SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KESEMBILAN : MUARA KANDILO (Episode-5)

“Haiiiiithhhh..!! Pengaruh sihir berkurang, La Maddukkelleng berdiri tegak, agak nanar tapi dengan kesadaran normal. To Passarai masih dalam posisi duduk miring. Berusaha bangkit tapi kembali La Maddukkelleng mengirim serangan dengan tendangan menyamping, ia menyilangkan keris dan tangan menangkis,

“Dukkk.. Braakk..!” Tendangan mengenai tangan yang memegang keris, To Passarai terlempar beberapa depah jatuh di tumpukan peti kayu. Terdengar suara berjatuhan yang keras. Tendangan ini sangat cepat dan berat. Ia bangun dengan mata mendelik, jelas sekali ia terluka. Tapi ia kemudian bangkit lalu kembali menyerang La Maddukkelleng dengan serangan yang lebih nekat. Pertempuran kembali berjalan dengan pihak To Passarai yang terdesak.

Sementara itu perkelahian di atas kapal hampir mencapai klimaksnya. Pasukan To Passarai telah tewas satu persatu. La Banna dan Cambang Balolo setelah tahu kelemahan La Melleng makin mendesak dengan serangan-serangan berbahaya. Pasukan khusus La Maddukkelleng juga memperlihatkan kelasnya sebagai petempur laut yang tangguh. Kapal perang satunya milik To Passarai tak berani menembak kapal tuan mereka sendiri.

Maka mereka hanya menjaga jarak sambil mengawasi dari jauh. Kapal itu sendiri, yang saat ini telah menjadi arena pertempuran mati-matian dua kubu mulai terpisah dari kapal La Maddukkelleng yang menabraknya. Kapal penabrak itu rusak parah dan kini perlahan tenggelam ke dasar laut. Maghrib telah datang, langit mulai berbintang namun pertempuran masih berlangsung.

CERITA SEBELUMNYA :

Dari buritan, ruang palka sampai dek atas yang terbuka. Saling serang, pukul, bacok dan kejar-kejaran. Perlahan, kemenangan sudah hampir di tangan pasukan La Maddukkelleng. Satu persatu pasukan To Passarai meregang nyawa. Bahkan beberapa dari mereka telah melompat ke laut menyelamatkan diri.

Melihat situasi ini, To Passarai mulai cemas. Seluruh kepandaiannya telah dikeluarkan. Namun Arung Peneki ini terlalu tangguh. Hanya karena ia memiliki sihir, maka ia masih mampu berdiri dan terus bertarung. Pada satu gebrakan, ia kembali terkena pukulan di pelipis kirinya. Rasa nyeri dan penasaran membuatnya berniat mengadu nyawa.

Darah terlihat menetes-netes dari keningnya yang pecah. Ia lalu menyerang tanpa memperdulikan keselamatan sendiri. Ia meluncur ke depan dengan tusukan keris yang cepat, tangan kiri bergerak-gerak seperti biasa mengirim hawa sihir ke mata musuh. La Maddukkelleng sudah tahu dan mewaspadai gerakan nekat ini. Ia miringkan tubuh menerima tusukan dan membiarkannya lewat di sisi dada. Lalu secepat kilat memukul dengan gerakan mematahkan ke lengan To Passarai.

Bersamaan dengan itu ia menyodokkan siku ke arah perut. Semua dilakukan dalam gerakan yang sangat cepat. Keris itu terlepas dengan terpaksa. Mempertahankannya akan membuat lengannya patah. Ia masih sempat menghindari serangan tangan, namun sodokan siku itu hampir telak mengenai lambung kanan.

“Ngeeek.. Duasshh…” La Sigajang To Passarai terlempar berguling ke pinggir kapal. Ia berlutut dengan napas sesak. Kemudian berdiri bersiap bertarung lagi, matanya agak berkunang. Kini anak buahnya yang tersisa banyak telah melompat ke laut. La Melleng juga terdesak hebat oleh keroyokan dua orang. Menyaksikan posisi yang tidak menguntungkan ini, secepat kilat ia lalu berbalik lalu meloncat pula masuk ke laut. Sebelumnya ia sempat memberi aba-aba. “Ayo melompat semuaaa…”

“Byuuuurrrrr….” Terdengar suara air laut menerima tubuhnya. La Maddukkelleng bergerak ke arah tepi kapal. To Passarai telah menghilang. Gelap mulai datang. La Banna dan Cambang Balolo juga tak mampu menewaskan musuhnya yang juga ikut melompat ke laut. Pertempuran telah berhenti dengan kemenangan di pihak La Maddukkelleng. Beberapa anak buah To Passarai menyerah. Yang luka-luka diobati, sementara yang meninggal dibuang ke laut.

La Maddukkelleng menghitung, separuh anak buahnya telah gugur. Beberapa luka-luka termasuk Cambang Balolo. Kapal itu juga rusak parah. Segera mereka memperbaiki seadanya. Lampu-lampu dimatikan untuk menghindari serangan dari kapal To Passarai yang selamat. Orang-orang yang menyerah itu dikumpulkan. Yang bersiap jadi anak buah dibawa pulang ke Pulau Tuah sebagai tawanan yang akan dididik sebagai anak buah pulau. Yang terlihat tidak potensi dan ada gelagat melawan, dihukum mati, mayatnya dibuang ke laut. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!