Road to One Million Barrel, Second Golden Era, Mungkinkah?

Oleh : Lukman                                                                                                                                                              Wartawan DETAKKaltim.Com                                                                                                                                                                                      INDONESIA pernah berada di antara 11 negara produsen minyak terbesar di dunia yang menempatkannya pada posisi memiliki pengaruh yang cukup besar dalam keanggotaan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) , Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi yang didirikan Negara Kuwait, Irak, Iran, Arab Saudi, dan Venesuela, 14 September 1961 di Baghdad, Irak.

Kapan itu? membuka lembaran-lembaran sejarah kita akan temukan hal itu terjadi pada periode 1980-2000. Pada saat itu, produksi tahunan minyak Indonesia rata-rata berada pada kisaran 1,5 juta barel/hari. Masa puncaknya terjadi pada tahun 1981 dimana produksi minyak mentah mencapai 1,6 juta barel/hari, masa ini kemudian disebut Golden Era!.

Bahkan sebelum era itu, setelah menemukan minyak dari lapangan Minas di Kabupaten Siak, Riau, dan Lapangan Duri yang masuk Wilayah Kerja Blok Rukan juga di Riau yang dikelola oleh PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) tahun 1977, produksi minyak dalam negeri mencapai 1,68 juta barel/hari. Sungguh angka produksi yang pantastis kala itu.

Bagaimana dengan sekarang? Dari catatan yang ada, saat ini rata-rata produksi ada pada kisaran 750 ribu/ BOPD (Barrel of Oil Per Day) atau Barel Minyak Per Hari. Atau hanya separuh dari angka yang diperoleh pada masa Golden Era. Terakhir kali angka One Million Barel/BOPD diketahui terjadi tahun 2006, 14 tahun silam.

Saat ini, pemerintah melalui Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), sebuah institusi yang dibentuk oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2013, tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, menggaungkan hasrat besarnya untuk kembali ke masa keemasan produksi minyak dalam tema One Million Barrel.

Program ini tentu layak diapresiasi di tengah munculnya pemikiran bahwa industri Migas telah memasuki fase sunset industry, dan pendapat itu memang tidak bisa dinafikan manakala melihat realita target lifting minyak dari tahun ke tahun terlihat mengalami penurunan. Dibandingkan tahun 2019 dan 2020 saja sudah mengalami penurunan. Dalam Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020 pemerintah menargetkan lifting minyak sebesar 734 ribu barel per hari, lebih rendah 5,29% target tahun sebelumnya (APBN 2019) sebesar 775 ribu barel per hari.

Penurunan ini tentu memberikan dampak yang besar terhadap program-program pemerintah pusat hingga ke daerah, yang masih menempatkan lifting Migas dalam kerangka makro ekonomi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sebagai salah satu sektor yang sangat penting terhadap keuangan negara. Mengingat setiap kenaikan atau penurunan harga minyak US$ 1 Dolar per barel akan berdampak terhadap pendapatan pemerintah serta belanja negara.

Mengejar target One Million Barrel tentu bukan perkara mudah, namun bukan tidak mungkin diwujudkan manakala setiap stakeholder baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di dalamnya bersinergi, serta didukung oleh kondisi politik dalam negeri yang stabil meski terjadi pergantian pucuk pimpinan negara sekalipun. Dan dengan catatan telah ada analisa yang didukung data-data valid mengenai peluang, tantangan, kelebihan, dan kelemahan untuk mencapai target tersebut bisa direalisasikan, bukan hanya sekedar semangat dan hasrat besar untuk “berbulan madu” yang kedua.

Menyimak catatan-catatan yang ada di berbagai tempat, terbaca bagaimana langkah-langkah yang diambil Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto yang menjadi Komponis (meminjam istilah dalam musik) Program Road to One Million Barrel ini. “Murid” mantan Menteri BUMN Dr Sugiharto pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini memiliki 4 strategi jangka pendek dan panjang yang akan dilakukan, untuk mencapai target tersebut dengan mengedepankan strategi eksplorasi yang masif.

Keempat strategi itu masing-masing ; Optimasi kegiatan/produksi existing operation, Speed up dari ekplorasi ke produksi, Implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR), dan Mempercepat kegiatan eksplorasi.

Untuk optimasi kegiatan, selain melakukan langkah control terhadap implementasi investasi yang telah diajukan dan disetujui di Pedoman Tata Kerja (Work Program and Budgeting-WPnB), dalam strategi ini juga mencegah decline alamiah sebesar 20 persen dengan penerapan teknologi.

Strategi berikutnya mempercepat proses penyelesaian perijinan dan rencana pengembangan (Plan of Development/POD), SKK Migas mendorong untuk mempercepat berproduksi. Baik secara langsung operator atau kerja sama terkait aspek finansial dan teknologi.

Implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR) sebagai strategi penggunaan teknologi yang berhubungan proses di reservoir, terkait dengan pengangkatan minyak yang belum bisa terangkat dengan cara pengangkatan primer dan sekunder.

Terakhir, strategi yang digunakan untuk mencapai target One Million Barrel adalah mempercepat kegiatan eksplorasi. Upaya ini untuk menambah sumur-sumur minyak yang ada saat ini, namun telah mengalami penurunan produksi. Data yang ada menyebutkan Indonesia memiliki 129 lapangan dengan 15 Wilayah Kerja dan 3,1 miliar barel minyak recoverable resource.

Dari serangkaian data dan strategi yang diramu untuk mencapai target One Million Barrel pada tahun 2030, kita boleh memiliki pemikiran yang optimis bahwa hal itu bisa tercapai manakala melihat geliat pengembangan dan inovasi infrastrukur, yang dilakukan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PT PHI) selaku induk perusahaan melalui Operator Wilayah Kerja yang ada.

Informasi terakhir menyebutkan bahwa PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) selaku operator Wilayah Kerja (WK) Mahakam, melaksanakan Sail Away Ceremony (upacara peluncuran ke laut) Proyek Peciko 8A. Dimana proyek ini oleh Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno disebutkan menjadi bagian dari upaya SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), dalam merealisasikan pencapaian target produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas ke 12.000 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada 2030.

Sebelumnya juga, Selasa (1/9/2020), PT PHM secara resmi merealisasi pekerjaan konstruksi 3 anjungan lepas pantai untuk Lapangan Sisi Nubi dan South Mahakam (dinamai Proyek JSN) dengan investasi senilai US$105 Juta.

Saat penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Supply, Construction and Commissioning (EPSCC) dengan PT Meindo Elang Indah (MEI) proyeks tersebut di Jakarta, Senin (27/7/2020), Plt Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas Sulistya Hastuti Wahyu dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini sekaligus merealisasi satu bagian yang harus dilakukan SKK Migas dan KKKS, untuk mendukung pencapaian target produksi 1 juta Barel pada tahun 2030.

Berangkat dari angka produksi pada kisaran 750 ribu/ BOPD saat ini, untuk mencapai target produksi minyak 1 juta Barel Per Hari/BOPD masih ada waktu 10 tahun ke depan, 2020-2030, untuk mewujudkan Second Golden Era. Semoga saja terwujud. (DK.Com)

Sumber : Dikutip Dari Berbagai Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.