SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KESEMBILAN : MUARA KANDILO (Episode-6)

Dari kejauhan, tampak La Sigajang To Passarai bersama La Melleng merangkak naik kapal dengan luka dan pakaian yang robek-robek. Memang luar biasa murid Guru Cenrana ini, dengan kondisi demikian ia masih mampu berenang mencapai kapal satunya. Ia terus mengumpat dan bersumpah akan membalas kekalahannya. Ia tak memerintahkan melakukan penyerangan, jusrtu memerintahkan sisa pasukannya untuk berlayar menuju arah Banjar.

Sejak itu, keberadaan pasukan La Maddukkelleng sudah dideteksi akibat bentrok yang semakin sering terjadi. Bentrok terbesar adalah dengan kapal-kapal perang VOC. Tak sedikit yang telah dirampas oleh pasukan laut La Maddukkelleng di bawah Kapitan La Banna To Assa.

Armada laut La Maddukkelleng sudah mencapai puluhan, dalam catatan ada 90 buah. Dari kapal-kapal layar besar maupun kecil. Ada yang menjadi kapal rampasan ada pula yang dibeli atau ditukar dengan emas, perak atau hasil perdagangan rempah-rempah maupun hasil laut. Kebanyakan telah memiliki persenjataan meriam, dari yang berdaya tembak jauh, maupun dekat.

Apa lagi persahabatan dengan Inggris terus dilakukan dan menjadi pemasok terbesar amunisi dan senjata bagi La Maddukkelleng. Pasukan-pasukan elitnya rata-rata telah memiliki senjata api berupa senapan dan juga pistol. Serdadu-serdadunya kebanyakan juga telah memiliki baju perang yang lengkap.

Pasukan dan perwira-perwira La Maddukkelleng terkenal sebagai serdadu-serdadu tempur yang tangguh dan menguasai bela diri dengan sangat baik. Makin hari nama mereka semakin menebarkan aroma ancaman yang disegani kawan ditakuti lawan.

Tapi kemudian, kehidupan pulau pun makin tidak aman pula. Beberapa kali mereka diserang oleh Belanda yang memiliki persenjataan lebih lengkap. Hanya karena bentuk pulau yang memiliki benteng-benteng alam berupa jurang terjal dan batu karang besar membuatnya sulit ditembus oleh Belanda VOC.

CERITA SEBELUMNYA :

Serangan-serangan itu masih bisa dipukul mundur. Tapi kemudian La Maddukkelleng dan perwira-perwira penasehatnya menyadari bahwa saatnya Pulau Tuah dipertimbangkan untuk ditinggalkan. Maka dalam satu pertemuan khusus di malam terang oleh bulan purnama, persoalan besar ini dibahas secara bersama dan terbatas antara La Maddukkelleng dengan lima penasehat sekaligus panglima-panglima andalannya. Mereka adalah La Maddukkelleng sendiri, Kapitan La Banna to Assa, Daeng Mangkana, Ambo Pabbola, Cambang Balolo dan Puanna Dekke.

“Kehidupan pulau kita semakin tidak aman. Seluruh mata kompeni tertuju ke titik ini. Belanda sudah mengetahuinya. Saya khawatir akan adanya serangan besar-besaran yang akan merugikan kita semua. Meski saya yakin mampu mengalahkan mereka, tapi pulau ini seperti sasaran empuk untuk diserang dari tiga penjuru. Menurut mata-mata yang kita suruh berdagang ke Banjar, kita dapat bocoran bahwa Belanda VOC sedang merancang sebuah serangan besar-besaran ke sini. Seperti kita ketahui, kini Banjar telah menjadi kekuatan hegemoni di Borneo. Sejak Perang Makassar yang menjatuhkan Gowa – Tallo, praktis kekuasaan Belanda makin meluas. Kutai yang tadinya bersahabat di bawah pengaruh Makassar kini oleh Belanda telah diserahkan ke Banjar. Saya mengumpulkan saudara-saudaraku dan pamanda sekalian untuk meminta pendapat.” La Maddukkelleng memulai pertemuan serius itu. Suaranya terdengar jelas dengan artikulasi yang memancarkan wibawa. Meski nampak wajah itu belum terhapus dari guratan kesedihan ditinggal istrinya.

“Tabe Pueng, hamba setuju bahwa tempat ini sudah mulai tidak aman. Tapi pulau kita ini sulit ditembus oleh pasukan mana pun. Pulau ini adalah benteng pertahanan terbaik yang pernah saya lihat. Kita tetap saja di sini sambil memperkuat armada sekeliling pulau dan menambah pasukan.” Punggawa Cambang Balolo yang brewoknya makin lebat bersuara pertama kali.

“Menurut saya sebaliknya, Pueng.” Daeng Mangkana yang lebih senior itu angkat bicara. “Hamba setuju apa yang dikatakan oleh Baginda Yang Mulia. Kita tidak boleh menghabiskan seluruh waktu kita dengan tinggal di tempat ini. Pulau kita ini hanyalah pijakan sementara. Kita memiliki tugas memperkuat diri untuk satu waktu kita semua, atau sebagian dari kita kembali ke Tosora untuk melakukan perhitungan dengan Belanda dan Bone.

Bergantian para elit Pulau Tuah itu berbicara. Pendapat terbelah antara tetap di pulau atau meninggalkannya. Akhirnya La Maddukkelleng mengangkat bicara. Dari pertemuan ini, tertangkap jelas bahwa selain ahli dalam peperangan fisik, mereka juga adalah para perancang strategi yang baik, berwawasan jauh dengan pemahaman akan medan yang lengkap. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.