Dua Residivis Narkoba Akui Pesan Sabu dari Batam Setengah Kilo

Harga Rp250 Juta Dibayar Setelah Barang Habis Terjual

Sabu Akan Dijual di Tanah Hulu

Terdakwa Juliandi dalam sidang putusan kasus tahun 2019. (foto : LVL)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Dua terdakwa masing-masing Juliandi alias Bindie Andi anak dari Melur Sucipto (alm.), dan Muhammad Iqbal Bin H Masrul Kurnia mengakui semua perbuatannya di depan Sidang Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda, Selasa (9/6/2020) sore.

Keduanya dalam berkas terpisah didakwa melakukan tindak pidana percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana Narkotika dan Prekursor tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I yang beratnya melebihi 5 gram, sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 114 Ayat (2) Junto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dalam dakwan Kesatu dan Pasal 112 Ayat 2 Junto Pasal 132 Ayat (1) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dalam dakwaan Kedua.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Joni Kondolele SH MM dengan Hakim Anggota Deky Velix Wagiju SH MH dan Ir Abdul Rahman Karim SH, mengungkap bagaimana Narkoba seberat 509 Gram/Netto sampai ke Samarinda dari Pulau Batam.

Menjawab pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Syaiful Adenan SH dari Kejaksaan Tinggi Kaltim, terdakwa Muhammad Iqbal yang kini masih menjalani hukuman akibat melakukan tindak pidana Narkoba tahun 2016 dengan hukuman 8 tahun penjara, mengakui jika Sabu tersebut merupakan pesanannya melalui perantara Juliandi.

“Kamu waktu pesan berapa kilo? Setengah kilo?” tanya JPU

“Iya pak,” jawab terdakwa singkat.

“Harganya berapa?” tanya JPU lagi.

“250 (Juta),” jawab terdakwa.

“Sudah dibayar?” tanya JPU lagi.

“Belum,” jawab terdakwa singkat.

Pengiriman Sabu tersebut, disebutkan terdakwa, menjawab pertanyaan JPU melalui Tiki. Terdakwa juga mengakui pernah dihukum, 2 kali dengan saat ini. Terdakwa Juliandi juga mengakui pernah dihukum dan 3 kali dengan kali ini dalam kasus Narkoba.

Menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Juliandi mengaku dia yang membeli Sabu di Pulau Batam dari Pepen Rp250 Juta. Untuk sampai ke Samarinda, Juliandi minta alamat di Samarinda dari Muhammad Iqbal, diperoleh alamat adik terdakwa Muhammad Iqbal. Sabu tersebut kemudian sampai di Samarinda, Sabtu (23/11/2019).

“Untuk membayar Rp250 Juta itu siapa?” tanya Ketua Majelis Hakim.

“Saya pak,” jawab terdakwa.

“Siapa saya?” tanya Ketua Majelis Hakim lagi.

“Iqbal,” jawab terdakwa Iqbal.

Ditanya bagaimana terdakwa akan membayar itu, dijawab jika barang sudah habis terjual. Barang tersebut akan ada menjualkannya di luar, namun terdakwa mengelak jika barang tersebut akan dijualkan adik terdakwa yang jadi saksi dan menjadi alamat pengiriman barang. Terdakwa menyebut, barang tersebut akan dijual di Tanah Hulu oleh orang bernama Rizky.

Juliandi residivis Narkoba kelahiran Batam (1985), pertama kali dihukum 9 Tahun 6 Bulan denda Rp1 Miliar Subsidair 3 bulan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda, Januari 2016 atas kepemilikan Narkoba jenis Sabu 558,53 Gram/Brutto.

Kemudian September 2019 kembali dijatuhi hukuman 15 tahun penjara denda Rp1 Miliar Subsidair 6 bulan atas kepemilikan Narkoba jenis Sabu seberat 502,86 Gram/Brutto atau seberat 497,86 Gram/ Netto.

Berita terkait : Dihukum 15 Tahun Penjara, Residivis Narkoba Nyatakan Terima

Kini bersama Muhammad Iqbal, kembali Juliandi tersandung kasus Narkbao jenis Sabu seberat 509 Gram/Netto. Dalam menjalani persidangan, keduanya didampingi Penasehat Hukum (PH) Syahroni SH dan Rekan.

Keduanya ditangkap anggota Kepolisian dari Ditresnarkoba Polda Kaltim di Lapas Bayur kelas 111 A Samarinda, Jalan Padat Karya, Desa Bayur, Samarinda Utara, Kalimantan Timur, Sabtu (23/11/2019) sekitar Pukul 14:00 Wita.

Sidang akan dilanjutkan pekan depan dalam agenda pembacaan tuntutan. (DK.Com)

Penulis : LVL

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.