SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KESEPULUH : SULTAN PASER (Episode-4)

Dari La Maddukkelleng, Arung Peneki Tana Wajo kepada Pamanda La Mohang Daeng Mangkona, Matoa Samarinda.

Bismillahirrahmanirrahiem,

Semoga Pamanda beserta keluarga selalu dalam perlidungan Allah, Dewata Seuwwae. Pun demikian juga kerajaan Kutai Ing Martadipura dalam keadaan tenteram dan damai sejahtera selalu. Aamiin.

Si pembawa surat ini adalah orang-orang terbaik kita dari Wajo, setia, pekerja keras dan taat perintah. Harap pamanda memberi kawasan untuk ikut bermukim di Samarinda. Bawalah mereka menghadap ke kerajaan untuk membantu Samarinda mengabdi pada Kutai.

Mereka orang-orang terlatih di lautan dan bisa diandalkan menjadi pembela kerajaan. Mereka prajurit-prajurit tangguh.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr wb.

La Maddukkelleng, Arung Peneki

La Mohang menutup surat dengan takzim. Menggulungnya kemudian pelan menyimpannya di atas piring besar di sampingnya. Ia memandang orang-orang itu lalu berkata,

“Ada berapa orang kalian dalam rombongan ini?” La Mohang bertanya pelan.

“Iyye, Pueng. Kami 120 orang laki-laki dan 40 orang anak-anak dan wanita. Semua masih di kapal.” Sigap Daeng Mangkana menjawab.

“Baik, kalian tetap di kapal atau jika ada yang ingin tidur di sini bisa juga. Rumah di seberang jalan diperuntukkan untuk tamu-tamu rombongan. Muat seratus orang.”

“Iyye, Pueng. Biar kami sebagian di kapal dan sebagian lagi di sini. Kami mengucap terima kasih atas penerimaannya.” La Sellang Daeng Mangkana mengucap dengan suara yang lugas dan besar.

“Ah, kalian jangan sungkan-sungkan. Kita adalah orang sendiri. Apalagi Petta La Maddukkelleng yang mengirim kalian ke sini. Bagaimana saya berani tidak memperlakukan kalian dengan baik. Ini adalah perintah Raja Peneki. Saya tak sedikit pun keberatan. Kami menerima kalian dengan senang hati. Cuma karena kalian berjumlah lebih seratus orang, saya akan membawa kalian menghadap sultan di Pemarangan untuk melaporkan kedatangan rombongan dari utusan Petta La Maddukkelleng”.

CERITA SEBELUMNYA :

La Mohang Daeng Mangkona, nama yang cukup terkenal sampai ke Wajo itu lalu bercerita banyak. Mulai kehidupan Samarinda yang makin ramai sampai hubungan mereka dengan kerajaan Kutai.

“Di sini, kita semua adalah di bawah kekuasaan Kutai Kartanegara. Sekitar lima puluh tahun lalu, kita melakukan sumpah setia kepada kerajaan. Kita menjadi gerbang penjaga di sungai ini bagi musuh yang datang dari arah muara.

La Mohang lalu bercerita asal mula mereka membuka perkampungan Samarinda. Sejak mereka meninggalkan Wajo setelah Tosora dihancurkan oleh Belanda dan Bone lalu akhirnya sampai di keraton kesultanan di Jahitan Layar.

Kala itu, mereka mengatur sembah hormat Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma Ing Martapura, raja Kutai kala itu. La Mohang menerawang.

Di Balai Penghadapan mereka diterima oleh Raja beserta sejumlah menteri dan hulubalang.

“Mohon ampun dan perkenan paduka Raja, ijinkan kami, La Mohang Daeng Mangkona dari Wajo menghatur sembah untuk paduka.” La Mohang setengah berlutut kala menyampaikan gulungan surat berisi keterangan dari Arung Matoa Wajo perihal diri mereka. Kepala ditundukkan dan surat itu diangkat sedikit di atas kepala. Dia beringsut duduk setelah gulungan itu diterima dan disilakan dengan isyarat tangan baginda raja.

Sang Raja yang berpakaian kebesaran lengkap itu sejenak memperhatikan orang-orang yang menghadap kepadanya. Kalimat-kalimatnya jelas, tegas dan jauh dari canggung. Pakaian mereka khas orang Bugis dengan keris disembunyikan di pinggang sebelah kiri pertanda itikad baik. Ada dua belas orang. Ini pastilah orang terdidik. Sang raja membatin. Orang-orang yang terbiasa bergaul secara tata krama dan kesopanan.

Baginda Aji Pangeran Kusuma menerima gulungan surat, membukanya perlahan dan membaca isinya yang bertuliskan jati diri mereka sebagai mantan pasukan Wajo yang memilih meninggalkan kampung karena tak rela menerima kekalahan. Jelas sekali, ini adalah permintaan suaka politik. Surat berbahasa Melayu itu tertulis rapi dan singkat di atas kain putih.

Aji Pangeran Kusuma melipat surat dengan keanggunan seorang raja. Ia membutuhkan waktu untuk memutuskannya. Maka orang-orang itu disuruhnya kembali ke perahu besarnya. Keraton perlu waktu tiga hari untuk memberi jawaban. La Mohang berpamitan, melangkah mundur dengan tubuh direndahkan sampai ke pintu ruangan. Pun demikian yang lain.

Para hadirin memperhatikan dan mereka hampir sama menilai bahwa orang-orang ini adalah kader didikan adat. Juga adalah orang-orang yang biasa bekeja keras. Otot-otot kaki mereka kekar, tangan dan lengan mereka terlihat kuat, kulit cokelat pertanda terbiasa di udara laut yang terbuka. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.