Bunga 2,5 Persen, Yusran : Jadi Apa Yang Harus Diragukan Lagi?

Yusran Aspar, Bupati Penajam Paser Utara tandatangani nota kesepakatan bersama, antara Pemkab PPU dengan Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ibadurahman. (foto:hms)

 

DETAKKaltim.Com, PENAJAM : Yusran Aspar, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) menandatangani nota kesepakatan bersama, antara Pemkab PPU dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Ibadurahman, tentang program peningkatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan insfrastruktur desa melalui pinjaman dan pembiayaan modal usaha, dengan pola dana bergulir. Bunga hanya 2,5 persen.

Sementara kerja sama kredit insfrastruktur dan permodalan usaha desa dengan Bank BRI ini digagas, di mana pemerintah daerah menyimpan dana pada Giro BRI dan memperoleh bunga 1 persen  dari bunga pinjaman yang diberikan BRI kepada masyarakat sebesar 2,5 persen tersebut. Kemudian cicilan pinjaman dibayarkan menggunakan ADD dan dana masing-masing desa yang melakukan pinjaman dengan program utama kredit insfrastruktur dan permodalan usaha desa.

Disebutkan juga dalam perjanjian kerja sama antara Pemkab PPU dengan Bank Ibadurahman meliputi program peningkatan UMKM, program kepemilikan alat pertanian (Alsintan) dan program pelayanan dan pengelolaan tanah dan sarana produksi pertanian padi, jagung dan kedelai (Pajale).

“Dapat dikatakan bunga 2,5 persen tersebut merupakan bunga terkecil di Indonesia yang pernah ada, yang bertujuan untuk peningkatan pembangunan berbagai bidang khususnya di wilayah pedesaan yang ada,“ sebut Yusran Aspar usai penandatanganan kesepakatan tersebut, Kamis (27/4/2017).

Yusran menjelaskan, konsepnya seperti ini. Jika satu desa sedang membutuhkan dana sebesar Rp5 Miliar untuk pembangunan di desanya.  Sementara ADD yang mereka miliki tidak mencukupi. Dalam kondisi tersebut, desa dapat melakukan pinjaman kepada Bank BRI atau Ibadurahman dengan bunga hanya 2,5 persen saja.

“Bunga 2,5 persen tersebut sangat ringan sekali. Kemudian dibayarkan dengan cara dicicil menggunakan ADD dan dana desa yang ada, pastilah sangat mudah. Yang jelas, kami ingin desa membangun percepatan akselerasi dengan cara seperti ini,“ imbuhnya.

Gagasan ini, lanjut Yusran, merupakan hasil pemikiran yang memang patut diperhitungkan oleh daerah manapun khususnya di Kabupaten PPU. Dengan bunga yang sangat kecil, desa dapat melaksanakan pembangunan bagi daerahnya.

“Konsep pembangunan yang benar itu adalah membangun jangan dicicil, namun pinjamanlah yang harusnya dicicil. Kami ingin desa membangun percepatan akselerasi dengan cara sepeti ini,“ terangnya.

Yusran meyakinkan, melalui konsep seperti ini tidak perlu lagi ada tim yang turun ke lapangan atau menurunkan tim apriser untuk melakukan pemantauan. Karena usulan dari desa telah disetujui oleh Badan Perencanaan Desa (BPD), kemudian diakomodir oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMPD ), semua selesai.

“Jadi apa yang harus diragukan lagi, semua alurnya telah jelas dan tidak ada yang sulit dalam melaksanakannya. Karena persoalan insfrastruktur jalan di Kaltim, khususnya wilayah pedesaan  merupakan persoalan nomor satu. Karena insfrastruktur jalan merupakan faktor penunjang utama demi percepatan pembangunan insfrastruktur lainnya,“ tandasnya. (Humas6/LVL)

 

 

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password