Prof Rudi Ibaratkan Industri Migas Indonesia Seperti Nenek Tua

Prof Rudi : 60 Tahun Lalu, Indonesia Itu Bagai Virgin

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas Perwakilan Kalimantan Sulawesi bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), menyelenggarakan kegiatan Temu Media Daerah 2021 di Hotel Aston Samarinda, Rabu (13/10/2021) pagi,

Kegiatan Temu Media Daerah 2021 menghadirkan narasumber Prof Rudi Rubiandini, yang membawakan materi Tata Kelola Industri Hulu Migas dan Tantangan ke Depan yang dihadiri puluhan awak media di Samarinda.

Dalam paparannya, Prof Rudi menyampaikan isu nasional Bisnis Hulu Migas antara lain penurunan kontribusi Migas pada penerimaan negara. Tahun 2011-2014 sekitar US$30 Milyar, tahun 2019 dan 2020 hanya US$12 Milyar.

Begitu pula nilai Cost Recovery (CR) sebagai bagian dari sistem KKS berupa investasi awal, yang ditanggung K3S dianggap mengurangi APBN dan merugikan negara.

“Fakta bahwa produkis meluncur turun dan pendapatan negara tergelincir jatuh,” kata Prof Rudi.

Baca Juga :

Menjawab pertanyaan yang diajukan DETAKKaltim.Com terkait seberapa lama lagi masa produktifitas Sumur-Sumur Minyak yang ada di Kalimantan jika tidak ada lagi eksplorasi, Prof Rudi menjelaskan jika menghitung dari volume Minyak yang ada dibagi dengan produksi yang ada per tahun dalam perkiraan kasarnya tidak sampai 20 tahun.

“Kalau produksinya seperti sekarang. Namun kalau dibagi dengan produksinya lebih rendah, umurnya lebih panjang, kalau pembagiannya lurus aja bisa 20 tahun,” jelasnya.

Persoalannya, sebutnya, tidak ada artinya meski berproduksi jika dalam jumlah sedikit. Karena itu, agar produktifitas Minyak di Kalimantan tidak habis dalam 20 tahun itu, menurut Prof Rudi, tidak ada jalan lain selain terus melakukan eksplorasi.

Menjawab pertanyaan Kedua yang diajukan DETAKKaltim.Com terkait tantangan terbesar industri Migas di Indonesia dan Kalimantan khususnya saat ini, ia menjelaskan, tantangannya adalah investor besar meninggal Migas.

Perusahaan Migas internasional beralih ke Energi Baru Terbarukan (EBT), bahkan Pertamina sendiri disebutkannya ikut-ikutan menjadi perusahaan energi.

“Banyak Uang yang dulunya diperoleh dari Migas sekarang dipakai untuk mengembangkan EBT, artinya keinginan orang untuk melakukan investasi Migas mulai berkurang. Itu di internasional,” jelasnya.

Bagaimana dengan di Indonesia, menurutnya sama juga. Bahkan di Indonesia ditambah ketika lapangan tidak lagi seperti 60 tahun lalu, pemerintah Indonesia tidak mengubah nilai tawarnya. Lapangan Minyak di Indonesia yang ada saat ini diibaratkannya seperti nenek-nenek tua, bukan perawan lagi yang bisa dijual mahal.

“Kalau 60 tahun lalu, Indonesia itu bagai virgin (perawan-red) Migas. Sehingga 15 (persen) untuk Minyak dan 30 (persen) untuk Gas mau mereka datang. Karena yang digarap virgin, sekarang ini industri Migas Indonesia itu kayak nenek-nenek tua. Kalau sudah nenek-nenek tua masih mau jual 15 (persen) juga, nggak mau. Mereka mintanya gede, perusahaan-perusahaan itu,” jelasnya.

Dalam penilainnya, pemerintah jangan lagi meminta 15 persen untuk Minyak dan 30 persen untuk Gas. Namun hal itu tidak terjadi, sehingga ia menilai ada masalah di nasional. Nilai tawar industri Migas Indonesia masih terlalu tidak menarik, sehingga perusahaan-perusahaan Migas itu beralih ke negara-negara lain seperit Vietnam, Thailand, Afrika, dan Qatar.

Berbicara tentang Kalimantan, menurutnya di Kalimantan sudah habis di darat sehingga harus masuk ke Laut dalam. Itu membutuhkan investor besar.

Hadir dalam kegiatan ini Wisnu Wardana Manager Senior Humas Perwakilan Kalimantan Sulawesi, dan Shanti Radianti Head Of ComRel & CID Zona 9.  (DETAKKaltim.Com)

Penulis : LVL

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!