SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 4)

KETIKA Bori’ Belawa, julukan ayam jago Arung Matoa Wajo, berhadapan dengan Pute Pajolloi ayam aduan Mangkau Bone, seolah menjadi puncak pertarungan harga diri pangeran-pangeran Bone dengan rombongan pangeran pengawal Arung Matoa Wajo. Dua ayam itu di lepas di kalangan yang telah diberi pagar mirip sarung panjang yang membentuk lingkaran besar.

Si Bori’ Belawa berkokok panjang saat berhasil menumbangkan ayam aduan Bone yang tergeletak di tanah. Tapi Si Bori’ juga terlihat terluka oleh taji Si Pute Bone. Rombongan Wajo bersorak menyambut kemenangan. La Pallawa Gau, salah satu pengiring Arung Matoa dari Pammana masuk kalangan dan mengangkat tinggi-tinggi si ayam jago dan berkata, “Inilah Bori’ Belawa, wija penerus dari Bori’ I La Galigo yang telah memenangkan sawung ini.”

Entah dari mana asalnya dan siapa yang mulai, dari tempat bangsawan muda Bone terdengar teriakan dan kegaduhan. “Pertarungan ini tidak sah. Ada sabotase.. Sawungeng dinyatakan poli (draw)..!!”

Tentu saja rombongan orang Wajo tidak mengerti dan kebingungan dengan kisruh yang tiba-tiba saja terjadi ini. La Maddukkelleng yang tahu sejak awal orang-orang Bone tak menyukai kehadirannya merasa bahwa ini hanya sengaja mencari gara-gara. Keributan sulit dihindari. Ia meraba pinggangnya, memastikan gagang La Gecong Pusaka Warisan Bissu Tungke’ ada di sana.

“Jangan sembarangan mengeluarkan kawali (badik) ini, anakku. Kecuali dalam keadaan terpaksa dan tak bisa dihindari. Setiap ia tercabut dari sarungnya, ia selalu haus darah. Kawali ini memiliki kutukan Pangkajenne, ia akan menuntunmu mengeluarkan jurus paling mematikan dari inti silatmu. Hati-hati engkau menggunakannya. Sebaiknya jadikan ia sebagai senjata pamungkas.” Terngiang ucapan guru uniknya itu saat ia mendekati Pallawa Gau yang berdiri mematung di tengah arena sabung ayam. Ia menyentuh lengan kakak sepupunya itu dan berbisik,

Pole paseng ni, daeng (telah datang pesan leluhur, kakanda). Kalau orang-orang ini ingin mempermalukan Wajo, maka kita tak punya pilihan lain selain melawan mereka.”

BERITA TERKAIT :

Sambil berkata begitu La Maddukkelleng menempelkan punggungnya ke punggung Pallawa Gau. Mereka kini saling memunggungi dalam posisi memegang gagang badik di pinggang.

“Siapa pun telah menyaksikan bahwa ayam kami dari Wajo telah menang. Menyebutnya poli adalah sifat tidak jujur dan ingin menang sendiri. Kami menegaskan kemenangan ini dan kalau perlu akan mempertahankannya secara laki-laki.” Suara La Maddukkelleng lantang di tengah kegaduhan yang makin riuh.

Bersamaan dengan itu, rombongan pemuda Wajo yang lain berloncatan masuk arena dengan posisi siap tarung. Tiba-tiba entah dari mana datangnya, bangkai ayam milik Bone tiba-tiba dilemparkan ke tengah kerumunan orang-orang Wajo. La Maddukkelleng tak bisa lagi menahan amarah. Detik berikutnya, sebilah tombak panjang menyerbu laksana kilat bergemuruh ke tengah-tengah orang Wajo.

Ini serangan pertama yang berbahaya. Pemegangnya seorang pemuda tinggi besar bernama Baco Lenggo yang merupakan satu dari pengawal utama pangeran Bone. Ia adalah salah satu murid utama dari La Pallao Guru Cenrana. Ia dikenal seorang pannigara muda pilih tanding di Cenrana. La Maddukkelleng menyambut serangan itu dengan merendahkan kuda-kuda dan bergulingan kearah penyerang.

Menapaki dengan sebuah pembukaan jurus sakti Sulapa Eppa yang selama ini belum pernah dipraktekkan dalam pertandingan sesungguhnya. Baco Lenggo terkejut dengan serangan kilat itu. Ia melompat ke samping kiri lalu mengirimkan tusukan tombak ke arah bayangan yang bergerak demikian cepat. Namun La Maddukkelleng telah mengerahkan Lemmung Manurung secara penuh, ia biarkan tombak yang mengarah ke perutnya. Ia hanya memutar tubuh. Tombak menggores perut, ada luka kecil yang sontak mengeluarkan darah.

La Maddukkelleng sebenarnya salah perhitungan, ia berpikir tenaga lemmungnya akan melindungi perutnya dari bacokan. Namun ternyata penyerang ini memiliki tingkatan lemmung yang cukup tinggi pula, tidak terlalu jauh di bawahnya. Tapi, tukar tambahnya dengan goresan luka di perut berbuah serangan mematikan ke Baco Lenggo.

Tanpa ampun dan secepat kilat Gecong Pangkajenne bersarang tepat di bawah ketiaknya. Tak sadar La Maddukkelleng telah melakukan gerakan unru Sulapa Eppa paling ampuh yang baru-baru ini disempurnakannya di Tompo Balease’. Darah muncrat dan Baco Lenggo tergeletak mati. Sekujur tubuhnya menghitam.

Sejenak La Maddukkelleng tertegun melihat bisa racun luar biasa dari Gecong Pangkajenne miliknya. Tapi itu tak berlangsung lama. Disertai teriakan yang hiruk pikuk, perkelahian tak seimbang dalam jumlah segera terjadi. Puluhan orang-orang Bone menyerbu dengan marah menyaksikan kematian Baco Lenggo. La Maddukkelleng melompat ke arah Pallawa Gau dan kembali saling menempelkan punggung masing-masing. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andai Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!