SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 7)

MAKA petarung-petarung muda itu pun berloncatan naik perahu. Mereka membawa lari tiga perahu panjang. La Maddukkelleng mengerahkan tenaga besar untuk mendayung. Ia bersama rekan-rekannya menjauh dari tempat itu. Demikian pula perahu kedua dan ketiga. Musuh-musuhnya tidak mengejar. Hanya terdengar suara La Sigajang yang mengumpat-umpat marah.

Ketika mereka sudah jauh dari tempat itu, terdengar banyak letusan senjata api dari arah perkelahian tadi. Rupanya pasukan kerajaan sudah tiba dan menembaki mereka dari jauh. Tapi jangkauan peluru sudah tidak sampai ke mereka. Perahu lalu melaju makin kencang. Semua yang ada dalam perahu mendayung sepenuh tenaga menuju Tosora.

Rombongan Arung Matoa yang lebih dulu meninggalkan Bone berjalan pulang ke Wajo dalam sunyi dan diam. Tak ada percakapan berarti. Bahkan pun setelah sampai di istana Tosora. Arung Matoa memerintahkan memanggil beberapa perwira penting dan penasehat senior istana yang berjumlah enam orang (Arung Enneng).

Pertemuan terbatas itu digelar tengah malam di ruang belakang istana. Keremangan lampu dari obor sekeliling dinding menciptakan bayang aneka bentuk yang memenuhi seisi ruang. Pertemuan darurat itu seolah dihadiri makhluk gaib yang menari dalam gerak bisu lampu-lampu yang terus meliuk.

“Pamanda dan pemangku ade’ semua, sebagaimana kabar yang kami bawa dari Bone, telah terjadi huru hara di Pesta Teddo puteri Arumpone.” Baginda La Salewangeng membuka pertemuan dengan mimik murung.

BERITA TERKAIT :

“Telah jatuh korban yang tidak sedikit. Ini peristiwa serius yang bisa menimbulkan peperangan. Sementara kita sadar, saat ini tidaklah mungkin melawan Bone yang kuat dalam segala aspek. Tak lama lagi pasukan Bone akan tiba demi menangkap La Maddukkelleng dan kawan-kawannya yang terlibat di kericuhan itu. Menyerahkan La Maddukkelleng begitu saja menjadi pertanda kita tak lagi memiliki kedaulatan secuil pun. Mempertahankannya pun akan memicu pertikaian besar yang berujung pada perang yang hampir mustahil kita menangkan. Saya ingin pendapat Pamanda dan saudara sekalian.” Arung Matoa yang bijak ini berkata pelan namun terdengar sangat jelas.

Bergantian penasehat dan petinggi penting yang hadir menyampaikan pendapat. Malam kian larut dan kegundahan seolah menyelimuti seluruh sudut ruang istana. Ketika akhirnya diputuskan La Maddukkelleng harus meninggalkan Wajo, kokok ayam telah bersahutan dan subuh telah datang. Pertemuan penting itu bubar sementara. Satu dua para petinggi kerajaan itu beralih ke masjid samping istana.

Di sana telah penuh jamaah, subuh adalah salah satu momen pertemuan yang melibatkan seluruhnya. Dari Raja (Arung Matoa), Dewan pemerintah Kerajaan Wajo yang disebut tiga Ranreng (semacam legislatif) yakni Bettengpola, Tua, dan Talotenreng; beberapa lembaga-lembaga kerajaan, cerdik pandai istana, barisan pangeran dan orang-orang kebanyakan.

Kecuali lima tempat khusus di belakang imam ditambah lima tempat pengawal di shaf belakangnya, hampir seluruhnya diisi oleh siapa pun yang lebih dulu datang. Kadang kala para pangeran muda yang lambat datang menempati shaf belakang atau teras masjid. Masjid istana ini adalah pusat pertemuan raja dan rakyat. Setiap selesai subuh, biasanya ada petuah-petuah dari Arung Matoa, salah satu dari Arung Enneng dari tiga Ranreng, imam istana (kadi) atau cendekiawan kerajaan.

Pada saat peristiwa ini terjadi, bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung tempat penyimpanan harta kekayaan di sebelah timur masjid serta gedung padi di TellulimpoE. Sejarah mencatat seperti itu.

Usai subuh, nasehat pagi dilakukan singkat, itu pun disampaikan oleh imam salat. Arung Matoa beserta rombongan usai salat langsung bergegas memasuki ruang paseban utama. Saat itulah muncul tiga bayangan menghaturkan sembah.

“Ampun, Baginda Puengku, saya bertiga memohon waktu untuk berpamitan.” La Maddukkelleng dan dua orang sahabatnya, berlutut.

Baginda Arung Matoa menarik napas panjang. Ia menyuruh ketiganya bangkit dan berkata, “mana yang lainnya? Kenapa hanya bertiga?”

“Kakanda Pallawa Gau dan teman-temannya sudah ke Pammana, yang lain di luar Tosora menanti, Puengku. Saya beserta kawan-kawan memilih untuk menghindar. Sompe (berlayar) ke negeri seberang mungkin jalan terbaik bagi kami. Mohon restu persetujuan dan petunjuk junjungan kami.” La Maddukkelleng dan dua orang kawannya tetap berlutut di depan Sang Raja. Arung Matoa yang bijaksana itu untuk kesekian menarik napas. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.