SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KETIGA : MENINGGALKAN WAJO (Episode : 3)

KINI, atas saran Bissu Tungke’, mereka berjanji bertemu di pagi itu untuk mengatur keberangkatan. Saat keributan di Cenrana, ternyata sang guru diam-diam membayangi La Maddukkelleng dan mencegatnya di Sungai Walennae.

“Segera engkau menghadap Puengta Arung Matoa malam ini juga, anakku. Berpamitlah untuk meninggalkan Wajo. Saya yang akan mengatur keberangkatanmu. Beberapa orang pilihan selain pengawalmu juga akan saya siapkan. Saya akan menunggumu di Ale’ Labuaja.” Berkata Bissu Tungke’ yang dianggukkan oleh La Maddukkelleng.

Maka pagi itu bertiga mereka memasuki hutan dan telah sampai di depan rumah satu tiang itu. “Tabe, Pueng, saya La Maddukkelleng telah tiba. Mohon ijin menghadap.” Tak menunggu lama, turun berturut-turut Tunreng Talaga, Bissu Tungke dan seorang pemuda dengan tubuh terlihat kekar dari rumah aneh itu.

Sementara dari arah rimbunan pohon bambu tak jauh dari gubuk-gubuk hitam, bermunculan belasan orang berpakaian ringkas dengan buntalan pakaian di pundak. Kebanyakan dari mereka terlibat dalam prahara di Bone. Rata-rata memakai ikat kepala dari kain sarung yg disebut passapu. Pemuda-pemuda yg terlihat bersemangat itu kini telah berkumpul termasuk La Maddukkelleng dan dua orang pengawal utamanya. Mereka berdiri tegak mengitari Bissu Tungke dan Tunreng Talaga.

Maddukkelleng, Dewata Seuwwae Allah Ta’ala sepertinya sedang mendesain sebuah takdir buatmu dan orang-orang Wajo.” Tunreng Talaga berbicara langsung. Semua menunduk patuh di depan orang tua berpakaian hitam-hitam itu.

BERITA TERKAIT :

Pancaran wibawa yang keluar dari suara seraknya membuat suasana hutan seperti beku. Matanya sipit seperti mata belut, rambut dan kumis serta janggutnya dibiarkan panjang menjuntai. Semua sudah memutih seperti perak berkilau.

“Mata batin saya berkata bahwa takdir besarmu harus kamu mulai dengan mallimbang ri dolangeng (menyeberangi lautan). Semoga engkau yang terpilih untuk menebus kemerdekaan Wajo dari Bone yang dibantu orang-orang kafir Belanda. Merekalah biang dari pecahnya Tellumpoccoe. Gurumu sudah berbicara banyak dengan saya. Maka, saya telah menambah beberapa orang yang akan menjadi pengawal dan abdimu selama di rantauan. Engkau membutuhkan banyak pengawal. La Banna ini murid saya dari Tana Mandar, ia adalah putera salah satu dari perwira Joa’ Pakkabussu (pasukan berani mati istana) di Balanipa. Ia akan menjadi pengawal yang sangat bisa kamu andalkan. Ia ahli dalam pelayaran dan peperangan laut.” Sambil berkata demikian, Tunreng Talaga menoleh ke arah pemuda kekar di sampingnya.

Pemuda yang dikenalkan sebagai La Banna itu maju selangkah lalu membungkukkan badan ke arah La Maddukkelleng.

Iyye, pueng. Hamba siap menjalankan semua perintah dan menemani Puengku kemanapun juga selama raga dikandung badan.”

La Maddukkelleng tersenyum dan menghampiri La Banna lalu memegang bahunya yg besar seraya berkata.

“Engkau dan seluruh yang menemaniku telah menjadi saudara saya hari ini. Apa yang tersakit di badan kalian adalah juga terasa di tubuhku. Kita akan menjalani sompereng bersama dalam keteguhan. Menantang badai dan berpantang pulang sebelum membawa kemenangan.”

Terdengar suara berisik dan pekikan “Iyye pueng” dari semua lelaki muda itu.

Tiba-tiba Bissu Tungke bersuara, “Anakku, selain La Banna, kamu juga akan ditemani oleh beberapa joa (pengawal) dari Gilireng dan Tanete. Mereka rata-rata adalah seperguruan denganmu karena semua pernah belajar satu dua ilmu pukulan dariku. Mereka tadinya akan mengabdi dan menjadi prajurit Wajo, tapi saya berpikir mereka akan lebih berguna jika menemanimu sampai ke tanah seberang.”

Bissu Tungke’ lalu memperkenalkan tujuh orang dari mereka. Di antaranya Daeng Mangkana, La Pallawa, Daeng Malebbi dan lainnya. Semuannya sembilan orang baru termasuk La Banna. Selebihnya adalah pengikut La Maddukkelleng yang berasal dari Peneki dan Singkang seperti Puanna Dekke, La Siraju, Daeng Manambung, La Manrafi dan lain-lain ditambah dua pengawal utamanya yang terus menemaninya ke mana-mana yaitu Ambo Pabbola dan Cambang Balolo.

Seluruh rombongan itu berjumlah tiga puluh satu orang termasuk La Maddukkelleng. Lontara menuliskan nama-nama mereka dalam prasasti tertulis sebagai lelaki yang berhijrah meninggalkan Wajo, yang kelak akan pulang menegakkan kembali harkat dan martabat Wajo. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.