Lokasi Pembangunan PrimeBiz Hotel Dikosongkan, Datu Chairil Usman Angkat Bicara

(kiri-kanan) Datu Chairil Usman, Mukhlis Ramlan, Eliansyah Kastan. (foto : LVL)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Perlahan perjuangan warga yang menolak pembangunan PrimeBiz Hotel dan Resorts (PHR) di sekitar Islamic Center Samarinda menuai hasil, setelah material di lokasi tersebut dibersihkan sejak sekitar bulan Februari. Hal inipun disambut gembira warga.

“Informasi terakhir yang saya dapati satu bulan yang lalu, di bulan Februari, itu memang ada pengosongan di sana,” jelas Datu Charil Usman selaku Ketua Forum Masyarakat Peduli Islamic Center (FMPIC) dalam jumpa Pers yang digelar di Hotel Victoria, di hadapan sejumlah awak media, Rabu (27/3/2019) sore.

Datu mengatakan, pengosongan tersebut bisa jadi karena mereka mendengarkan aspirasi warga yang menolak pembangunan PHR di dekat Islamic Center, karena mengkhawatirkan keberadaan hotel mewah tersebut akan menodai kesucian Islamic Center yang menjadi salah satu icon Islam di Kalimantan Timur.

Datu berharap lahan tersebut dapat dibangun sebuah Rumah Sakit Islam untuk menggantikan klinik yang ada di Islamic Center saat ini, yang nilainya sudah tidak memadai lagi.

“Masyarakat di sana meminta lahan itu diambil kembali Pemprov untuk dibangun Rumah Sakit,” kata Datu.

Di tempat yang sama, Mukhlis Ramlan yang mendampingi Datu Charil Usman juga mengatakan memang telah terjadi pengosongan atas desakan seluruh ummat, para habib, alim ulama, tokoh pemuda, dan tokoh budaya termasuk anggota DPRD.

“Putusan hari ini yang kami dapatkan proses pembangunan hotel di samping Islamic Center Samarinda, yang terjadi fakta di lapangan, telah terjadi pengosongan seluruh alat, material dan aktivitas yang kemarin begitu aktif dilakukan,” jelas Mukhlis.

Penolakan warga terhadap pembangunan hotel tersebut juga dijelaskan Mukhlis sejalan dengan peniliaian Komnas HAM yang menyebutkan ada pelanggaran HAM berat di sana. Kemudian juga dari Ombudsman, dan Majelis Ulama Indoneisa (MUI) Pusat yang mengatakan tidak ada sertifikasi halal dalam pembangunan hotel tersebut.

Ia kemudian mengharapkan agar kawasan tersebut dikembalikan kepada konsep awal untuk membanguna Rumah Sakit Islam, Rumah Tahfidz Al Qur’an, Perpustakan Islam, dan Pusat Research Islam.

“Jadi tanah yang kosong itu harus sesegera mungkin dialihkan menjadi pusat peradaban Islam,” tegas Mukhlis.

Mantan Ketua KNPI Samarinda Eliansyah Kastan di tempat yang sama turut menyumbangkan sumbangsih pemikirannya terkait keberadaan Islamic Center. Menurutnya, Islamic Center adalah Pusat Pengembangan Kebudayaan Islam, jangan dikotori dengan hal-hal yang tidak kondusif.

“Icon Ummat Islam itu adalah Masjid, jangan sampai di samping-samping Masjid, di sekitar Masjid itu ada bangunan atau hal lain yang tidak mendukung keberadaan Masjid itu sendiri. Mengurangi nilai dakwah yang ada di sana,” jelas Ely, sapaan akrabnya.

Masyarakat, kata Ely lebih lanjut, menginginkan adanya kenyamanan dan keindahan, bukan hanya kemewahan di sekitar Islamic Center. Sehingga jangan sampai ada kemewahan tapi tidak ada keindahan dan kenyamanan di sekitar Icon Islam terbesar kedua di Asia Tenggara tersebut.

Berita Terkait : Unjuk Rasa Tolak Pembangunan Hotel Dekat Islamic Center

Ground breaking pembangunan PHRH di Jalan Ulin, tepatnya di samping Masjid Islamic Center, dilaksanakan Rabu (23/5/2018) oleh Awang Faroek Ishak selaku Gubernur Kaltim kala itu bersama Pemkot Samarinda. Kegiatan ground breaking diwarnai penolakan ratusan warga di kawasan tersebut dalam sebuah aksi unjuk rasa.

Pembangunan hotel berlantai 10 tersebut dikerjakan oleh PT Wijaya Utama Lestari. (LVL)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password