki.

Keretakan internal semakin menemukan pemicunya ketika terjadi konflik wilayah Mojong yang disengketakan oleh Belawa (daerah bawahan Wajo) dengan Sidenreng. La Maddukkelleng mendukung penuh Belawa dan mengirimkan pasukan khusus. Tak dinyana, Pallawa Gau diam-diam juga memihak ke Sidenreng untuk membela saudaranya.

Perang terjadi di perbatasan Belawa – Sidenreng. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Meski pada akhirnya perang itu berhasil dihentikan dengan seruan perdamaian, namun perseteruan tersembunyi antara Pallawa Gau sebagai Pillae dan Arung Matoa La Maddukkelleng semakin memanas.

CERITA SEBELUMNYA :

La Maddukkelleng merasa sangat terganggu oleh pertikaian internal itu. Ia sangat ingin memecat Pallawa Gau tapi situasi politik yang tidak stabil tak memungkinkannya. Pallawa Gau lebih dekat ke Arung Enneng, ia kuat secara diplomasi dan kedekatan. Dulu, pelibatannya dalam perang dengan Belanda juga atas undangan Arung Enneng. Maka ia tak bisa berbuat banyak sebelum semua persoalan-persoalan lain diselesaikannya.

Sebagai mantan petualang kekuasaan, La Maddukkelleng sangat yakin bahwa Pallawa Gau sedang membangun kekuatan untuk menyejajarkan Pammana dan Wajo. Pelan-pelan ia mengurangi peran Pallawa Gau dalam pertahanan keamanan Wajo. Secara praktis, ia tak pernah lagi melibatkan Pallawa Gau dalam pembicaraan kerajaan.

Sementara ancaman Bone dan VOC tetap menjadi momok yang menguras energi kewaspadaan. Ia menyimpan semua kekesalannya pada panglima itu dengan menyibukkan diri konsolidasi pasukan. Mengirim pasukan ke perbatasan dan melakukan rekrutmen-rekrutmen prajurit baru. Upaya perbaikan ekonomi digalakkan dengan membangun banyak pasar rakyat dan membuka akses perdagangan keluar. Beberapa armada dijadikannya kapal pemuat komoditi keluar masuk Wajo. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.