SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 5)

PERKELAHIAN atau tepatnya pertempuran itu berlangsung tidak lama. Tapi korban tidak terduga sangatlah banyak. Amukan para pemuda bangsawan Wajo membawa petaka yang tidak sedikit. La Maddukkelleng sendiri terlihat beringas seperti kesetanan.

Ini untuk pertama kalinya ia bertempur sungguhan setelah tahunan berlatih di bawah gemblengan Bissu Tungke’ yang kemudian disempurnakan oleh Karame’E ri Tompo Balease’. Tanpa ia sadari, badik terkutuk La Gecong telah sembarang ia cabut dan mendatangkan api maut yang menyambar-nyambar.

Dalam sekejap telah jatuh korban belasan orang Bone. Tergeletak meregang nyawa dan sebagiannya mundur ke arah gazebo salassa yang berjarak tak jauh dari arena sabung ayam yang kini telah berubah menjadi sabung manusia. Dari pihak Wajo sendiri jatuh dua orang korban. La Maddukkelleng masih berdiri dengan badik berlumur darah diangkat tinggi menunjuk langit. Pada saat itulah, rombongan Arung Matoa dan Arung Bone tiba di tempat itu.

Tak ada waktu untuk menjelaskan petaka ini. Pikiran orang-orang Wajo hanya satu, segera melarikan diri atau mati diamuk pasukan kerajaan. Saat La Maddukkelleng dan Pallawa Gau mundur ke arah sungai, sayup terdengar teriakan Arumpone La Patau Matanna Tikka memerintahkan untuk mengejar anak-anak muda itu.

Arung Matoa dan barisan tamu dari Wajo lainnya diam seribu bahasa tak mampu berkata-kata. Kejadian ini akan berbuntut panjang. Entah hikmah takdir apa yang sedang berlangsung. Petta La Salewangeng hanya menghela napas saat Arumpone berkata dengan nada gusar,

“Wajo harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Pulanglah saudara sekalian, kami akan mengutus pasukan khusus untuk menangkap anak muda itu dan mengadilinya di sini.” usai berkata begitu, Raja Bone balik badan dan pergi dari tempat itu tanpa menunggu jawaban dari Arung Matoa La Salewangeng.

BERITA TERKAIT :

Sementara itu rombongan La Maddukkelleng yang terus mundur jauh ke arah sungai dihadang sekelompok kecil pasukan bersama beberapa pemuda bangsawan yang berlari cepat mendahului mereka ke tempat perahu-perahu ditambatkan. Perkelahian kembali terjadi, kini lebih sungguh-sungguh dan berat. Pallawa Gau dikeroyok tiga pasukan sekaligus sementara La Maddukkelleng berhadapan dengan seorang pemuda yang terlihat sangat marah.

“Engkau telah membunuh Baco Lenggo. Aku, La Sigajang To Passarai akan menuntut balas atas kematian saudara seperguruanku. Engkau harus mati di tanganku!” Berkata begitu pemuda yang bernama La Sigajang itu mencabut sapukala (keris panjang yang bentuknya lurus) miliknya dan langsung menyerang dengan penuh amarah. La Maddukkelleng menerima serangan itu dengan kembali mencabut badiknya yang panjang, Gecong Pangkajenne.

Terjadi perkelahian hidup mati di tepi sungai. Saling bacok saling tebas dalam gerakan maut bermaksud membunuh lawan. La Maddukkelleng merasa penyerangnya ini lebih tangguh dari Baco Lenggo yang tadi dibunuhnya. Maka ia pun kembali memainkan silat Sulapa Eppa miliknya yang paling ampuh. Setiap pertemuan pukulan keduanya merasakan tangan bergetar hebat, pertanda tenaga yang berimbang. La Maddukkelleng lalu mengubah silatnya. Ia memainkan silat dari ayahandanya La Mataesso, Sendeng Baruga dengan kombinasi Lemmung Manurung yang mendatangkan hawa panas dan suara angin menderu.

“Hiiyaaaattt…. saaahhh…!” La Maddukkelleng berteriak keras dan dengan tenaga lemmung penuh ia melakukan tusukan keras dan cepat ke arah lambung kiri lawan. La Sigajang menangkis dengan keris panjangnya. Terdengar bunyi senjata tajam beradu. Akibatnya keduanya termundur satu langkah. Kesempatan itu dimanfaatkan cepat oleh La Sigajang untuk mendahului dengan serangan tebasan keris yang dilakukan dengan gerakan menyibak dari dalam.

Ujung keris mencium lengan La Maddukkelleng, tapi seperti yang dilakukannya terhadap Baco Lenggo, ia bermaksud melakukan tukar tambah serangan. Luka kecil akan dibayar dengan tikaman mematikan. Saat sapukala itu menyentuh lengannya, secepat kilat ia mengirim tikaman mengarah dada La Sigajang, disertai tenaga penuh Lemmung Manurung.

“Hayyyaaaaaaaat…” La Sigajang tak menyangka gerakan mematikan ini. Ia melempar tubuh ke belakang untuk menyelamatkan diri sambil mengirim dorongan dengan tangan kirinya yang terbuka. Ia lolos dari ujung badik berbisa itu, tapi sebuah sodokan tangan dari La Maddukkelleng mengenai pelipis kirinya.

“Duk.. pletaattt…” Tidak secara telak mengenai sasaran tapi tak ayal membuat La Sigajang terhuyung. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!