Kapal SWATH, Sebuah Maha Karya Anak Kaltim di Laut Merambah Dunia

Ridwan : Satu-Satunya Yang Dibangun di Asia Tenggara

Kapal jenis SWATH produksi warga Kaltim, diklaim satu-satunya yang dibuat di Asia Tenggara menelan biaya lebih Rp17 Miliar. (foto : LVL)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Salah satu potensi ekonomi Kalimantan Timur selain sumber daya alam yang tidak terbaharui adalah sektor industri perkapalan. Sebagai provinsi yang memiliki wilayah perairan sungai, danau, dan laut hal ini mendorong warganya untuk mengembangkan kreativitas dalam memenuhi kebutuhan sekaligus meningkatkan taraf hidupnya.

Hal ini tercermin dari tumbuhnya industri kapal di sepanjang Sungai Mahakam sejak zaman dulu, baik yang dikelola secara tradisional maupun menggunakan peralatan modern. Salah satunya adalah yang dikelola PT Allvina Prima di kawasan perairan Anggana, Kutai Kartanegara. Sebuah perusahaan galangan kapal yang berangkat dari usaha tradisional puluhan tahun silam, yang kini telah merambah dunia internasional.

Di galangan ini, sebuah karya fenomenal anak bangsa tengah dibangun putra Kaltim. Sebuah Kapal Penumpang jenis Small Waterplane Area Twin Hull (SWATH) sedang dikerjakan sekitar 100 orang tenaga lokal berkapasitas 100 orang penumpang, dengan dimensi panjang 43 meter lebar 14 meter. Diklaim pembuatnya sebagai satu-satunya kapal sejenis ini yang dibuat di Asia Tenggara.

“Jenis kapal ini satu-satunya yang dibangun di Asia Tenggara,” kata Ridwan, Direktur Teknik PT Allvina Prima yang merancang dan membangun kapal ini saat ditemui di lokasi pembuatan, Sabtu (14/3/2020) siang.

Dilengkapi 43 kamar dengan fasilitas Jacuzzi Tub, Kolam Renang, Tempat Sauna, Bar, Massage, dan sejumlah fasilitas mewah lainnya dalam 3 Deck. Kapal ini dibangun atas pesanan pengusaha dari Negara Maldives, sebuah negara kepulauan di Samudera Hindia, yang didanai pengusaha dari Malaysia. Sebelum kapal mewah ini dibangun, disebutkan telah terjual 2 unit kapal lainnya dalam jenis yang berbeda ke negara tersebut.

Kapal ini didukung mesin berkapasitas 600×2 HP, 3 unit mesin Genset 80 KVA. Dengan model twin hull, kapal ini secara teknis didesain stabil terhadap hambatan gelombang dan tidak terlalu goyang saat dihantam gelombang. Dapat melaju hingga kecepatan 15 Knots per jam tanpa penumpang, atau 12 Knot jika berpenumpang.

Menelan biaya pembuatan sebesar lebih Rp17 Miliar, kapal ini disebutkan memiliki harga pasaran USD5-7 Juta. Sehingga dinilai memiliki potensi yang dapat memberikan keuntungan berlipat setiap pembuatannya.

“Kalau di Eropa, kapal ini seharga 5 hingga 7 Juta USD,” kata Ridwan.

Kapal ini ditarget selesai dibangun pada bulan Mei 2020, atau selama 10 bulan sejak pembuatan awal. Salah satu kendala yang menjadi penghambat pengerjaannya, disebutkan Ridwan adalah faktor cuaca. Curah hujan yang tinggi sangat menghambat dalam pembutannya. Sedangkan secara teknis, disebutkan Ridwan yang telah berpuluh tahun membuat berbagai jenis kapal tidak ada.

Ridwan berharap ada pengusaha lokal yang mau berinvestasi dalam bidang perkapalan, menurutnya, bisnis ini masih sangat menjanjikan di tengah lesunya perekonomian sekalipun. Saat bisnis batubara lesu atau bahkan terhenti sekalipun, bisnis galangan kapal masih akan bertahan mengingat Indonesia sebagai negara maritim.

Iapun mendorong Pemerintah Provinsi Kaltim untuk membentuk Perusahan Daerah (Perusda) Perkapalan, dengan pola pembuatan berdasarkan pesanan, ia yakin akan memberikan keuntungan sebagai sumber untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kaltim di masa depan. (DK.Com)

Penulis : LVL

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.