Kasus Ceceran Minyak, Mapala Planktos Unmul Tuntut Pertanggungjawaban

Kondisi air laut di Teluk Balikpapan Sabtu (31/3/2018) sore. (foto:1st)

DETAKKaltim.Com, BALIKPAPAN : Ceceran minyak yang memenuhi perairan Teluk Balikpapan mendapat respon dari kalangan akademisi, yakni dari Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Planktos Fakultas Perikanan Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman Samarinda.

Dalam keterangan resminya, disebutkan sifat minyak yang sulit menyatu dengan air membuat minyak yang mengapung ini terlihat berwarna hitam, hal ini mengakibatkan terganggunya organisme yang berada pada permukaan perairan.

Berkurangnya intensistas cahaya secara drastis akan menghambat fitoplankton untuk berfotosintesis, dan dapat memutus rantai makanan pada daerah tersebut.

“Maka, secara langsung akan mengurangi laju produktivitas primer pada daerah tersebut karena terhambatnya pertumbuhan fitoplankton,” jelas Ihsan Hidayat, Ketua Umum Mapala Planktos, Minggu (8/4/2018) sore.

Sementara pada minyak yang tenggelam dan terakumulasi di dalam sedimen sebagai deposit hitam pada pasir dan batuan-batuan di pantai, akan mengganggu organisme interstitial maupun organime intertidal.

Organisme disebutkan terakhir hidup berada pada daerah pasang surut. Efeknya, adalah ketika minyak tersebut sampai ke pada bibir pantai, maka organisme yang rentan terhadap minyak seperti Kepiting, Amenon, Moluska dan lainnya akan mengalami hambatan pertumbuhan, bahkan dapat mengalami kematian. Hal ini tampak jelas terlihat saat ini di sepanjang Pantai Balikpapan.

Adanya lapisan minyak juga akan menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan mengurangi kelarutan oksigen, yang akhirnya sampai pada tingkat tidak cukup untuk mendukung bentuk kehidupan laut yang aerob.

Lapisan minyak yang tergenang tersebut juga akan mempengarungi pertumbuhan rumput laut, lamun dan tumbuhan laut lainnya jika menempel pada permukaan daunnya, karena dapat mengganggu proses metabolisme pada tumbuhan tersebut seperti respires.

Pencemaran minyak di laut juga merusak ekosistem mangrove. Minyak tersebut berpengaruh terhadap sistem perakaran mangrove yang berfungsi dalam pertukaran CO2 dan O2, di mana akar tersebut akan tertutup minyak sehingga kadar oksigen dalam akar berkurang.

Jika minyak mengendap dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan pembusukan pada akar mangrove yang mengakibatkan kematian pada tumbuhan mangrove tersebut.

Tumpahan minyak juga akan menyebabkan kematian fauna-fauna yang hidup berasosiasi dengan hutan mangrove seperti Moluska, Kepiting, Ikan, Udang, dan biota lainnya.

Senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak bumi berupa benzene, touleuna, ethylbenzen, dan isomer xylena, dikenal sebagai BTEX, merupakan komponen utama dalam minyak bumi, bersifat mutagenic dan karsinogenik pada manusia.

“Senyawa ini bersifat rekalsitran, yang artinya sulit mengalami perombakan di alam, baik di air maupun di darat, sehingga hal ini akan mengalami proses biomagnetion pada ikan ataupun pada biota laut lain,” jelasnya.

Bila senyawa aromatic tersebut masuk ke dalam darah, akan diserap oleh jaringan lemak dan akan mengalami oksidasi dalam hati membentuk phenol.

Kemudian pada proses berikutnya terjadi reaksi konjugasi membentuk senyawa glucuride yang larut dalam air, kemudian masuk ke ginjal.

Baca juga : Didukung Pertamina, 800 Orang Bersih-Bersih Kampung di Balikpapan Barat

Dengan begitu banyaknya potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh  peristiwa tumpahnya minyak di Teluk Balikpapan, yang begitu banyak menimbulkan keruskan ekositem pesisir serta lambatnya penanganan dari pihak terkait.

Pihaknya menuntut untuk menuntaskan permasalahan ini dan meminta pertanggungjawaban atas kerusakan yang telah ditimbulkan.

“Kembalikan ekosistem laut kami yang biru bukan yang hitam,” tandasnya.  (Rsk)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password