Ada Bukti Transfer, Penyidik Mabes Polri Jerat Alphad Pasal Penipuan dan Penggelapan

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Alphad Syarif, Ketua DPRD Samarinda yang tersandung kasus dugaan penipuan dan penggelapan terkait laporan salah seorang pengusaha ke Bareskrim Mabes Polri, akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Samarinda, Jum’at (16/11/2018).

Penyidik Bareskrim Mabes Polri menyerahkan tersangka beserta barang bukti yang telah tahap 2 ke tim Jaksa di Kejaksaan Negeri Samarinda, untuk diproses lebih lanjut.

Kepada sejumlah awak media yang menyanggong sejak pagi di Kejari Samarinda, Dwi Agung Wibowo, satu di antara anggota Tim Kejari Samarinda yang menangani kasus ini menerangkan bahwa tersangka Alphad ditahan di Rutan Sempaja, dengan sangkaan Pasal 378 KUHP tentang penipuan  dan 372 KUHP tentang penggelapan.

“Dalam berkas Bareskrim yang dikirim kepada kami, tersangka Alphad dijerat Pasal penipuan atau penggelapan,” jelas Jaksa Dwi yang didampingi Kasipidum Kejari Samarinda Zainal di ruang kerjanya.

Barang bukti yang diserahkan penyidik Bareskrim Mabes Polri, kata Dwi lebih lanjut, berupa bukti surat dan bukti transfer uang. Totalnya ada 11 lembar, di antaranya ada 2 lembar kwitansi asli bermaterai penyerahan uang senilai Rp1,5 Miliar.

Menjawab pertanyaan awak media, Dwi menjelaskan, dalam berkas perkara dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan Alphad Syarif disebutkan bahwa, kasus ini bermula ketika tersangka menyatakan kepada korban yang saling kenal ini membutuhkan biaya terkait sengketa tanah milik teman tersangka.

Selanjutnya Alphad menjanjikan kepada korban bagi hasil bilamana berhasil atas sengketa tanah tersebut. Korban kemudian menyerahkan uang senilai kurang lebih Rp15 Miliar ke tersangka.

Berita terkait : Dijerat Kasus Penggelapan, Berkas Ketua DPRD Samarinda Dilimpahkan ke Kejaksaan

Belakangan saat perkara gugatan Perdata ini masuk ke PN Samarinda tahun 2014, gugatan ditolak oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Samarinda.

Mengetahui hal ini, korban kemudian berusaha menghubungi tersangka untuk mengembalikan uang korban yang digunakan tersebut.

“Tapi tersangka tidak punya etikad baik untuk mengembalikan uang tersebut,” kata Dwi. (ib/LVL)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.