Cawagub Irjen Pol (Purn) Safaruddin Bicara Kebhinekaan di DTD II GP Ansor

Cawagub Safaruddin berdialog dengan seorang kader GP Ansor. (foto:4TM)

DETAKKaltim.Com, BALIKPAPAN : Irjen Pol (Purn) Safaruddin, calon Wakil Gubernur (Cawagub) Kaltim nomor 4 hadir di tengah massa Gerakan Pemuda Ansor – Banser di Graha KNPI Balikpapan, Minggu (15/4/2018).

Berkostum loreng khas Banser, mantan Kapolda Kaltim ini menyemangati kader organisasi sayap Nathdlatul Ulama (NU) itu untuk cinta tanah air dan setia pada NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Jenderal Bintang 2 Polri itu membawa materi berjudul “Politik International dan Dampaknya Bagi NKRI yang Berbhineka” pada acara Diklat Terpadu Dasar (DTD) II, GP Ansor – Banser dalam tema “Meneguhkan Kebangsaan Dalam Khasanah Islam Nusantara”.

Ada 6 poin penting yang diejawantahkan Paslon Cagub Rusmadi Wongso tersebut. Mulai dari terbentuknya NKRI dengan kebhinekaannya, faktor yang mempengaruhi kebhinekaan, demokratisasi dan perkembangannya, tantangan dalam menjaga persatuan dan kesatuan, peran dan kebijakan pemerintah, serta peran elemen masyarakat.

“Kita bisa Melihat bagaimana ketika Indonesia di masa penjajahan Belanda, Inggris, Portugis, Jepang. Fase common enemy itu kemudian berujung pada fase common interest, di mana ada gejolak untuk merebut kemerdekaan. Contohnya kemunculan Budi Utomo, Sumpah Pemuda 1928, sampai proklamasi 1945,” ucap Safaruddin, membuka materi.

Pasca masa-masa sukar tersebut, Indonesia kemudian memasuki babak baru. Masa pemberontakan terjadi di Tanah Air yang dilakukan oleh PKI, DI/TII, sampai kemunculan Kahar Muzakar.

“Fase itu masih masuk dalam fase common enemy, di mana muaranya adalah perjuangan mempertahankan kemerdekaan lewat semangat nasionalisme,” paparnya bersemangat.

Bagi Safaruddin, fase common enemy tersebut terjadi lantaran rakyat belum bersatu. Faktornya sendiri beraneka ragam. Mulai dari suku, ras, adat, budaya, agama, letak geografis, serta bahasa.

“Tapi semua bisa membaur lewat 4 pilar yang kita kenal, yakni Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika,” beber Safaruddin.

Lantas, apa yang mempengaruhi kebhinekaan? Menurut Safaruddin, faktor internal dan eksternal menjadi pengaruh terbesar saat ini. Di internal, misalnya, harus diketahui bahwa masyarakat saat ini didominasi oleh low class. Sementara faktor eksternal dipengaruhi politik luar negeri yang lebih anarkistik, yakni siapa yang kuat maka dia yang menang.

“Dua faktor ini bisa diminimalisir lewat kebhinekaan, yakni nation pride (kebanggan bangsa-red) terhadap NKRI,” tegasnya.

Saat ini, demokratisasi dan perkembangan menghadapi tantangan yang cukup berat. Safaruddin menyatakan, demokrasi liberal mengandung unsur positif dan negatif.

“Positifnya tentu check and balance serta peran masyarakat jadi menguat. Kalau negatifnya ya primordialisme, kebebasan yang kebablasan, belum dewasa dalam berdemokrasi, dan disintegrasi,” urainya.

Pun lebih jauh, tantangan keberagaman ke depan juga akan semakin berat. Safaruddin menjelaskan, globalisasi memunculkan persaingan ketat. Bahkan tindakan kejahatan kini mengarah pada dimensi baru disertai memudarnya nilai luhur kebangsaan.

“Terorisme, aksi massa, separatisme hingga intoleransi adalah bagian di dalamnya,” ungkapnya.

Lalu mengapa ini terjadi? Dalam kacamata Safaruddin, intolerasi masih terjadi antar umat beragama. Pun, masih ada kelompok yang memaksakan untuk mengganti ideologi Pancasila dan dasar negara.

“Persaingan antar bangsa di dunia justru condong menekan negara kita untuk menjadi lemah. Nilai-nilai luhur kita memudar karena efek globalisasi yang tidak bisa kita filter dengan baik,” jelasnya.

Acara DTD II, GP Ansor – Banser di Graha KNPI Balikpapan ini juga dihadiri Ketua PW GP Ansor Kaltim Fajri Alfarobi, Ketua Korwil GP Ansor Balikpapan Rafi’ihak, Ketua PC Ansor Balikpapan Husni Kadri, dan Pembina GP Ansor Balikpapan H Damuri. (LVL)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password