Sawit Diakui Warga Tanjung Batu Tingkatkan Kesejahteraan

Noval : Di Situlah Pulihnya Perekonomian Masyarakat Tanjung Batu

“BANYAK yang mengatakan Sawit merusak alam, tapi bagi kami. Sawit membantu perekonomian masyarakat yang ada di Tanjung Batu,” kata Noval, warga Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Jum’at (19/11/2021).

 

DETAKKaltim.Com, BERAU : Mantan Kepala Kampung ini menceritakan bagaimana Kelapan Sawit mengubah taraf hidup warga di Kampungnya, yang semula menjalani hidup sebagai Nelayan Bagan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Selain harus menantang maut saat melaut mencari ikan karena terkadang secara tiba-tiba berhadapan gelombang besar dan hujan badai dengan perahu tradisional, sering kali juga hasilnya tidak mencukupi meski hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Tanjung Batu ini adalah salah satu Kampung yang mayoritas warganya Nelayan,” ungkap Noval dalam perbincangan melalui Telepon Selulernya.

Berbicara tentang kesejahteraan masyarakat Tanjung Batu, tidak bisa dipisahkan dengan kehadiran PT Sentosa Kalimantan Jaya (SKJ). Sebuah Perusahaan Kelapa Sawit yang mempekerjakan ribuan tenaga kerja lokal, dan mengayomi 422 Kepala Keluarga (KK) pemilik Kebun Plasma yang memperoleh Sisa Hasil Usaha (SHU) dari Koperasi yang bekerja sama dengan perusahaan.

Pada era tahun 1990an, kata Noval, belum ada yang namanya Perusahaan Kelapa Sawit di Berau. Yang ada hanya Perusahaan yang bergerak di Bidang Perkayuan, yang mengantongi Izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH).

Tahun 2008 barulah muncul Perusahaan PT SKJ. Kehadiran perusahaan ini memberikan harapan masyarakat Tanjung Batu kala itu, yang membawa misi usaha Perkebunan Kelapa Hibrida. Namun gagal.

Perusahaan ini kemudian banting stir dengan membuka Perkebunan Tanaman Jarak. Sekali lagi, Dewi Fortuna belum berpihak kepada perusahaan yang diakui masyarakat Tanjung Batu sebagai perusahaan yang tahan banting, mengalami kegagalan.

Tidak patah arang, perusahaan ini kemudian tahun 2009 menemukan seberkas sinar cerah setelah beralih ke usaha Perkebunan Sawit. Sejak dimulai, kata Noval, perusahaan telah melibatkan begitu banyak warga segempat.

Mulai pembukaan lahan, pembibitan, hingga penanaman. Perusahaan merekrut tenaga kerja. Mulai ibu-ibu rumah tangga, hingga anak-anak remaja yang menganggur direkrut perusahaan menjadi tenaga kerja.

Pelan tapi pasti, warga sekitar mulai merasakan mamfaat kehadiran Kelapa Sawit. Kesejahteraan warga mulai meningkat, warga yang tadinya berprofesi sebagai Nelayan Bagan perlahan mulai meninggalkan pekerjaan tersebut dan beralih menjadi Petani Sawit.

Mereka sudah tahu dan rasakan, hasil dari pada Sawit dengan bermitra PT SKJ betul-betul menopang perekonomian rumah tangga mereka. Punya kelebihan, dibandingkan menjadi Nelayan Bagan.

“Setelah ada Sawit, di situlah pulihnya perekonomian masyarakat Tanjung Batu,” kata Noval.

PT SKJ, diakui Noval sangat luar biasa membantu masyarakat Tanjung Batu. Bahkan dari luar Tanjung Batu, masyarakat mulai berdatangan. Bukan hanya bekerja, namun mereka datang membuka usaha berjualan. Mereka bahkan membangun rumah di sekitar perusahaan, untuk membuka usaha.

“Karena perputaran Uang dari hasil usaha Sawit itu,” ungkap Noval.

Iapun membeberkan, dengan karyawan lebih seribu orang dengan gaji rata-rata Rp3 Juta, ada sekitar Rp3 Milyar Uang yang beredar di Tanjung Batu setiap bulan. Mereka jarang keluar, belanjanya di Tanjung Batu.

“Kami hitung dengan pemerintah Kampung, Rp2 Milyarlah dalam satu bulan. Itu karyawan SKJ saja,” beber Noval.

Kini daerah Tanjung Batu diakuinya cukup maju. Karena itu, meski banyak orang mengatakan Sawit merusak alam. Namun Noval menegaskan, bagi warga Tanjung Batu Sawit mendatangkan kesejahteraan.

Rata-rata pendidikan anak-anak di Tanjung Batu diakuinya hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), kini sangat jarang ditemui anak-anak yang putus sekolah di daerah itu.

Tahun 2020, dibeberkan Noval SHU nilainya lebih Rp1 Milyar. Sebelumnya, ia mengungkapkan lebih dari pada itu.

“Secara keseluruhan, sangat luar biasa. Kalau yang namanya PT SKJ atau Kelapa Sawit Tanjung Batu ini luar biasa dalam membantu perekonomian masyarakat.” tegas Noval menandaskan.

BERITA TERKAIT :

Sedikit cerita tentang PT SKJ, pada kunjungan DETAKKaltim.Com ke lokasi Perkebunan PT SKJ, Kamis (8/4/2021). Diungkapkan Kepala Kampung Tanjung Batu Darwis, PT SKJ merupakan salah satu perusahaan yang sudah lama berkontribusi di Kampung Tanjung Batu.

PT SKJ memiliki luasan HGU 7.125,44 Hektar, di dalamnya terdapat areal kawasan konservasi Pohon Mangrove seluas 1.337,8 Hektar terawat dan terjaga dengan baik.

Sebagaimana isu miring yang kerap dilontarkan pihak-pihak yang tidak mampu bersaing dengan Sawit melalui berbagai cara, keberadaan Perkebunan Kelapa Sawit PT SKJ juga sempat diisukan merusak Hutan Mangrove di Pesisir Pantai Laut Tanjung Batu.

Namun, dari pantauan langsung di lapangan menemukan fakta. Hutan Mangrove yang diisukan rusak itu, tidak benar.

Hutan Mangrove yang diisukan mengalami kerusakan ini berada di dalam wilayah Hak Guna Usaha (HGU) milik PT SKJ, dimana Perusahaan Perkebunan Sawit ini tengah mengerjakan pembuatan jalur Sekat Pembatas Api, untuk pencegahan terjadinya Kebakaran Hutan.

Nampak di lokasi itu Sekat Pembatas Api telah terbentuk, di antara Tanaman Mangrove di sepanjang pinggiran Laut Tanjung Batu.

Di tempat tersebut juga terlihat beberapa warga setempat yang sedang bekerja, melakukan penanaman Pohon Mangrove. (DETAKKaltim.Com)

Penulis : LVL

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!