Rumah Mewah YPS Mansyur Tuah, Dihuni Lansia dan Orang Terlantar

H Surianysah : Ingin Membahagiakan Kedua Orang Tua

H.Suriansyah alias H.Sasa
H.Suriansyah. (foto : ib)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Bagi orang di luar lingkungannya, rumah mewah lantai 2 bercat warna biru muda dipadu dengan les biru tua itu, tidak akan menyangka jika penghuni rumah ini adalah orang-orang terlantar dan lanjut usia (Lansia).

Begitulah sekilas gambaran rumah yang disediakan Yayasan Peduli Sesama (YPS) Mansyur Tuah di Jalan Damanhuri, Kecamatan Sungai Pinang Dalam, Samarinda, Kaltim, untuk menampung orang-orang terlantar dan Lansia. Rumah pribadi peninggalan orang tua Haji (H) Suriansyah (46) atau akrab disapa H Sasa.

Di rumah inilah H Sasa selalu meluangkan waktunya untuk merawat orang-orang terlantar dan Lansia. Menurut pengusaha sukses asal Samarinda ini ketika ditemui Wartawan DETAKKaltim.Com di rumah itu, ada 15 orang saat ini dirawat di YPS Mansyur Tuah, Lansia dan orang-orang terlantar.

Dari perbincangan dengan DETAKKaltim.Com malam itu, Sabtu (5/6/2021). H Sasa mengisahkan awal berdirinya YPS Mansyur Tuah, dimana ia termotivasi untuk berbuat baik kepada sesama.

Semasa ibunya masih hidup, H Sasa memang sudah kerap membantu orang lain, namun waktu itu dia mengaku tidak pernah mau tampil. Namun setelah diberi masukan sama sejumlah Ustadz dan Kyai, akhirnya ia mau muncul dengan harapan bisa menjadi contoh bagi yang lain.

“Ibarat tangan kanan memberi, tangan kiri tak boleh tahu. Saya selalu menyuruh orang lain jika ingin memberikan bantuan,” kata Ketua YPS Mansyur Tuah ini.

Semula rumah mewah itu dia bangun untuk membahagiakan orang tuanya. Tapi baru 8 bulan ditempati, tahun 2019, ibundanya meninggal dunia. Sejak itulah rumah tersebut ia jadikan YPS Mansyur Tuah, tempat penampungan orang-orang terlantar dan Lansia. Nama YPS Mansyur Tuah itu sendiri, Ia ambil dari nama kedua orang tuanya.

Baca juga:  Respon Pernyataan Presiden, Pengurus SMSI Minta Pemerintah Buat Crisis Center Virus Corona

“Mansyur nama bapak, sedangkan Tuah adalah nama ibu,” ujarnya.

H Sasa berpikir dari pada rumah itu kosong tidak ditempati, muncullah inisiatif untuk dimanfaatkan menampung orang terlantar dan Lansia sampai sekarang ini.

Dalam merawat para Lansia dan orang terlantar, H Sasa mempekerjakan 5 orang karyawan, dan 1 orang tenaga kesehatan (Bidan), yang secara khusus datang mengontrol kesehatan mereka.

“Alhamdulilah semuanya merasa betah, dan sehat selama berada di sini,” ujarnya.

Sejauh ini H Sasa mengaku tidak pernah mengeluhkan soal biaya merawat mereka. Sekalipun YPS Mansyur Tuah ada kerja sama dengan Dinas Sosial, ia tidak pernah meminta apalagi berharap dapat bantuan dari pemerintah.

Bahkan, katanya, pernah ada orang yang datang ingin menyalurkan bantuan di YPS Mansyur Tuah, malah justru minder setelah melihat rumahnya.

Lansia dan orang-orang terlantar yang dirawat di YPS Mansyur Tuah adalah mereka yang memang hidupnya memprihatinkan, tidak punya keluarga.

Ada juga di antara mereka yang masih memiliki keluarga, namun sengaja dititipkan karena sudah tidak sanggup mengurus. Mereka semua dirawat, yang sakit diobati sampai sembuh.

Apa yang dilakukan H Sasa semata-mata hanya karena Allah Swt. Para Lansia ia perlakukan dengan baik, dan menganggapnya sebagai orang tua sendiri.

“Semua ini saya lakukan dengan ikhlas, karena ingin membahagiakan kedua orang tua yang telah meninggal,” ungkapnya.

Diapun mengaku tak segan-segan memberhentikan karyawannya, bilamana ada yang berbuat kasar kepada mereka. Dari pengamatan dan wawancara media ini di rumah itu, rata-rata mereka mengaku senang berada di sana.

Salah seorang lansia bernama Krisna Heriati mengaku baru 3 minggu berada di sana, dan masih memiliki keluarga di Samarinda. Wanita Lansia ini mengaku berada di YPS Mansyur Tuah, karena dititipkan anaknya.

Baca juga:  PH Terdakwa Kasus Narkoba Kecewa, Ini Sebabnya

Berbeda dengan Sabran bersama ayahnya yang nampak agak  sakit-sakitan, keduanya mengaku baru saja masuk dan sudah merasa nyaman di tempat itu.

Sabran bersama ayahnya merasa dilayani dengan baik. Merekapun berharap agar bisa berada lebih lama.

“Kami ini orang susah, hanya bisa berdoa semoga yang punya tempat ini dipanjangkan umur, diberikan kesehatan dan rejekinya selalu melimpah,” sebut ayah Sabran dengan mata berkaca-kaca sambil mengangkat kedua tangannya berdoa.

Sebelum berada di YPS Mansyur Tuah, mereka berdua tinggal di kawasan Rawa Indah, Samarinda, bersama kakak ayah Sabran, penjaga kebun warga. Tapi setelah kakaknya meninggal dunia, merekapun akhirnya terlantar.

Nasib sama juga dialami Yayan bersama ibundanya yang menderita penyakit stroke. Yayan mengaku berada di tempat itu setelah bapaknya mendadak meninggal dunia, sehingga tidak ada lagi yang  merawat ibunya. Yayan sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, karena kondisi fisiknya yang terlahir cacat.

“Alhamdulilah selama 2 minggu berada di sini, ibu sudah bisa makan dan nampak sehat. Saya sendiri juga sehat,” ucap Yayan sambil tersenyum.

Kembali ke cerita YPS Mansyur Tuah, kepedulian kepada sesama tidak hanya sebatas pada Lansia dan orang terlantar.

Ternyata Yayasan ini banyak sekali melakukan kegiatan sosial, untuk membantu masyarakat terlebih dimasa pandemi Covid-19.

Berita terkait :

Kegiatan sosial yang sudah pernah dilakukan YPS Mansyur Tuah berupa, bedah rumah membangun Pesantren, Masjid, menyantuni anak yatim piatu, membantu anak putus sekolah, membangun jalan makam menuju pekuburan, membantu warga tidak mampu, membuka warung makan gratis 3 kali seminggu, dan masih banyak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Baca juga:  Akibat Wabah Covid 19, BPKAD Bontang Dua Kali Lakukan Pergeseran Anggaran

Bahkan pada penghujung bulan Ramadha 1442 H, H Sasa membelanjakan Rp50 Juta dalam sehari untuk memborong semua makanan di 2 Pasar Ramadhan, yang kemudian dibagikan kepada pengguna jalan di Kawasan Jalan Kehewanan dan Jalan KH Wahid Hasyim. Apa yang dilakukannnya saat itu, sontak membuat seorang penjual kue menangis lantaran saat sepi pembeli, tiba-tiba dagangannya diborong habis.

Setidaknya H Sasa sudah meniatkan dimanapun dia berada, akan selalu menebar kebaikan kepada sesama. Seperti dalam penuturannya, akan terus ia lakukan hingga akhir hayatnya.

Hal itu juga terlihat bagaimana kesibukannya menerima kedatangan tamu-tamu yang datang meminta bantuan, bahkan hingga malam saat H Sasa berada di rumah penampungan itu setelah siangnya berkeliling memberikan bantuan. (DK.Com)

Penulis : ib

Editor   : Lukman

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!