Sengketa Lahan, Warga Klaim Lahannya Belum Dibebaskan PT BEP Kuasa Hukum Tengarai 2 Surat Diduga Palsu

Mediasi antara PT Batuah Energi Prima dan Jayani. (foto:Hae)

DETAKKaltim.Com, KUTAI KARTANEGARA : Mediasi antara PT Batuah Energi Prima dengan Jayani di Polsek Loa Janan, Jalan Soekarno Hatta, Loa Janan Ulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, berlangsung hampir 2 jam, Senin (18/12/2017).

Kedua belah pihak yang hadir dimediasi oleh pihak Kepolisian. Mediasi dipimpin Kanit Reskrim Polsek Loa Janan Ipda Dedi Supriyanto. PT BEP diwakili Joko Santoso, sedangkan Jayani didampingi 2 orang Kuasa Hukum dan saksi dari pihaknya.

Selain itu mediasi juga turut dihadiri pihak Kecamatan diwakili staf, dan Lurah/Desa diwakili Plt Sekdes Amri, serta Japri yang juga mengaku memiliki lahan di lokasi tersebut seluas sekitar 6 hektare dengan 3 sertifikat hasil menang lelang Bank Mega.

Mediasi tersebut dilakukan karena adanya permasalahan lahan yang berlokasi di RT 009, Desa Batuah, Loa Janan, Kukar.

Kasus ini mencuat bermula pada hari Rabu (6/12/2017), Joko melaporkan bahwa lahan yang dibebaskan PT BEP dari Bakareng diklaim Jayani bahwa lahan tersebut adalah milik Almarhum orangtuanya. Sebelumnya telah dilakukan mediasi di tempat yang sama pada Selasa (12/12/2017), hasil mediasi pada saat itu akan dilakukan tinjau lapangan, Kamis (14/12/2017) dengan menghadirkan semua pihak.

Saat mediasi berlangsung Joko Santoso menyampaikan kalau kegiatan menambang di lahan tersebut dikomplain oleh Jayani sehingga produksi tidak dapat dilakukan, lahan itu dibebaskan dari Bakareng di tahun 2011, surat-surat sudah dilengkapi semua, dari Desa sampai Kecamatan.

“Kita lakukan proses administrasi, semuanya sudah kita lengkapi, saksi dan bukti sudah kita hadirkan di tempat pada tahun 2011,” kata Joko di hadapan pimpinan mediasi, dan peserta.

Dijelaskan Bakareng, tanah itu dibelinya dari besannya bernama Tahir, dia buka pertama kali waktu itu.

“Saksi-saksi tanahnya waktu saya beli tidak ada, saksi batas tidak ada,” ucapnya.

Dijelaskan Joko, waktu membeli saksi batas menandatangani termasuk almarhum orangtuanya Jayani dan hal itu dibenarkan Bakareng.

Melalui Najamudin, pengacaranya, Jayani mengatakan pihaknya minta agar mediasi hari ini tidak berbicara prosedur jual beli, tapi pemeriksaan legalitasnya. Mengingat 2 surat yang dipegangnya, setelah diperiksa dua-duanya diduga palsu.

“Menurut kami patut diduga adanya pemalsuan yang dapat dilihat dari tanda tangan,” jelasnya.

Pihaknya menghadirkan saksi dari tahun 1970an-1980an yang melihat Almarhum Abdul Rahim merintis lahan. Surat lahannya dari tahun 1981 seluas 12 hektare.

“Kami harap pihak aparat penegak hukum, dan aparatur pemerintahan bersikap netral,” imbuh Najamuddin yang duduk di sebelah kanan Jayani, hadir bersama rekannya Mursa Yahya.

Mediasipun selesai, Joko Santoso saat dihampiri DETAKKaltim.Com untuk dimintai keterangan enggan memberi komentar. Namun Pengacara Jayani menegaskan pihaknya akan tetap bertahan.

“Kami akan tetap bertahan supaya tidak ada pekerjaan yang dilakukan perusahaan,” tandas Najamuddin saat hendak meninggalkan lokasi.

Sementara Plt Sekdes Amri menuturkan, dari pihak Desa mengikuti prosedur yang ada, apabila ada yang mengklaim akan diperlihatkan bukti.

“Kalau bukti itu tidak benar, ya bagaimana mekanisme selanjutnya. Saya tidak tahu persis permasalahannya. Saya ditunjuk untuk hadir karena Kades, dan Kasi Pemerintahan berhalangan hadir, saya mengetahui juga kalau sebelumnya ada mediasi,” kata Amri.

Muhaji selaku Camat saat ditemui di kantornya mengatakan masih menunggu laporan dari staf yang hadir di mediasi. (hae)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password