Bertemu Penggiat Medsos dan Wartawan Online, Ini Harapan Kepala BNNP Kaltim

Pimpinan Redaksi DETAKKaltim.Com (2 kiri) bersama Kepala BNNP Kaltim Brigjen Raja Haryono beserta beberapa peserta lainnya yang mendapat cendera mata usai kegiatan ditutup. (foto : ib)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur melalui Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat menggelar Forum Komunikasi Anti Narkoba Berbasis Media Online Provinsi Bagi Netizen, di Kantine Resto and Lounge, Jalan Juanda Samarinda,  Rabu (5/9/2018) Pukul 19:00 Wita.

Sekitar 30 orang peserta dari berbagai media online dan komuitas media sosial (Medsos) hadir mengikuti kegiatan yang dihadiri Kepala BNNP Kaltim Brigjen Raja Haryono, dan Rosna Elviani, Kasi Pencegahan.

Pada kesempatan itu Haryono yang telah bertugas lebih 1 tahun di Kaltim kembali mengungkapkan bahwa negara kita dalam keadaan darurat Narkoba, karena itu ia mengajak segenap komponen masyarakat untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan penyalahgunaan Narkoba.

“Berdasarkan prevalensi penyalahgunaan Narkoba di Indonesia tahun 2017 mencapai 1,77 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 3,5 juta jiwa,” bebernya.

Dari angka tersebut, jelasnya lebih lanjut, penggunanya berumur antara 10-59 tahun dan 50 persen di antarnya adalah pekerja di berbagai bidang. Dari angka pengguna tersebut, 72 persen merupakan laki-laki dan sisanya perempuan.

“Secara Nasional, kita (Kaltim) duduk di rangking tiga. Ini sangat memprihatinkan,” kata Haryono.

Melihat kondisi ini, masih kata Haryono, kita tidak bisa berpangku tangan. Saat ini dari 10 Kabupaten/Kota di Kaltim baru ada 3 yang memiliki BNNK, yaitu Samarinda, Bontang, dan Balikpapan.

Dari beberapa kejadian hasil monitor BNNP, jalur Narkoba yang masuk ke Samarinda sebelum menyebar ke daerah lain seperti Balikpapan dan Tenggarong serta daerah lainnya. Narkoba itu masuk dari Malaysia masuk melalui Sebatik, Nunukan, Tarakan untuk jalur udara atau laut. Sedangkan jalur darat melalui Malinau, Berau, Kutai Timur, Bontang hingga Samarinda.

“Tingkat kerawanan tertinggi di Samarinda baru Balikpapan dan Tenggarong,” cetusnya.

Adanya berbagai keterbatasan yang dialami BNNP, baik keterbatasan sumber daya manusia, maupun anggaran serta peralatan pendukung menimbulkan berbagai kendala di lapangan. Karena itu, ia mengajak media khsusunya yang berbasis online termasuk media sosial, untuk bersama-sama memiliki kepedulian memberikan informasi kepada masyarakat akan bahaya Narkoba.

Brigjen Haryono berharap setelah kegiatan ini diberikan masukan, saran, apa yang harus dilakukan BNN. Hal itu akan ditindak lanjuti termasuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait.

Berbagai masukan dan saranpun kemudian disampaikan peserta secara bergantian dalam sesi tanya jawab. (LVL/ib)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password