Harga Sawit Anjlok, Ketua Forum Sawit Pertanyakan Peran Pemerintah

Salah satu Kebun Sawit di Kutai Timur milik perusahaan swasta. (foto : 1st)

DETAKKaltim.Com, KUTAI TIMUR : Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Kutim, menguji kepedulian pemerintah terhadap petani swadaya.

Terlebih saat dilakukan pertemuan dengan DPRD Kutai Timur (Kutim), tak satupun perwakilan dari Dinas Perkebunan (Disbun) Kutim yang hadir.

Tentu saja hal itu sangat disayangkan dan menjadi pertanyaan.  Para petani mengeluh. Seharusnya Disbun tempat mengeluh dan mengadu, akan tetapi tak hadir saat dibutuhkan.

“Sangat kami sayangkan saat pertemuan tanggal  22 (di DPRD), Kadis Perkebunan dan staf Disbun tidak ada yang hadir,” ujar  Asbudi Ketua Forum Petani Sawit Kutim (FPSK), Minggu (25/11/2018).

Seharusnya, kata Hasbudi, baik legislatif maupun eksekutif peka terhadap masalah ini. Tak diam seribu bahasa. Langkah cepat ditempuh, sebelum masyarakat teriak mengemis kebijakan.

“Di mana suara wakil rakyat. Kami butuh komitnen jargon atau tag line politik. Pro rakyat. Hati nurani rakyat, suara rakyat. Jangan disaat rakyat butuh tak ada yang peduli,” katanya dengan nada kecewa.

Iapun mempertanyakan  himbauan bermitra dengan perusahaan. Pada awalnya, hal ini tak gencar disosialisasikan. Baru saat ini di saat anjloknya harga Sawit.

“Saya secara pribadi sebagai Petani Sawit sudah 7 tahun panen. Tidak pernah terdengar ada sosialisasi pola kemitraan dan disodorkan formulir kemitraan. Kenapa  tiba-tiba ada masalah baru timbul  bahasa bahwa harga yang diterapkan sesuai keputusan Disbun yang bermitra,” keluh Budi.

Apapun itu, lanjutnya, poinya adalah jangka pendek perusahaan wajib terapkan aturan Permentan 01 Tahu  2018 sebagai acuan penetapan harga TBS.

“Itu sebagai solusi jangka pendek. Sedangkan  jangka menengah, mendorong Pemda untuk memfasilitasi Petani terbentuknya kemitraan, dan  mewajibkan Perusaah Sawit untuk mendirikan PKS. Sedangkan jangka panjang, mendorong Pemda untuk mendirikan PKS melalui Badan Perusda,” katanya menawarkan solusi.

Namun para petani tak akan henti mencari solusi. Setelah mengadu ke DPRD, pihaknya kembali melakukan pertemuan dengan Bupati Kutim.

“Besok akan dilakukan pertemuan dengan bupati. Kami mau mengadu tentang nasib Petani Sawit. Mudahan saja mendapatkan solusi,” katanya. (Aghwa)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password