SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 3)

BERDUA mereka lalu menuruni pegunungan itu dengan langkah cepat. Sepanjang jalan La Maddukkelleng bercerita soal latihan-latihannya selama empat puluh hari di Tompo Balease’. Ketika ia memperlihatkan kemajuan silat dan tenaga lemmungnya, Bissu Tungke’ tak mampu menyembunyikan kekagumannya.

Muridnya ini dalam hitungannya telah menguasai silat Sulapa Enneng dengan sangat sempurna. Tenaganya membesar. Saat memainkan jurus terakhir, terdengar samar angin menderu di sekitarnya. Udara panas memenuhi setiap pukulannya. Bissu Tungke’ takjub. Itulah suara Lemmung Manurung yang mulai mekar. Tiga atau empat tahun ke depan, muridnya ini akan menjadi pannigara yang sulit dicari tanding maupun bandingnya.

Begitulah, La Maddukkelleng tumbuh menjadi pangeran kecil yang tangguh dengan tatapan mata tajam seperti elang. Kulit yang agak kegelapan dengan rambut hitam pekat melengkapi pancaran aura pemimpin yang keluar dari perilaku dan nada bicaranya yang tegas jelas. Terkadang Bissu Tungke’ yang sangat jarang berbicara itu tercenung takjub saat memandangi bocah yang sudah dianggap anak dan dipilihnya sebagai pewaris semua ilmu-ilmunya itu.

Anak ini memiliki bakat kepemimpinan yang luar biasa. Batinnya berkata. Meski usia baru dua belas tahun lebih, tapi sangat sulit mencari anak-anak seusianya yang sanggup menandingi kemampuan beladiri dan dasar kesaktiannya. Bahkan mungkin untuk orang dewasa dia sudah menjadi lawan yang sangat tangguh. Ia memiliki fisik yang sehat. Sambungan-sambungan tulangnya kuat, keningnya lebat melengkung hampir menyatu, dan kalau berjalan terlihat kokoh di atas dua pasang kakinya yang berotot.

BERITA TERKAIT :

Arung Matoa juga sangat menyayangi keponakannya. Baginda sangat tertarik dengan La Maddukkelleng kecil yang menonjol dibandingkan dengan anak-anak arung yang lain. Pernah satu ketika saat malam masuk dinihari, baginda berjalan memasuki halaman belakang istana secara diam-diam. Saat itu bulan purnama sempurna menyinari Tosora yang damai bening. Cahayanya mirip lampu yang mencipta bayang-bayang dan warna kehidupan malam yang damai.

Di pojok taman yang terbuka, baginda melihat bocah itu duduk bertelanjang dada memandang langit malam yang bersih dari awan. Posisinya membelakangi kedatangan Arung Matoa. Saat mendekat dengan langkah pelan untuk menyapanya, tanpa disangka La Maddukkelleng sudah berbalik badan dan bangkit menyapa dengan takzim,

“Iyye Puengku, adakah suruhan untuk hamba?”

Baginda La Salewangeng terkejut dan juga takjub. Langkah kakinya sudah sangat ringan saat memasuki taman.

Bahkan rusa pun takkan sadar kedatangannya jika sedang mengarahkan kehati-hatian seperti itu. Tapi bocah remaja itu bisa tahu kedatangannya dari balik punggungnya. Ini bukti kematangan seorang calon kesatria utama.

“Saya sedang berjalan-jalan mengitari ruang dalam istana. Kenapa engkau belum tidur, anakku?” Baginda bertanya menutupi kekagetannya.

“Hamba sebentar lagi masuk ruang tidur, Pueng. Saya sedang menikmati cahaya bulan di atas sana. Begitu indah dan mempesona.”

“Jangan terlalu malam tidurmu. Kalau pun harus begadang, sebaiknya sekalian ke masjid samping untuk salat malam. Tapi sudahlah, lain kali saja.” Berkata begitu, Raja Wajo itu berlalu meninggalkan La Maddukkelleng yang mengangguk hormat.

Saat itu La Maddukkelleng telah 13 tahun lebih. Tapi fisik dan perangainya tumbuh melampaui usianya. Ia terlihat lebih tinggi dan tegap dibanding pemuda-pemuda lainnya. Maka, ketika hari itu diputuskan siapa-siapa yang akan mengiringi rombongan Arung Matoa untuk menghadiri pesta Matteddo Puteri Arumpone I Wale di Cenrana, nama La Maddukkelleng termasuk yang terpilih dalam barisan para pangeran Wajo.

Ia bertugas membawa tempat sirih Arung Matoa. Dalam tradisi matteddo, biasanya akan diadakan adu sabung ayam dan pertunjukan ketangkasan seperti bersilat, menunggang kuda dan berburu rusa di hutan.

Maka terlihatlah dalam pertunjukan pesta itu La Maddukkelleng mempersaksikan kelasnya sebagai pemuda bangsawan Wajo yang piawai dalam bersilat dan berkuda. Pada hari kedua pesta yang sedianya akan diadakan tujuh hari, La Maddukkelleng berhasil memanggul rusa buruan terbesar dari dalam hutan yang langsung dipersembahkan pada I Wale, puteri Raja Bone yang manis.

Dalam sekejap, nama La Maddukkelleng menjadi buah bibir para tamu dari seluruh pelosok dan negeri-negeri kecil di bawah Bone (negeri Palili). Hal ini membuat beberapa pangeran Bone menunjukkan ketidak senangan terhadapnya. Terlebih, I Wale sang puteri kecil terang-terangan memperlihatkan kekagumannya. Pemuda-pemuda bangsawan Bone itu cemburu. Hal itu memuncak saat hari keempat pesta yang menggelar acara sabung ayam. (BERSAMBUNG/ DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!