SANG PEMBEBAS

Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng

BAGIAN KESATU : TITISAN SAWERIGADING (Episode 6)

DALAM keadaan terluka, ia berhasil lolos dan menghilang menuju Sungai Walennae. Lalu atas bantuan diam-diam Puengta La Mataesso yang memiliki hubungan perguruan dengannya, ia bersembunyi di tengah Danau Lampulung yang penuh buaya, sebuah tempat yang sulit diakses. Bissu Sakti itu akhirnya lenyap bersama misterinya selama bertahun-tahun.

Saat mudanya sebelum mengabdi sebagai penghulu para Bissu di Siang, Bissu Tungke’ menguasai Bulu Orai (Gunung Barat), yakni pegunungan yang membentang antara Soppeng, Tanete sampai Marusu. Bissu Tungke’ sebenarnya hanyalah julukan yang berarti biksu tunggal, nama aslinya adalah La Cella’. Ia adalah kepala para pannigara muda yang membentuk kekuatan sebagai pasukan bayaran. Ia menjadi penyuplai tenaga prajurit dari kerajaan-kerajaan yang membutuhkan bantuan.

Kawasan Bulu Orai secara rahasia menjadi wilayah tak bertuan yang dikuasai para petualang, perampok maupun pelarian-pelarian. La Cella’ sebelum dikenal sebagai Bissu Tungke’ pernah beruntung bertemu dan mendapatkan didikan dari Karame’e Tompo Balease’. Sang Maha Guru inilah yang menurunkan beberapa pukulan kepadanya yang kemudian mengangkat tingkatannya dari pendekar petualang biasa menjadi penguasa Bulu Orai.

La Cella kemudian dikenal sebagai Calabai Tungke’na Bulu Orai (Waria tunggal penguasa Gunung Barat) yang lalu menyempurna menjadi Bissu Tungke’. Nama besar gurunya yang tak pernah terlihat dan berasal nun jauh di utara, meski tak ikut campur urusan-urusannya, cukup menggetarkan nyali orang yang mendengarnya.

Betapa tidak, dari semua anreguru atau mahaguru para pannigara di seantero dunia, ia disebut sebagai pemilik tingkat tertinggi, pemilik ilmu sakti Lemmung Manurung; sebuah pencapaian amanrapiseng (kesaktian) yang disetarakan To Manurung (manusia dewa). Silatnya yang dikenal sebagai Mencak Sulapa hanya bisa dipelajari oleh orang-orang yang telah memiliki dasar silat yang tinggi.

BERITA TERKAIT :

Tingkatan terendah dari silatnya disebut Sulapa Dua, kemudian Sulapa Eppa, Sulapa Enneng, Sulapa Arua sampai Sulapa dua belas. Tingkat tertinggi hanya dimiliki oleh Karame’e Tompo Balease’ yang disebut Sulapa Tello (segi telur), segi kesempurnaan yang mengantarkan seseorang bisa bergerak seperti bayangan dengan tenaga lemmung (tenaga sakti) yang sangat tinggi. La Cella sendiri baru mencapai Sulapa Arua (sulapa tingkat delapan). Tapi itu pun sudah cukup membuat namanya menjulang. Disegani kawan ditakuti musuh.

Perilaku La Cella mirip waria. Lemah lembut dalam berbicara dan menyukai kesendirian. Sudah bertahun-tahun dia tak bertemu gurunya sehingga ia pun melakukan apa saja tanpa harus meminta restunya. Pada saat menjadi pelarian dan dikejar oleh empat kerajaan, La Cella pernah berhari-hari bersimpuh di jalan naik menuju puncak Balease’, kediaman gurunya, tapi tak digubris. Hingga pada hari ke empat puluh barulah ia mendengar suara gurunya bergema dari arah puncak.

“Saya tidak ingin diganggu, engkau pulanglah, hadapi takdirmu sebagai lelaki sejati. Berhentilah menjadi calabai (waria).”

La Cella atau kala itu sudah berjuluk Bissu Tungke’ akhirnya turun gunung menghadapi masalah hidupnya, menjadi manusia paling dicari seluruh kerajaan.

Sejak itu pula puncak paling tinggi yang dari jauh terlihat seperti passapu (pengikat kepala) berwarna hijau yang tegak itu tak pernah didekati oleh manusia. Sekelilingnya berupa tebing batu cadas berlumut ditambah cerita dongeng tentang Karame’e menjadikan orang-orang takut mendekat. Hanya orang tertentu dengan kepandaian tinggi yang berani melintas, itupun dengan ritual tertentu mohon ijin melewati lerengnya. Puncak gunung yang disebut Tompo Balease’ itu akhirnya terselimuti keangkeran yang misterius.

Orang-orang dusun yang dekat dengan tempat itu dan telah bermukim ratusan tahun tidak ada yang berani menyebut namanya yang kemudian orang benar-benar melupakannya. Sejak itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa bertemu dengannya. Misalnya orang sakit, terluka dan orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan. Tak sedikit yang beruntung mendapatkan petunjuk-petunjuk amanrapiseng (kesaktian) darinya. Semua orang yang ditemuinya selalu dititipi satu dua ilmu. Karena itu dia disebut anreguru manurung, maha guru yang turun dari langit. (BERSAMBUNG/DETAKKaltim.Com)

Penulis : Andi Ade Lepu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!