Proyek Pariwisata Malinau Diduga Bermasalah Plang Proyek Tidak Ada, Pekerjaan Belum Rampung

Proyek pembangunan Dermaga Bronjong yang belum rampung. (foto:S.AL)

DETAKKaltim.Com, MALINAU : Dua proyek Dinas Pariwisata Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tahun anggaran 2017 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) hingga kini belum rampung dikerjakan pihak kontraktor.

Dua proyek ini adalah pembangunan Dermaga Bronjong senilai Rp932 Juta terletak di Desa Setulang, dan proyek pembangunan jalan Setapak Tanah Olen senilai Rp997 Juta terletak di bagian hulu Desa Setulang menuju lokasi wisata.

Jalan Setapak Tanah Olen Malinau. (foto:SAL)

Dari pantauan media ini di lokasi pembangunan, kedua proyek tersebut masih dikerjakan pihak kontraktor. Sedangkan batas waktu pengerjaan proyek per Desember 2017 sudah berakhir.

Di lokasi juga tak ada Plang Proyek dipasang sebagai tanda adanya pengerjaan proyek pemerintah di tempat itu.

Kedua proyek yang anggarannya bersumber dari Kementerian Pariwisata itu diduga mengalami keterlambatan.

Pengamatan DETAKKaltim.Com, nampak sambungan tiang proyek Dermaga Bronjong hanya menggunakan satu baut. Diduga proyek tersebut belum menyelesaikan pekerjaan fisik awal, demikian pula proyek jalan setapak.

Hendrik selaku PPTK proyek Dermaga Bronjong saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (24/1/2018) tidak membantah kalau proyek tersebut mengalami keterlambatan.

“Iya proyek itu memang agak terlambat dan hingga kini masih dikerjakan,” ujarnya.

Diakui Hendrik, keterlambatan penyelesaian proyek tersebut diakibatkan faktor alam, hujan dan banjir.

Kendati begitu, Hendrik mengklaim progres pembangunan Dermaga Bronjong sudah rampung 95% dikerjakan pihak kontraktor, dan saat ini dalam masa pemeliharaan.

“Kontraktor pelaksana komitmen menyelesaikan pekerjaannya,” tandasnya.

Sementara Nopel, PPTK proyek Jalan Setapak Tanah Olen saat hendak dikonfirmasi tidak berada di tempat. Informasinya Nopel sedang cuti.

Kadis Pariwisata Malinau Ajang Kahang menjelaskan, progres pekerjaan jalan setapak sampai akhir tahun 2017 sudah mencapai fisik 70%. Keterlambatan terjadi disebabkan karena faktor alam, di mana kontraktor kesulitan memasukkan material sirtu ke ujung jalan.

“Curah hujan tinggi pada akhir tahun lalu,” sebutnya melalui via sms ketika dikonfirmasi.

Lanjut dijelaskannya, pembangunan kedua proyek tersebut pembayarannya disesuaikan progres dan pekerjaan yang belum selesai akan dibuat adendum.

“Intinya kontraktor yang mengerjakan tetap bersedia menyelesaikan pekerjaan, dan sisa pembayaran akan dibayarkan melalui APBD Kabupaten Malinau tahun 2018,” jelasnya lebih lanjut. (S.AL)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password