Melirik Peluang di Tengah Wabah Covid 19, Pengusaha Lokal Produksi APD

Kesulitan Mendapatkan Bahan Baku

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Maraknya wabah Covid-19, ternyata berdampak pada kenaikan harga Alat Pelindung Diri (APD), khususnya pada masker, hand sanitizer, dan pakaian hazmat (hazardous material). Bahkan beberapa hari lalu ketiga APD tersebut sempat langka.

Melihat kelangkaan tersebut, pengelola usaha mulai membuat produk berupa baju hazmat serta masker kain maupun masker sekali pakai, yang didistribusikan langsung ke rumah sakit dan beberapa wilayah seperti Balikpapan, dan Mahakam Ulu.

Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perindustrian Kota Samarinda melakukan pemantauan langsung ke lokasi pengerjaan APD bernama Muharram Konveksi, yang kini dipesan Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Muhammad Nur, pimpinan Muharram Konveksi menjelaskan saat ini usahanya mampu menghasilkan 1.000 lembar masker kain sekali pakai, dengan bahan setara dengan merk sensi yang dijual di pasaran. Selain itu juga baju hazmat sebanyak 16 lembar per hari. Usahanya terletak di Jalan Perumahan Grand Emboen, Jalan Rapak Mahang Sungai Kapih, Samarinda.

Muhammad Nur mengatakan, usaha konveksinya dulu bergerak di bidang pembuatan jas almamater, pertendaan, tote bag hingga pembungkus kursi, kini mulai beralih pada pembuatan APD. Ia mengaku sedih melihat kondisi saat ini dimana harga masker melonjak naik di luar batas kewajaran, dikarenakan stok yang kosong, serta sulit menemukannya.

“Produk yang kita buat, telah kita perlihatkan contohnya kepada salah satu dokter di Rumah Sakit Abdul Wahab Sjahranie, kini pihak rumah sakitpun telah melakukan pemesanan APD bahkan hingga dikirim ke daerah lain, seperti Balikpapan. APD ini digunakan oleh Angkatan Laut di sana infonya,” ujar Nur, Kamis (2/4/2020).

Meski di tengah kelangkaan dan melonjaknya pemesanan namun produk buatan Muhammad Nur ini tidak dijual dengan harga tinggi, semua terbilang dengan harga murah yakni satu lembar masker dihargai Rp3.500-4.000. Jika masker sekali pakai hanya Rp2.500 per lembar, dan baju hazmat sendiri dibandrol dengan harga Rp225 Ribu.

“Harga ini berdasarkan penyesuaian dan kesepakatan dari pihak rumah sakit. Artinya misi dan tujuan ialah bagaimana UKM saat ini bisa membantu tenaga medis yang sedang berjuang dalam hal pemenuhan APD. Alhamdulillah kami telah berhasil membuat 30 APD baju hazmat,” ucapnya.

Saat ini Muhammad Nur mengaku permasalahan permodalan produksi dibantu melalui koperasi, selain itu ia menjelaskan kesulit dalam memperoleh bahan baku yang melonjak naik harganya.

“Untuk saat ini karena sulitnya mencari bahan baku, ada juga harga bahan baku melonjak bahkan hingga 180 persen membuat kami kesulitan dalam hal pemenuhan permintaan dan capaian target pesanan. Untuk saat ini kami hanya berharap pengiriman dari Surabaya dan Jakarta, namun saat ini sudah tidak bisa mengirim bahkan pabrik di sana sudah tutup. Ya semoga semua dapat perhatian pemerintah untuk membantu kami,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian Muhammad Faisal mengatakan, di saat kelangkaan APD cukup membuat pusing masyarakat mencarinya, seperti masker dan baju hazmat, bahkan Rumah Sakit Umum dan pemerintah daerapun dibuat pusing mencari kekurangan APD untuk kebutuhan tenaga medis, ada usaha konveski yang bisa membuatnya.

“Alhamdulillah ada usaha konveksi di Samarinda bernama Muharram Konveksi yang sudah beberapa hari ini melakukan diversifikasi usahanya, dengan fokus membantu produksi baju hazmat dan masker. Ini sangat membantu,” ungkap Faisal.

Dengan adanya usaha konveksi yang berfokus pada APD, harapan Wali Kota Samarinda menginginkan agar pengusaha lokal dapat berperan membantu pemenuhan kebutuhan APD, sehingga tidak terlalu bergantung dengan pasokan dari daerah lain dan mengurangi kelangkaan yang menyebabkan harga menjadi tinggi.

Menurut Faisal, saat ini pelaku usaha harus lebih jeli dalam membaca peluang, di tengah wabah Covid-19 yang memukul hampir seluruh sektor. Ia berharap UMKM khususnya penjahit yang memiliki kemampuan untuk memproduksi untuk ikut serta dalam memproduksi APD seperti masker.

”Jika kita bisa mendorong UKM untuk melakukan produksi masker kain atau masker sekali pakai, setidaknya kita tidak perlu berharap suplai barang dari luar dengan harga di pasaran yang sudah melonjak naik imbas kekosongan stok,” ujarnya lebih lanjut.

Selain itu, ia juga menghimbau untuk para pengusaha yang saat ini sudah memulai produksi APD untuk tetap memperhatikan legalitas usaha, jadi selain produk yang berkualitas, legalitaspun diperlukan.

”Harapan saya ke depan banyak pelaku usaha lain yang juga melakukan cara seperti ini, dengan mengalihkan sementara usahanya. Karena semakin kosong stok harga akan semakin meningkat, hukum ekonomi yang akan berlaku. Namun jika UMKM dan UKM juga memproduksi, artinya kita tak perlu lagi berharap kiriman barang dari luar yang membutuhkan waktu serta harga yang mahal. Artinya harga kita di lokal bisa jadi lebih murah ketimbang harus order dari luar,” tandas Faisal. (DK.Com)

Penulis : Mashardiansyah

Editor   : Lukman

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.