SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KETIGA : MENINGGALKAN WAJO (Episode : 2)

LAMA kelamaan, kawasan itu menjadi wilayah yang dianggap angker, tempat berkumpulnya kaum penghayat dan juga pelarian-pelarian kerajaan dari berbagai negeri. Pihak istana juga tak pernah mengusik mereka. Terdengar kabar kalau istana sebenarnya secara rahasia memiliki hubungan tertentu dengan mereka, terutama untuk urusan-urusan penting dan krusial.

Pada saat islam telah menjadi agama resmi kerajaan, beberapa tokoh utama Ale’ Labuaja, begitu sebutan kawasan itu, memeluk islam. Tetapi masih pada islam mistikal, islam penghayatan yang sinkretis. Mereka membangun rumah kecil beratap ijuk di dataran yang agak tinggi berjauhan satu sama lain. Ada tiga puluh sembilan rumah yang dominan dari ijuk berwarna hitam.

Semuanya menghadap ke satu arah di mana terdapat rumah bertiang satu ukuran besar sebagai pusaran utama. Rumah aneh itu terlihat menjulang di pinggir sungai yang disebut sengkung (belokan sungai dengan pusaran air) yang dalam. Sekelilingnya ada beberapa danau kecil mirip telaga yang terhubung oleh anak-anak sungai. Rata-rata permukaan hutan terdiri dari tanah yang jarang mendapat cahaya matahari penuh. Di sana sini lembab, licin dan berlumpur di beberapa bagian.

Ruang terbuka selain perkampungan itu adalah dataran rendah yang menjadi pinggir sebuah telaga dan anak-anak sungai yang meliuk jauh sampai ke Walennae, sungai besar yang menghubungkan Wajo dengan Bone. Kampung sunyi dengan empat puluh rumah itu menjadi pusat kehidupan hutan selama ratusan tahun. Menjadi penyaksi bisu atas jaman yang terus berganti sejak kedatangan Sawerigading Opunna Ware’ sampai jaman kebataraan berganti akkarungeng di Wajo.

BERITA TERKAIT :

Sepanjang itu pula rumah-rumah tersebut tetap dengan jumlah empat puluh buah dengan rumah satu tiang sebagai rumah induk. Tak mudah memasuki hutan itu. Selain pohon-pohon raksasa yang pertumbuhan secara liar, di sana sini juga terdapat rawa-rawa yang berlumpur. Sungai kecil yang menghubungkan danau atau tepatnya rawa-rawa besar dengan Walennae memang melintasi hutan, tapi anak sungai itu dihuni banyak sekali buaya.

Konon, di sungai itulah tempat bermukimnya Petta Tadampalie, penghulu para buaya yang masih berkerabat dengan Arung Matoa Wajo yang pertama. Terlihat banyak buaya dengan berbagai ukuran berjemur atau berenang perlahan menyusuri air. Bagi yang tak mengenal daerah itu, sebaiknya akan berpikir berpuluh kali untuk melintas atau memasukinya tanpa hajat yang penting.

La Maddukkelleng bersama dua pengawalnya terus masuk jauh ke tengah hutan. Saat kawasan belukar yang berlumpur telah mereka lalui, di pinggir sungai yang salah satu cabangnya mengalir ke arah telaga kehijauan, rumah aneh satu tiang itu terlihat. Sebenarnya bukan satu tiang, tetapi rumah yg dibangun di atas pohon ajuara (beringin) raksasa. Di situlah tempat tinggal Tunreng Talaga Petta Labuaja, orang tua yang bisa disebut sebagai majikan hutan.

Seorang tokoh yang kemunculannya sangat jarang. La Maddukkelleng pernah dibawa oleh gurunya Bissu Tungke’, bertemu dan diperkenalkan sebagai murid. Ia masih mampu mengingat jalan-jalan rahasia untuk sampai ke tempat itu. Dari situ ia mengetahui adanya hubungan garis perguruan antara gurunya dengan Tunreng Talaga. Semacam paman guru. Dalam pertemuan itu La Maddukkelleng sempat mendapatkan beberapa warisan ilmu pukulan dan juga sebilah keris yang disebutnya warisan Petta La Pateddungi.

“Engkau hanya bisa menemuiku lagi jika sangat perlu dan mendesak. Keris ini adalah penjaga rumah yang baik, simpanlah di tiang pusat rumahmu (dalam tradisi Bugis disebut possi bola). Tidak kuperkenankan engkau ke sini kecuali untuk urusan penting. Karena aku tak tertarik dengan urusan-urusan yang tak penting.” Begitu kalimat dari orang tua yang wajahnya tak pernah memperlihatkan senyum itu. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.