SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KESEMBILAN : MUARA KANDILO (Episode-7)

“Saudara-saudaraku, Kita tentu tidak akan meninggalkan pulau ini begitu saja secara serentak. Bagaimana pun pulau ini adalah aset kita. Saya setuju Pamanda Daeng Mangkana  bahwa tempat ini adalah pijakan sementara saja, tetapi ia adalah milik kita. Kita harus tetap pada misi utama memperkuat diri untuk satu waktu pulang dalam rangka membebaskan Wajo. Maka saya putuskan kita meninggalkan pulau secara bertahap. Saya dengar Muara Sungai Kandilo Paser telah menjadi persinggahan yang ramai. Orang-orang yang kita utus ke sana melaporkan bahwa sambutan mereka sangat baik dan bersahabat. Apa lagi kehadiran orang-orang kita membuat muara itu menjadi ramai disinggahi kapal-kapal dagang maupun nelayan.” La Maddukkelleng terdiam sejenak. Tapi kemudian segera dilanjutkan,

“Target kita adalah Muara Kandilo Tana Paser. Tapi sebelum itu kita harus menyebar armada di semua jalur strategis terutama muara sungai-sungai besar. Armada laut yang puluhan itu harus tetap dilaut menjaga kekuatan kita untuk sewaktu-waktu dikerahkan jika diperlukan. Saya juga memerintahkan membentuk satu misi kecil untuk melakukan pencarian terhadap Puteri Hindun Jamilah, istriku, yang terpisah dengan kita dalam perang..” Sejenak La Maddukkelleng berhenti. Ada nada getir di sana. Namun ia kembali melanjutkan,

“Menurut perkiraan saya, arus waktu itu mengarah ke timur. Susuri pantai barat atas Sulawesi sampai Gorontalo. Kalau perlu cari tahu sampai Mindanau. Saya telah berjanji ke istri dan anakku yang sedang dalam kandungannya.”

“Iyye Pueng..!” Hampir serentak yang hadir menjawab sigap.

CERITA SEBELUMNYA :

“Kapal utama dan dua puluhan armada kita labuhkan di Muara Paser. Selebihnya kita sebar di muara-muara lainnya. Tapi konsentrasi kita di sekitar Muara Kandilo. Selain dua puluh armada, kita juga masih harus membawa lima kapal pengintai yang bisa bergerak cepat jika terjadi situasi darurat. Sisa armada kita yang tujuh puluhan lagi saya perintahkan ke Kapitan La Banna untuk membagi squad kita di wilayah-wilayah strategis. Muara Mahakam Kutai, Muara Berau dan juga sebagian mendekati wilayah Banjar. Sisanya tetap di pulau ini.

“Iyye Pueng, siap!” La Banna menyahut dengan suaranya yang terdengar keras.

La Maddukkelleng melanjutkan, “Tapi pertama-tama kita harus memikirkan penghuni pulau yang lain. Banyak di antara mereka adalah penghuni asli. Kita harus mempersiapkan majikan pulau yang berstatus Sullewatang atau Matoa. Bagaimana pendapat pamanda Daeng Mangkana ?”

“Iyye, ananda Puengta La Maddukkelleng, saya berpikir kita sebaiknya menugaskan beberapa orang kita untuk tinggal. Mungkin beberapa orang dari mereka yang kita anggap cukup cakap. Selama ini kita telah merekrut banyak sekali tenaga-tenaga. Kalau tak salah penghuni pulau sekarang sudah hampir seribu orang. Sepertinya terlalu berat untuk membawa serta mereka dalam misi ini. Lagi pula seperti kata Puengta, kita meninggalkan pulau secara bertahap. Tidak sekaligus. Kita tetap pertahankan orang kita yang menjadi ketua atau Matoa Pulau. Kecuali kalau semua dari kita akan meninggalkan pulau baru kita serahkan ke penghuni paling senior yaitu Wak Simpurung.”

“Kalau Punggawa Ambo Pabbola, bagaimana pendapatmu?” La Maddukkelleng menoleh ke sebelah kanannya.

“Saya tergantung perintah Puengku. Tapi kalau boleh berpendapat, saya setuju kita meninggalkan pulau secara bertahap. Tujuan pertama adalah ke Muara Kandilo Paser. Karena Puengku menargetkan Muara Kandilo sebagai tujuan, maka kita harus membawa armada lebih banyak ke sana. Semua pasukan elit utama akan mengikut ke rombongan Puengta. Selebihnya menyebar ke semua jalur pelayaran strategis yang disebutkan tadi. Pendapat saya ini kurang lebih sama dengan Daeng Mangkana.”

“Baiklah, saya kira kita harus putuskan meninggalkan pulau ini secara bertahap. Tahap bertama, kapal utama kita ditambah dua puluhan armada lain akan berlayar ke Kandilo. Armada lainnya menyebar dan sebagian masih di pulau ini. Meriam pertahan pulau ini harus tetap di tempat sebagai pertahanan saat kita pergi. Kapitan La Banna segera atur semua. Saya menunggu laporan besok pagi.”

Pertemuan usai, para petinggi itu bubar, meninggalkan La Maddukkelleng yang termangu. Beberapa pelayan dan wanita-wanita setengah umur terlihat membersihkan meja setelah diberi isyarat oleh Puengta. Beberapa kali terlihat ia menghela napas lalu memasuki kamar utama di saoraja pulau itu.

Rambut putih di bagian kanan kepalanya makin terlihat, memberi kesan khas. Sejak peristiwa kepulangan dari Johor, ia juga lebih sering memakai songkok khas Johor Melayu. Penutup kepala itu adalah hadiah dari istrinya yang kini entah di mana. Ah, semoga engkau diselamatkan Allah, istriku. La Maddukkelleng menggumam dengan sedih. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.