SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KESEPULUH : SULTAN PASER (Episode-6)

La Mohang Daeng Mangkona mengakhiri kisah puluhan tahun yang telah mereka ukir. Ia menghela napas lalu pelan menyuruh mereka mundur diri ke perahu untuk menerima arahan berikutnya. Puang Ado Samarinda itu sudah terlihat sangat tua.

Dalam pandangan orang-orang itu, kemungkinan 80 atau 90 tahun. Namun garis-garis keperkasaan masih tersisa di tubuh tingginya yang kini terlihat menua. Rombongan Daeng Mangkana menghatur sembah lalu mengundurkan diri menuju perahu.

Demikianlah, La Mohang kemudian membawa rombongan itu menghadap ke Raja Kutai yang kini bermukim di Pemarangan, Ibukota baru yang terletak ke arah hulu dari Samarinda. Aji Pangeran Anum Panji Mendapa Ing Martadipura, raja Kutai saat itu menerima dengan tangan terbuka. Keberadaan Samarinda memberi dua keuntungan baik bagi kerajaan.

Pertama sebagai pusat penopang ekonomi dan kedua sebagai gerbang benteng pertahanan dari muara. Bisa disebut, Samarinda adalah salah satu sendi kekuatan pertahanan Kutai saat itu. Baginda lalu mengambil sumpah kesetiaan seratusan orang baru itu sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap Puang Ado La Mohang berpuluh tahun lalu.

Mulai saat itu, melalui Samarinda, hubungan La Maddukkelleng dengan Kutai makin muat. Jejak ukir sejarah yang ditorehkan oleh mereka ini menjadi pemantik hubungan yang sangat erat antara Kutai Kartanegara dan La Maddukkelleng yang bermukim di Paser.

CERITA SEBELUMNYA :

Peristiwa Ini bisa diartikan sebagai pembacaan tantangan masa depan yang melampaui masanya dari seorang La Maddukkelleng. Dari Muara Kandilo Paser ia merancang semua. Setelahnya itu kemudian, giliran Puanna Dekke melakukan pelayaran sama ke penjuru selatan muara.

Berbeda dengan La Mohang yang membawa pasukan cukup besar, Puanna Dekke hanya membawa 30 orang yang dianggap paling tangguh. Kapal yang dibawa pun tak terlalu mencolok, namun mampu dipacu lebih cepat karena memiliki ruang dayung.

Mereka masih perlu penyamaran. Bentrok yang dulu pernah terjadi dengan armada laut Banjar yang dibantu VOC mengharuskannya hati-hati. Dari semua peperangan laut yang pernah terjadi, benturan dengan armada Banjar dibantu Belanda adalah yang terberat mereka jalani sejak menjadi raja selat. Mereka terpukul mundur. Dan sejak itu, tak pernah lagi ada kontak di antara mereka.

Mereka harus menyaru sebagai pelaut biasa dari tana Ugi. Bendera Peneki pun tidak dikibarkan selama melayari Tana Bumbu. Mereka menyusur pesisir terus jauh ke selatan, hingga satu waktu menemukan sebuah muara sungai yang sunyi, ada magnet alam yang menyuruh mereka surut dan berhenti sejenak memandang ke arah datangnya air keruh yang luas.

Mereka putuskan masuk dan mengayuh ke hulu. Sungai itu bercabang-cabang di muaranya. Belakang hari baru mereka tahu sungai itu adalah Sungai Kusan. Sepanjang mata memandang adalah nipah yang rindang menghijau.

Tiba-tiba dari sebuah belokan anak sungai muncul perahu yang cukup besar menghadang. Di detik berikutnya, mereka telah melempar tali yg di ujungnya dipasangi besi pengait. Berbarengan melompat sepuluh lebih laki-laki berperawakan kasar, sebagian dengan brewok yang menutupi hampir seluruh wajah. Puanna Dekke tahu ini kawanan bajak.

Tanpa aba-aba mereka menyambut serangan itu dengan kaki terpentang di ruang geladak depan dengan sikap tenang. Mereka adalah anak buah La Maddukkelleng, raja dari segala bajak di lautan. Mereka terbiasa dengan pertempuran di perahu, apalagi dalam pandangannya, mereka ini bajak-bajak kecil yang masih perlu diberi pelajaran bagaimana caranya menjadi bajak sungguhan.

Namun, satu orang dari kawanan itu yang bersenjata bedil menembak ke atas. Doorr.. doorr..!! Dua kali tembakan sebagai gertakan disambut dengan sikap tenang dari Puanna Dekke bersama empat pengawal tangguhnya. Dia mencoba bertanya dalam bahasa Melayu, “siapa kalian dan apa maksud menghadang kami?”

“Kami akan mengambil kapal ini, kalian turun atau kami bunuh semua..!” Logat mereka kaku. Bersamaan itu kawan-kawannya menyerang maju dengan golok.

Puanna Dekke memperhatikan bahwa hanya satu orang yang membawa senjata api. Dia berhitung, lalu pada detik berikutnya sebuah serangan kilat ditujukannya pada tangan si pemegang bedil. Pukulan ampuh ilmu Sulapa Eppa telah mematahkan pergelangannya. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.