SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 6)

IA mengumpat keras. “Kurang ajar kamu, terimalah ini… Ciaaaat…!!” La Sigajang kembali menerjang ke arah La Maddukkelleng yang memapaki serangan itu dengan serangan pula. Badik dan keris saling beradu menciptakan bunga api berpijar.

La Maddukkelleng kini bertarung dengan lebih tenang. Ia tahu sedang menghadapi lawan yang tangguh, tidak boleh terlalu bernafsu. Emosi yang tidak terkontrol akan membuka banyak celah dan kelemahan.

Ia ingat gurunya Bissu Tungke’ pernah berpesan untuk selalu tenang dalam menghadapi setiap pertempuran. Ketenangan adalah ibu kemenangan, dan kemarahan adalah ibu kesialan. Ia lalu mencoba menaikkan tingkatan silatnya dari Sulapa Eppa menjadi Sulapa Enneng. Meski belum sempurna tapi ia mencoba menyerang dengan serangan yang sudah sering kali dilatihnya sendiri.

Perubahan cara bersilat ini tak urung mengagetkan La Sigajang. Semua serangannya kini membalik menyerang diri sendiri. La Maddukkelleng juga terlihat makin cepat dalam gerakan dan sangat efektif dalam bertahan. Sebagai murid utama dari La Pallao Guru Cenrana La Sigajang sungguh tak menyangka ada anak remaja yang terhitung lebih muda dua atau tiga tahun darinya memiliki kepandaian hebat begini.

Pantas Baco Lenggo terbunuh dalam sekali gebrakan, ia pasti menganggapnya enteng. Berpikir begini iapun memainkan mencaknya yang paling ampuh. Guru Cenrana terkenal dengan ilmu memainkan keris dan perkelahian jarak pendek memakai tenaga dalam. La Sigajang terus mendesak dalam perkelahian jarak pendek. Namun keampuhan badik di tangan La Maddukkelleng selalu membuyarkan serangan-serangannya.

Perlahan namun dalam tempo cepat, La Maddukkelleng mulai unggul. Sebuah sapuan kaki membuat La Sigajang jatuh berdebug namun segera melompat mundur. La Maddukkelleng terus mengejar dengan maksud menghabisinya segera. Kini tak ada waktu berpikir, semua detik bisa berarti nyawa. Masih dalam pengaruh beringas La Gecong miliknya, La Maddukkelleng mengirim tusuk panjang ke arah dada La Sigajang yang masih terhuyung hampir jatuh.

“Hiyaaaaaat…” Tusukan itu datang bagai mata naga maut mendekati dada La Sigajang. Namun di saat genting itu, tiba-tiba sebuah tombak panjang menangkis datangnya badik. Terdengar bunyi besi yang beradu, bunga api muncrat.

“Trannnngng…..!! La Maddukkelleng sampai terhuyung mundur, namun penangkis itu juga jatuh terduduk oleh kerasnya adu senjata. Pemuda penolong To Passarai itu berdiri dan kembali melintangkan tombak panjangnya. Ia pemuda tinggi kurus dengan rambut yang panjang. La Maddukkelleng merasakan musuhnya ini lebih unggul tenaga dari To Passarai.

“Engkau hampir membunuh Puangku. Aku La Melleng pengawal para pengeran istana akan memberimu pelajaran. Terima ini..”

BERITA TERKAIT :

“Ciaaaatt….!” Pemuda yang rupanya adalah pengawal utama To Passarai mengirimkan serangan tombak ke arah La Maddukkelleng. Perkelahian kembali terjadi dan lebih seru dari semula. Apa lagi kini La Sigajang To Passarai juga sudah bangkit dan ikut mengeroyok La Maddukkelleng.

Sementara itu, perkelahian lain di tempat itu pun makin ramai. Para pengeroyok Pallawa Gau bertambah jumlahnya, meski kini dibantu oleh beberapa pengawal dari Wajo namun dia sudah terlihat terluka. Beberapa pengeroyok juga sudah ada yang bersimbah darah, demikian pula dua teman La Maddukkelleng sudah bergeletak di tanah.

Dari jauh terdengar derap kaki kuda pasukan kerajaan yang mulai berdatangan ke tempat itu. Melihat keadaan yang genting, La Maddukkelleng meningkatkan daya serangnya. Ia mengeluarkan seluruh ilmu-ilmu yang baru-baru ini dipelajarinya di puncak Balease’.

Ia kini bersilat dengan sangat cepat disertai pengerahan tenaga Lemmung Manurung secara penuh di kedua tangannya. Seluruh tubuhnya telah berpeluh membuat muka dan tangannya terlihat mengkilap. Setelah derap langkah kaki kuda makin terdengar, ia lalu berteriak nyaring mengeluarkan Lemmung Manurung melalui jurus Sulapa Arua yang masih mentah dan sama sekali belum terlatih.

Tapi akibat serangan dahsyat ini mengejutkan bagi kedua penyerangnya. Baik To Passarai maupun La Melleng terpental mundur. Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh La Maddukkelleng untuk melompat mundur ke arah perahu dan berteriak menyuruh rekan-rekannya mundur.

“Ayo naik perahu, musuh terlampau kuat dan banyak. Cepat kanda Pallawa Gau. Kita mundur…!!” (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!