Harga Minyak Pertamina Lebih Murah dari Produk Lain Padahal Diragukan Isi Artikel

Penulis : (Otto Geo, mantan Presiden Serikat Pekerja Pertamina Seluruh Indonesia (SPPSI) dan Agus Susanto/Napi)

                                    “Varian produk jual Pertamina bisa kelabui harga dan stok,                                                                    dan sepertinya pemerintah tidak berpihak ke rakyat”

TAHUN 2014 sebelum Pak Jokowi jadi Presiden,  penulis sampaikan premium rakyat dan solar rakyat. Yakni campuran Premium RON 88 dan Pertamax RON 92. Dan yang RON 95 ke atas sebagai BBM exclusif/kemampuan lebih. Juga hal Solar, yakni Solar subsidi dan Pertamina Dex. Angka cetane 48 – 51 dan sulfure content 350 ppm – 3500 ppm.

Dari fakta yang ada muncul Pertalite untuk RON 90 dan Dexlite di angka cetane 49-50. Dari bisnis produk BBM dilihat dari banyaknya azad orang banyak, bukan dilihat dari RON 92, 95 dan 99 lebih murah dari produk jual Shell dan Vivo. Karena di atas produk azad orang banyak menggunakannya adalah exclusif/orang kemampuan lebih dan kendaraan bermotor mahal.

Dari uraian tadi, dengan harga saat ini seperti Pertalite Pertamina lebih mahal di angka varian Rp100  sampai dengan Rp250, dan bila dibanding produk Pertamina RON 88 + RON 92 konsumen bisa dirugikan berkisar Rp350 – Rp600 (melihat naik turunnya harga jual Premium dan Pertamax 92). Juga hal Dexlite ini yang tidak boleh terjadi.

Saat itu penulis tidak sepakat varian produk Pertamina banyak, tapi ada strategi negara tidak rugi dan Pertamina tidak rugi, yakni pemerintah target berapa rupiah subsidi Premium dan Solar. Dan Pertamina berapa proyeksi jual Pertamax, Solar dan Pertamina Dex. Jadi bermain di RON dan Cetane mengambang dengan plus/minus satu (RON 89/91, cetane 49-50 ). Jadi dengan tidak untuk varian BBM konsumen banyak agar Vivo, Shell dan Total bisa berpikir untuk berbisnis/berjualan.

Dan ingat, di kendaraan baru saat ini telah dilengkapi peningkat RON secara electric dan magnetik, serta di Solar dengan tingkat sulfure contain di minimize (desulfurized). Jadi tidak ada alasan sebenarnya memperbanyak varian produk jual Pertamina dengan ada Premium, Pertalite, Pertamax 92/95, tapi lebih baik Premium rakyat (tidak ada lagi Pertamax sampai dengan 92). Ini akan tidak merugikan konsumen secara kwalitas dan komersil.

Berpikirlah untuk rakyat sebagai azad hidup orang banyak, karena energi baru terbarukan hanya bio dan baterry. Sedangkan gas, panas bumi bukan energi baru terbarukan tetapi sama dengan energi dari perut bumi yang dulu para ahli/profesor dan yang hebat-hebat mengatakan akan habis energi fosil. Ternyata harga jungkir balik/murah, mulut mereka tidak ada lagi expose minyak bumi akan habis.

Volume premium RON 88 menurun/langka karena terindikasi ruginya Pertamina tahun 2015-2016 sebesar Rp15 trilyun (Baca expose SVP Pemasaran saat itu Bapak M.Iskansar. Saat ini menjadi Direktur Pemasaran Pertamina yang jelas menyatakan, untuk kwalitas tidak berdampak apa-apa di Pertalite karena dalam Pertalite RON 90 berisi 55% Premium RON 88 dan 45% RON 92) Jadi tergeruslah volume Premium RON 88 ke Pertalite, makanya bisa untuk menutupi rugi Rp15 Trilyun (indikasi) dan prosesnya mau/ingin rugi Pertamina wajib membawa untuk rugi ke RUPS, bukan rugi dibebankan ke rakyat. Bisa diindikasikan tipu tipu. Kasihan Presiden dipermainkan dan citra buruk pemerintah, sedangkan tidak seharusnya ini terjadi.

Semoga rakyat berpikir cerdas tentang produk jual Pertamina begitu banyak variasinya justru ada indikasi pengkelabuan harga dan market.

Demikian untuk pencerahan. (**)

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password