Unit Hemodialisa RSU Meloy Diresmikan, Tekan Biaya dan Tenaga Pasien

Dokter Johan : Diharapkan Membantu

DETAKKaltim.Com, KUTAI TIMUR:  Hemodialisa adalah terapi cuci darah di luar tubuh untuk seseorang yang ginjalnya tidak bekerja secara normal. Pada pengidap penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal, organ ini sudah tidak bisa berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut di atas membuat tubuh membutuhkan proses cuci darah melalui bantuan alat medis.

Rumah Sakit Umum (RSU) Meloy Sangatta melihat bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang belum menyadari ancaman gagal ginjal, dan tidak segera mengambil langkah preventif.

Untuk itu RSU Meloy membuka Unit Pelayanan Hemodialisis. Memiliki 4 mesin dan didukung kerja sama tim yang beranggotakan dokter spesialis penyakit dalam, dokter nefrologi, dokter umum yang bersertifikasi, serta perawat yang terampil, mahir dan bersertifikat.

Layanan Hemodialisa RSU Meloy diharapkan mampu memberikan kenyamanan dan keamanan, untuk pasien selama menjalani terapi ini di rumah sakit.

Direktur RSU Meloy dr Johan Tonglo memaparkan, proses pembangunan unit Hemodialisa dibutuhkan perencanaan sejak lima tahun lalu. Banyak proses dan syarat yang harus dilengkapi, namun dr Johan mengingat unit Hemodialisis sangat dibutuhkan oleh pasien gagal ginjal yang semakin meningkat jumlahnya terutama di wilayah Sangatta dan sekitarnya. Tidak adanya fasilitas Hemodialisis di wilayah Sangatta, salah satu faktor bagi Meloy  membuka Unit Pelayanan Hemodialisis dengan dukungan 4 mesin.

“Pembukaan layanan diharapkan membantu mempertahankan kualitas dan harapan hidup masyarakat Kutim, khususnya pasien yang terkena penyakit ginjal kronik,” jelas dr Johan Tonglo, Kamis (13/2/2020).

Johan menambahkan, saat ini mesin cuci darah di rumah sakit ada 4 buah. Dan dengan adanya mesin ini tentunya sangat membantu pasien cuci darah di Kutim, sehingga tidak perlu lagi keluar daerah untuk mendapatkan pelayanan tersebut.

“Untuk pasien yang akan dilayani dari usia anak-anak hingga orang tua. Dan sebelum ada layanan cuci darah, di sini mereka melakukan aktivitas cuci darah keluar kota dan jelas ini lebih memakan biaya yang besar bagi pasien Hemodialisa,” paparnya.

Dipaparkannya pula, saat ini ada 30 orang pasien asal Kutim yang bisa terlayani untuk cuci darah. Diharapkan ke depan, dengan dukungan kelengkapan alat  dan bangunan fisik tempat pelayanan, dapat lebih banyak lagi pasien cuci darah yang bisa dilayani, baik dari Sangatta maupun luar daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim dr Bahrani mengatakan, budaya hidup sehat adalah bagian dari keseharian, di samping itu harapan bersama akan kondisi sehat untuk kita semua sebagai masyarakat yang makin bermatabat harus terus ditingkatkan.

Perubahan gaya hidup masyarakat ditengarai menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit. Penyakit ginjal merupakan salah satu penyakit yang memerlukan penanganan cuci darah (dialisis). Hemodialisis merupakan bentuk dialisis yang paling umum. Saat ini metode yang paling sering dan populer adalah dengan menggunakan mesin dialisis, dimana metode ini bertujuan untuk membuang kelebihan cairan, bahan kimia dan produk dari sisa darah.

“Saya memberi apresiasi dengan adanya unit pelayanan Hemodialisa ini, masyarakat tidak jauh-jauh lagi untuk melakukan cuci darah. Saya mengharap agar warga Sangatta selalu menjaga kesehatan, memberikan dan mengajarkan dari sejak dini kepada anak agar menanamkan pola hidup sehat,” pungkasnya. (DK.Com)

Penulis : RH

Editor   : Lukman

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.