Selamat Ulang Tahun Ke-75, Saudagar Juru Damai

H.Jusuf Kalla. (foto:1st)

HARI ini Muhammad Jusuf Kalla genap berusia 75 tahun, sebuah anugerah besar yang tidak ternilai materi. Alhamdulillah, Bapak telah dianugerahi umur, kesehatan dan jabatan yang prima, Bapak telah menggunakan umur dan kesehatan itu sebaik-baiknya untuk bangsa dan negara Bapak. Bapak adalah Wakil Presiden ke-10 dan 12.

JK adalah satu-satunya Wakil Presiden di dunia yang dua kali menjabat pada waktu dan presiden yang berbeda. Pertama mendamping Pak Susilo Bambang Yudhoyono, 2004-2009 dan kini mendampingi Presiden Joko Widodo, 2014-2019.

JK adalah putra Bugis, kelahiran Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942. Putra kedua, anak saudagar, Haji Kalla dan Hajjah Athirah. JK memperistri Hj Mufidah dan memiliki putra-putri: Muchlisa Jusuf, Muswira Jusuf, Imelda Jusuf, Solikhin Jusuf dan Chairani Jusuf.

JK adalah tokoh yang memulai karier dari bawah, aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), 1960-1964, Ketua Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1965-1966, Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin 1965-1966 dan Ketua Presidium  Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) 1967-1969. JK juga adalah mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulawesi Selatan yang memilih mengelola dan memajukan Perusahaan Bapaknya NV Hadji Kalla, dari bisnis hasil bumi dan ekspor-impor, berkembang pesat ke berbagai bidang: penjualan kendaraan, konstruksi, perumahan, transporasi, rental kendaraan, garbarata (penyambung pintu pesawat dengan pintu gedung bandara), telekomunikasi sampai listrik tenaga hidrolik.

Setelah sukses dalam dunia bisnis dan ekonomi, JK kemudian masuk partai politik, memilih Partai Golongan Karya hingga hari ini.

Di Golkar, JK terpilih sebagai Ketua Umum 2004, setelah terpilih sebagai Wakil Presiden di Bali. Ketika itu JK super powerfull sebagai Wapres yang super aktif membantu Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 2009, JK maju sebagai calon Presiden 2009-2014 berpasangan Jenderal Wiranto, tapi kalah oleh Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Tahun 2014, JK kembali maju sebagai Wakil Presiden mendampingi Joko Widodo, diusung oleh PDIP, Hanura dan NasDem, dan menang. Tapi kini JK sebagai Wakil Presiden sangat berbeda era SBY, kelihatan lebih wise (bijak). Banyak orang heran sikap JK yang nampak tidak banyak diberi peran oleh Joko Widodo, tapi mungkin sebagian orang lupa, termasuk Joko Widodo jika insting dan kalkulasi politik JK sangat tajam dan cermat, di belakang JK berdiri berbagai elemen masyarakat dan organisasi massa seperti Muhammadiyah dan Nahdhalutul Ulama (NU).

Saya ikut menyaksikan pidato kemenangan Pak JK di markas tim suksesnya di Jln Jenggala, kawasan Senayan, 22 Juli 2014 “Saya ini beberapa kali menduduki jabatan penting bukan karena didorong dan didukung oleh partai politik, saya dipilih karena profesional. Mulai sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat era Presiden Megawati, maju sebagai Wakil Presiden mendamping SBY 2004 dan kini sebagai Wakil Presiden Joko Widodo. Saya didukung oleh Partai Golkar ketika maju sebagai Calon Presiden 2009, malah kalah. Jadi, saya ini bisa dikatakan sebagai profesional. Sambutan JK ketika itu diprotes oleh Akbar Tanjung, yang mengaku dihubungi oleh Almarhum Gus Dur sebagai diplih sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian.

JK dan Kampung Halaman

Saya melihat sosok dan prototipe JK sebagai putra daerah yang sukses di tingkat nasional, beda dengan beberapa pejabat yang telah dan kini berkuasa atau menjabat. JK sangat peduli dan membangun kampung halamannya. Lihat, kini pembangunan infrastruktur dan roda ekonomi di Sulawesi Selatan hampir merata, maju pesat dan sudah memiliki masalah besar, kota macet. Pembangunan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Pelabuhan Soekarno Hatta, Jalan Tol, dan gedung-gedung pencakar langit. Semua itu tidak terlepas dari lobi dan pengaruh JK di Jakarta, anggaran pembangunan mengalir ke Sulawesi Selatan. Tidak mengherangkan jika JK selalu dipuji, dibanggakan dan akan dikenang oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Sementara sebagian mantan pejabat tinggi jika pulang kampung, tidak mendapat apresiasi dan penghormatan oleh masyarakat kampung halamannya.

Wacana setelah JK

Bagi sebagian tokoh, politisi dan akademisi asal Sulawesi Selatan, sudah sering melempar isu, siapa setelah JK, tapi tema diskusi ini belum mendapat pemberitaan yang masif, mungkin ketika menjelang Pemilihan Preisden 2019?

Mencari sosok pengganti JK dari tanah Bugis untuk berkiprah di tingkat nasional sebagai menteri atau wakil presiden tentu tidak gampang. Dibutuhkan kriteria pemimpin yang mumpuni seperti Pak JK yang sukses di bisnis dan politik. Jika demikian, kita tunggu saja di pintu masuk atau tikungan Pilpres 2019, siapa putra mahkota yang akan digadang dan direstui oleh JK sebagai calon wakil presiden atau menteri hasil pilpres 2019.

Pengaruh JK

Bagi saya, pengaruh JK di tahun 2019, masih kuat. Buktinya, di Pilkada Gubernur DKI Jakarta 2017 ini, sangat jelas peran dan campur tangan JK sehingga muncul nama Anies Rasyid Baswedan sebagai bakal calon dan terpilih sebagai Gubernur DKI masa bakti Oktober 2017-2022, Jumat, 5 Mei 2017.

Hari ini JK telah genap 75 tahun. Selamat ulang tahun Pak JK. Semoga Bapak panjang umur, selalu sehat berpikir dan bertindak untuk kemajuan bangsa dan negaramu. Di dada Bapak layak disematkan peniti negarawan. Saudagar juru damai dari tanah Bugis. Bapak patut masuk di buku Guinnes Records dan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Wakil Presiden dua kali di dua presiden yang berbeda. (Salehmude, mantan staf ahli staf khusus Wakil Presiden JK, 2004-2008.)

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password