SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KEDUA : PRAHARA DI PESTA TEDDO (Episode : 2)

SELAMA empat puluh hari ia diberi latihan-latihan khusus oleh Karame’E. Dari kolam panas, beralih ke kolam dingin. Terus begitu di tiap latihannya yang tiada henti penuh zikir dengan lafadz tunggal, Laailaaha’illallah. Pukulan-pukulan dan unru mencaknya diperbaiki dan disempurnakan.

Melalui wejangan Karame’E ia menemukan inti silat Sulapa yang bertumpu pada pernapasan dan kebangkitan tenaga lemmung dari dasar jiwa. Itulah mengapa kadang disebut juga lemmung jiwa. Semakin tinggi tingkatan Silat Sulapa seseorang, maka semakin tinggi pula keampuhan Lemmung Manurung yang dikuasainya.

Jadi, dengan latihan yang benar, silat dan tenaga lemmung akan tumbuh berbarengan. Saling menunjang. Pencapaian lemmung tertinggi dari Silat Sulapa yang kita kenal Lemmung Manurung hanya dicapai oleh Karame’E sendiri. Sebuah puncak yang disebut Sulapa Tello, segi telur. Sebuah pencapaian tenaga sakti puncak yang jika dimainkan akan menimbulkan angin panas menderu-deru yang keluar dari kaki tangan orang yang memainkan silat Sulapa.

Pada tingkat yang mendekati sempurna, Lemmung Manurung akan menjadi tameng dari segala senjata tajam dari musuh yang tingkatannya lebih rendah. Sepintas seperti kebal senjata tajam, padahal sesungguhnya senjata itu tidak sampai menyentuh kulit. Ia terlidungi oleh hawa lemmung yang menyelimuti seluruh tubuh.

Selama latihan khusus itu, La Maddukkelleng hanya makan telur-telur burung yang banyak di puncak itu beserta madu tawon yang juga banyak bersarang di sekitarnya. Ia merasa seperti terlahir kembali, menjadi lebih kuat berlipat dari sebelumnya. Aliran darahnya terasa lebih deras, tubuhnya pun jadi ringan.

Ia hanya perlu lebih memperkuatnya melalui latihan-latihan. Pada hari ke empat puluh yang terakhir itu, seperti kebiasaannya berendam di kolam panas dingin, selepas subuh Karame’E muncul di depan gubuk darurat tanpa didahului suara apa-apa. Kemunculannya bagai bayangan setan. La Maddukkelleng memberi sembah penghormatan.

“Anakku, hari ini telah selesai kuturunkan penyempurna bagi ilmu-ilmumu. Di dunia ramai, sangat jarang yang mampu mengimbangi tingkatanmu dalam hal tenaga lemmung. Engkau hanya perlu memperbanyak latihan. Jangan takabur dalam melangkah. Jangan bersombong dengan ilmumu. Selalu ada langit di atas langit. Berpegang teguhlah pada kebenaran, saya melihat hidupmu akan penuh liku, tantangan dan pengabdian. Turunlah bersama gurumu..”

BERITA TERKAIT :

Pada detik berikutnya, La Maddukkelleng mengangkat wajahnya untuk terakhir kalinya memandang sosok manusia sakti itu. Namun bayangnya pun sudah tak nampak. Entah bagaimana caranya ia bergerak. Lenyap begitu saja. Ia lalu memberi penghormatan dengan membungkukkan badan ke arah puncak tertinggi.

“Pesan Karame’E akan saya ingat dan pegang teguh. Terima kasih atas segala kebaikan yang telah Puengku berikan ke saya.” La Maddukkelleng menjawab takzim, namun tempat itu telah sepi, hening tanpa suara. Lebih senyap dari suara kesunyian.

Ia menuruni tebing melalui tangga jalan setapak menuju mulut terowongan kecil, lalu mendorong satu batu sangat besar dengan pengerahan penuh tenaga lemmung. Batu sebesar kurang lebih lima ekor kerbau itu digeser dengan mudah, ia tak sadar jika orang biasa yang melakukannya, lima orang laki-laki dewasa pun takkan mampu.

Telah mengalir dalam tubuhnya tenaga lemmung yang dahsyat. Pintu batu itu satu-satunya jalan masuk untuk mengakses puncak Balease’. Jalan lain berupa jurang terjal yang hanya bisa didaki oleh orang-orang berilmu tinggi. Itu pun hanya di musim kemarau di mana permukaan tebing batu telah kering dari lumut-lumut musim hujan.

Ia melompat keluar dan setengah berlari ke lembah Waru dekat gunung sebelah di mana gurunya telah menunggu. Ia merasakan lompatannya lebih ringan dan bertenaga. Di lereng sebelah timur, jauh di lembah yang dipenuhi warna kehijauan yang mengkilap, terlihat gurunya menunggu dalam sumringah dan wajah yang bersinar-sinar.

“Anakku, engkau kini telah jauh melampaui dirimu empat puluh hari lalu. Bahkan jika engkau rajin berlatih, engkau akan jauh melampaui diriku. Mari kita pulang. Setelah jauh dari sini, kau perlihatkan padaku kemajuan yang telah engkau capai.” Bissu Tungke’ berkata sambil menepuk pundak muridnya itu. La Maddukkelleng hanya tersenyum. (BERSAMBUNG/ DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!