Patriatno Kooperatif, Jaksa Kejari Malinau Eksekusi Putusan Pengadilan Tipikor

Herman KS dan Patriatno (membelakangi lensa) di depan pintu Lapas Samarinda. (foto:ib)

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Herman SK, Kasipidsus Kejari Malinau melaksanakan eksekusi terhadap putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Samarinda, Kalimantan Timur, Jum’at (19/5/2017).

Patriatno, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang vonis 1 tahun penjara dan denda Rp50 Juta Subsidair 4 bulan kurungan dalam kasus tindak pidana korupsi, dalam pelaksanaan pekerjaan pengadaan bibit Kelapa Sawit sebanyak 49.200 pohon senilai Rp1,8 Miliar, pada kegiatan perluasan Kebun Sawit tahun anggaran 2011 di Dinas Perkebunan Kabupaten Malinau, diantar ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Samarinda, Jln Jenderal Sudirman sekitar Pukul 09:50 Wita.

“Hari ini kami melaksanakan eksekusi terhadap Patriatno, karena putusan Pengadilan sudah berkekuatan tetap,” sebut Herman kepada Wartawan DETAKKaltim.Com yang menyaksikan eksekusi dilaksanakan.

Vonis terhadap terdakwa Patriatno sudah jatuh sejak Jum’at (28/4/2017) lalu, namun terdakwa yang hanya menjalani tahanan kota sejak ditetapkan sebagai tersangka bulan November 2016 hingga vonis dijatuhkan, akibat kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan untuk ditahan di rumah tahanan (Rutan).

Ia belum ditahan saat vonis, sebut Herman, karena menunggu jika yang bersangkutan mengajukan banding atas putusan Majelis Hakim. Namun setelah dicek ke Pengadilan Tipikor pada Pukul 18:00 Wita di hari terakhir waktu yang diberikan untuk mengajukan banding, ternyata tidak ada yang mengajukan banding.

“Sampai batas waktu untuk mengajukan banding berakhir, ternyata tidak ada yang mengajukan banding. Artinya kami harus mengeksekusi putusan Majelis Hakim karena sudah berkekuatan hukum tetap,” jelas Herman.

Lebih lanjut Herman menyebutkan, setelah eksekusi Patriatno dilaksanakan maka tugasnya dalam kasus ini sudah selesai.

Disinggung mengenai masa tahanan Patriatno yang selama ini menjalani tahanan kota, Herman mengatakan dia masih akan menjalani hukuman selama 11 bulan.

“Lima hari dalam tahanan kota setara dengan satu hari dalam tahanan di Rutan. Patriatno masih akan menjalani 11 bulan lagi,” imbuhnya.

Berita terkait : Kasus Pengadaan Bibit Sawit Malinau, Kontraktor Divonis 18 Bulan

Terkait penyakit yang diderita Patriatno, menurut Ratna, adiknya yang turut mengantar ke Lapas, Patriatno menderita sejumlah penyakit salah satunya asam urat yang parah.

Dua terpidana dalam kasus ini sudah ditahan sejak ditetapkan sebagai tersangka November 2016, masing-masing Hanseng Awang dan Andre Nauli. Keduanya divonis 1 tahun 6 bulan dan saat ini menjalani hukuman di Rutan Sempaja. (LVL)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password