SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 8)

“PIKIRANMU selaras dengan hasil pertemuan kami semalam. Sementara waktu engkau harus meninggalkan Tana Wajo sebelum pagi mulai panas. Waktu kalian tak banyak. Sebentar lagi akan datang tentara Kerajaan Bone. Bergegaslah, anakku”.

La Maddukkelleng belum bangkit ketika suara lain berbicara, “Berdirilah kalian. Lalu, apa bekalmu dalam perantauan dan negeri apakah tujuanmu? Salah seorang anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (Ranreng Bettengpola) yang berdiri di samping Arung Matoa, La Tenri Wija Daeng Situju bertanya.

La Maddukkelleng bangkit berdiri bersama dua rekannya. Dalam keremangan pagi yang beranjak terang, dia terlihat lebih dewasa dan tegap. Aura keteguhan kesatria lelaki Bugis terpancar saat ia berkata, “Ampun beribu ampun Puengku, bekalku hanyalah tiga cappa (ujung) anugerah Dewata Seuwwae (Sang Dewata Tunggal) yang melekat dalam diriku. Yaitu cappa lila (ujung lidah), cappa kawali (ujung badik) dan cappa katawang (ujung kelamin). Dengan tiga cappa ini, hamba akan menantang badai dan gelombang seraya berteguh untuk selalu menjaga nama baik Wajo di negeri orang.” La Maddukkelleng berhenti sejenak seolah menghayati gemuruh dadanya yang berguncang.

“Tujuan hamba adalah Negeri Johor, tempat bermukim kakanda Daeng Matekko yang telah lama tak kembali ke Peneki.”

BERITA TERKAIT :

La Salewangeng Arung Matoa Wajo menimpali, “Berangkatlah segera, anakku. Dalam perantauanmu tetap junjung tinggilah adab dan nilai-nilai orang Wajo. Tetaplah di jalan kebenaran agama. Jangan jauh dari mengingat Allah, junjunglah langit di mana pun bumi kamu pijak..”

La Maddukkelleng dan dua orang pengawalnya menghatur sembah sekali lagi lalu berpamitan keluar dari istana yang bersuasana makin murung itu. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!